Melihat Kembali Karier Messi di Timnas Argentina yang Tak Pernah Berjalan Mulus

Apakah ia benar-benar pensiun dari Albiceleste? Martin Mazur melihat kembali karier internasional ikon Argentina ini

Di Argentina, 20 Juni bukanlah hari libur, tapi merupakan hari yang sangat krusial, karena negara ini merayakan hari dibuatnya bendera negara mereka. Ini disebut dengan Flag Day alias Dia de la Bandera Nacional - begitu pentingnya sampai menggunakan huruf kapital dalam bahasa Spanyol. Hari penting ini diciptakan di Rosario tepat 175 tahun sebelum kelahiran Lionel Messi, tak jauh dari tempat di mana bendera Argentina pertama kali dikibarkan.

11 tahun yang lalu, bahkan orang yang paling optimistis sekalipun tak akan berpikir bahwa bendera dan Messi akan menjadi hal yang hampir sama; bahwa Messi kemudian menjadi 'bendera hidup' bagi tim nasional Argentina, duta besar sepakbola negeri tersebut dan bagian dari identitas negara. Seminggu sebelum Hari Bendera 2016 (ia mendapatkan penampilan ke-100nya untuk timnas di Hari Bendera 2015) Messi mengumumkan bahwa ia tidak lagi ingin bermain untuk tim nasional, setelah Argentina kalah dalam adu penalti yang menyakitkan melawan Cili untuk dua kali secara beruntun.

Namun yang tidak disadari semua orang adalah karier internasional Messi memang bermasalah sejak awal: karier internasionalnya dimulai dengan cara terburuk - dengan sebuah kartu merah setelah ia bermain selama 47 detik.

Lionel Messi debut melawan Hungaria pada 2005

Messi masuk untuk debutnya melawan Hungaria pada 2005

Mengikuti jejak Diego

Hungaria, negara yang sama yang dihadapi Maradona dalam debutnya dengan tim nasional, menjadi titik kedua yang terus menghubungkan kedua pahlawan masa lalu dan masa depan Argentina ini

Beberapa orang yang telah memuja anak ajaib Barcelona ini sejak lama melihat pertandingan persahabatan di Hungaria itu sebagai momen bersejarah.

Mencoba menyama-nyamakan Diego Maradona dengan Messi memang telah menjadi sesuatu yang dilakukan banyak orang selama satu dekade terakhir. Dan momen pertama yang membuat keduanya terlihat mirip terjadi pada turnamen U-20 di tahun 2005 yang dimenangkan Argentina di Belanda, di mana Messi muncul menjadi penentu kemenangan dan pemain terbaik turnamen, seperti yang Diego lakukan di Jepang pada 1979.

Di sana, di Belanda, pembicaraan antara keduanya juga terjadi untuk pertama kalinya. Maradona menelepon manajer tim dan memintanya untuk memberikan telepon kepada Messi. Ketika ia mendengar suaranya, Leo terdiam membeku. "Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan," ungkapnya ketika itu. Jika Messi masih terkejut dengan pengakuan dari fans Argentina atas dirinya, bayangkan bagaimana perasaannya tentang pujian Maradona. 

Hungaria, negara yang sama yang dihadapi Maradona dalam debutnya dengan tim nasional, menjadi titik kedua yang terus menghubungkan kedua pahlawan masa lalu dan masa depan Argentina ini. Maradona masih berusia 16 tahun ketika ia menggantikan Leopoldo Jacinto Luque dan mendapatkan cap pertamanya, di La Bombonera pada 1977, setahun sebelum Piala Dunia. Messi menggantikan Lisandro Lopez saat melawan Hungaria sebulan setelah berusia 18 tahun, di Budapest, pada 2005, setahun sebelum Piala Dunia.

Tapi tiba-tiba, hanya 47 detik kemudian, ia keluar lapangan lagi ketika wasit Markus Merk memberikannya kartu merah yang tidak adil karena dianggap menyikut Vilmos Vanczak.

Itu bukanlah pelanggaran buruk karena ia hanya mengenai tenggorokan saya, jadi saya berpikir ia seharusnya tidak mendapatkan kartu merah langsung

- Hungary's Vilmos Vanczák

"Semua orang menantikan Messi masuk ke lapangan - sudah banyak spekulasi bahwa ia akan melakukan debut internasionalnya dan meski kariernya masih sangat muda, ia sudah banyak masuk berita," kenang Vanczak, yang kini memiliki 79 penampilan di timnas, dalam sebuah wawancara dengan FourFourTwo Hungaria.

"Tak lama setelah ia masuk ke dalam lapangan sebagai pemain pengganti, saya melanggarnya: saya menarik bajunya, tetapi ia diusir wasit karena lengannya mengenai saya. Itu bukanlah pelanggaran berbahaya atau agresif dan sebetulnya juga tidak terlalu buruk karena ia hanya mengenai tenggorokan saya, jadi saya berpikir ia seharusnya tidak mendapatkan kartu merah langsung. Saya cukup menyesal untuknya karena saya yakin ia tidak pernah memimpikan debut seperti ini di sepakbola internasional. Kalau saya tidak salah, ia tidak pernah menerima kartu merah sejak itu," tambah bek FC Sion ini.

Kartu merah itu bagai pukulan telak bagi Argentina. Messi, yang begitu menonjol di Piala Dunia U-20 tak lama sebelumnya, masih seorang remaja yang takut bersuara di ruang ganti. Ia bahkan hanya bergumam dan tak pernah berani melihat mata para pemain veteran. Para pemain yang lebih berpengalaman seperti Gabriel Heinze dan Juan Pablo Sorin pun mendekatinya dan menghibur Leo yang bersedih.

Bahkan Jose Mourinho, yang kelak menjadi seperti musuh besar Messi, mengakui bahwa kartu merah itu berlebihan. "Bahkan kartu kuning pun merupakan sesuatu yang kontroversial, jelas terlihat bahwa ia menggunakan tangannya untuk menjauhi pemain yang menariknya. Kasihan anak itu," kata manajer asal Portugal tersebut, yang beberapa bulan kemudian menuduh Messi melakukan diving setelah pertandingan Liga Champions yang berat di Stamford Bridge.