Mampukah ISC Menyembuhkan Penyakit Akut Sepakbola Indonesia?

Jika tidak ada perubahan, bulan ini (rencananya) akan menjadi bulan pertama digelarnya Indonesia Soccer Championship 2016. Apa yang bisa diberikan oleh kompetisi berformat liga pertama sejak dibubarkannya ISL 2015 ini?

Sepakbola Indonesia bisa dikatakan mati suri sejak pemerintah membekukan PSSI pada bulan April setahun yang lalu. Saat itu, pemerintah menganggap PSSI abai karena tetap mengikutsertakan Surabaya United dan Arema Cronus di kancah Indonesia Super League (ISL) 2015 meski kedua klub tersebut tidak lolos verifikasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

Permasalahan kemudian menjadi semakin besar ketika FIFA, otoritas tertinggi sepakbola dunia, menganggap pemerintah melakukan intervensi. Menurut satuta FIFA, pemerintah seharusnya tidak boleh ikut campur tangan terhadap urusan federasi sepakbola sebuah negara yang bersifat independen. FIFA pun kemudian membekukan Indonesia di kancah sepakbola internasional satu bulan kemudian.

Perlu diketahui, vakumnya sepakbola Indonesia – baik di kancah domestik maupun di kancah internasional – membuat peringkat Indonesia di FIFA anjlok. Per 7 April 2016, Indonesia berada di peringkat 185. Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Brunei Darussalam (195). Bahkan, peringkat Indonesia sekarang kalah dari Timor Leste (175) yang notabene merupakan "muka baru" di kancah persepakbolaan Asia Tenggara.

Turnamen yang bersifat sementara hanya akan membuat sepakbola Indonesia semakin berjalan mundur

Jika di kancah Internasional Indonesia tidak mampu berbuat apa-apa, di kancah domestik, sejumlah pihak – dari pemerintah hingga operator swasta – mencoba menghidupi sepakbola Indonesia dengan sejumlah turnamen. Namun, hal tersebut ternyata tak banyak membantu. Pasalnya, turnamen berbeda dengan kompetisi. Selain kontestannya terbatas, tak ada jenjang dalam sebuah turnamen. Selain itu, turnamen juga berlangsung dalam waktu yang reatif pendek. Masalahnya, semakin minim jam terbang kompetitif yang dimiliki oleh seorang pemain sepakbola semakin besar pula peluang pemain sepakbola untuk mengalami penurunan kualitas. Dan hal ini tentu saja tidak diharapkan terjadi di dalam sepakbola Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) bahkan berikrar bahwa mereka akan menolak untuk mengikuti setiap turnamen yang diadakan. Menurut mereka, turnamen yang bersifat sementara hanya akan membuat sepakbola Indonesia semakin berjalan mundur.

"Kondisi ini membuat kita menjadi pengecut."

"Saya pribadi berpikir kondisi sekarang ini kesannya membuat kita jadi pengecut. Permasalahan ini harusnya bermuara ke perbaikan atau sistem kelola yang lebih baik, tapi ini malah menjadi sebuah kemunduran," kata Bambang Pamugkas, wakil ketua APPI.

Apa yang dikatakan mantan kapten timnas Indonesia tersebut memang masuk akal. Hampir setahun sepakbola Indonesia mati suri, tapi Tim Transisi yang untuk sementara waktu menggantikan peran PSSI belum melakukan perubahan signifikan. Entah karena masalah sepakbola Indonesia yang sangat berakar atau karena kebingungan, tim bentukan pemerintah tersebut malah terkesan membuat sepakbola Indonesia jalan di tempat.

Untuk memperbaiki keadaan, inisiatif kemudian diambil oleh 18 tim ISL. Mereka mendesak PT. Liga untuk membuat kompetisi secara independen. Setelah sempat "duduk bersama" dalam beberapa waktu, PT Liga dan 18 tim ISL tersebut akhirnya memperoleh kesepakatan: mereka akan membuat kompetisi baru  dengan operator baru yang dibentuk oleh klub-klub ISL. Artinya, kompetisi ini bersifat tidak resmi (tidak di bawah naungan PSSI dan Tim Transisi). Kompetisi tersebut kemudian diberi nama Indonesia Super Competition (ISC) dengan PT. Gelora Trisula Semesta (PT. GTS) sebagai operatornya. PT. GTS sendiri mulai aktif bekerja pada tanggal 26 Februari 2016.

Belum ada kepastian apakah ISC akan dapat digelar sesuai dengan jadwal, mengingat ISC masih belum mendapatkan rekomendasi dari BOPI dan Tim Transisi

ISC akan dibagi menjadi dua: ISC A dan ISC B. ISC A beranggotakan 18 klub ISL dan ISC B beranggotakan klub-klub dari Divisi Utama. Rencananya, ISC akan mulai digelar antara tanggal 15 April 2016.

Hingga kini memang belum ada kepastian apakah ISC akan dapat digelar sesuai dengan jadwal, mengingat ISC masih belum mendapatkan rekomendasi dari BOPI dan Tim Transisi. Meski demikian, jika PT GTS mampu berkoordinasi dengan BOPI dan Tim Transisi, pemerintah tidak akan mempersulit izin pelaksanaan ISC. Bahkan, Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan olahraga, siap memberikan lampu hijau bagi berlangsungnya ISC.

ISC sendiri pada bulan Februari lalu berganti nama menjadi Indonesia Soccer Championship dan bukan lagi Indonesia Super Competition. Menurut Djoko Driyono, direktur utama PT. GTS, nama baru dimaksudkan untuk memberikan semangat baru.  

Apakah pelaksanaan ISC mengarah ke perbaikan sepakbola Indonesia? Baca di sini!