Lima Bulan Klopp di Liverpool: Revolusi The Reds yang Tak Semulus Harapan

Alex Hess mengevaluasi petualangan Juergen Klopp setelah 35 pertandingan, dengan timnya kini berusaha mengalahkan rival terberatnya di Eropa...

Liverpool mendekati akhir dari musim yang aneh, musim pertama di bawah manajemen seorang manajer Eropa yang disukai yang meruntuhkan dominasi klub raksasa di negara asalnya.

Ia bisa melihat musim debutnya ini sebagai hasil dari kesalahan manajemen sebelum kedatangannya, termasuk transfer-transfer berharga mahal yang gagal yang membuat pendahulunya dipecat. Skuatnya kini berisi seorang kiper yang kurang solid, beberapa gelandang menjanjikan yang masih butuh polesan, dan seorang playmaker yang aneh dan tak konsisten.

Mereka mencapai final Piala Liga tetapi kalah, dan hasil-hasil di liga yang tak beraturan yang membuat peluang mereka finis di posisi empat besar kecil. Tetapi ada harapan yang besar untuk bisa sukses di Eropa - dengan tempat di Liga Champions sebagai hadiahnya - yang bisa membuat musim ini masuk penilaian sukses. Untuk hal tersebut bisa terjadi, mereka harus mengalahkan rival domestik mereka dalam dua leg.

Semua itu bukan terjadi di tahun 2016, tetapi di 2005. Dan kita semua tahu bagaimana hasil akhirnya.

Kemenangan Liverpool di Liga Champions atas Chelsea bukan sekadar kemenangan biasa - kemenangan itu menjadi landasan dari kesuksesan mereka di Istanbul

Kemenangan Liverpool di Liga Champions atas Chelsea bukan sekadar kemenangan biasa - kemenangan itu menjadi landasan dari kesuksesan mereka di Istanbul dan memberikan harapan besar bagi para suporter bahwa proyek manajer baru mereka pantas mendapatkan dukungan penuh.

Juga meyakini bahwa klub-klub kaya di sepakbola faktanya bisa dijatuhkan oleh tim-tim berkarakter, yang solid, dan mau berjuang. Terdengar familiar?

Kegembiraan singkat

Kali ini, laga besar di babak 16 Europa League yang dijalani The Reds memang tak memiliki efek yang sama seperti di semifinal. Tetapi dengan Liverpool mempersiapkan diri untuk menghadapi Manchester United lagi pada Kamis malam nanti, ada kemiripan pada konteks yang lebih luas.

Dalam lima bulan, ia memberikan cukup identitas sepakbola Klopp di pertandingan-pertandingan besar yang memberikan harapan bahwa ia akan membangun tim yang bisa melebihi kemampuan mereka

Meski hanya sedikit para pendukung di Anfield yang meragukan kemampuan Klopp untuk membangun ulang kapal rusak mereka dalam waktu panjang, kemenangan akan memberikan mereka keyakinan. Juga ada keyakinan kuat bahwa kemenangan dalam dua leg nanti akan memberikan momentum yang mereka butuhkan untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang masih belum meyakinkan namun terlihat menjanjikan.

Untuk memberikan penilaian akhir pada karier Klopp di Liverpool saat ini tentu saja terlalu prematur. Tetapi dengan 35 pertandingan yang sudah dicatatkan, ia telah menunjukkan hasil kerja yang cukup substansial untuk memberikan pembelajaran.

Dalam lima bulan, ia sudah memberikan cukup identitas sepakbola ala Klopp di pertandingan-pertandingan besar yang memberikan harapan bahwa ia akan, dengan waktu yang cukup, membangun sebuah tim yang bisa melebihi kemampuan mereka dan bisa bersaing dengan tim-tim terbaik dan terkaya.

Jurgen Klopp

Bukan selfie seperti yang diharapkan fan yang satu ini

THE STORY SO FAR

Premier League

  • Main 20 Menang 9 Imbang 5 Kalah 6

Europa League

  • Main 6 Menang 3 Imbang 3 Kalah 0

Piala Domestik

  • Main 9 Menang 4 Imbang 3 Kalah 2

Dua kemenangan atas Manchester City dan klub yang bermarkas di Stamford Bridge (dengan agregat 10-2) menunjukkan kemenangan klasik ala Klopp: tim yang lebih kuat dihajar dengan pressing yang menjengkelkan dan serangan yang cepat.

Kemenangan enam gol di tandang melawan Southampton dan Aston Villa menunjukkan pertanda yang lebih jauh bahwa rencana Klopp mulai dijalankan dan hasil yang ditentukan di menit terakhir melawan Arsenal dan Norwich menunjukkan sebuah tim yang telah terinveksi mental manajernya, yang tak mau menyerah begitu saja pada kekalahan.