Memangnya Portugal Pantas Juara Euro 2016?

Final Euro 2016 yang mengejutkan telah berakhir, tapi masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal. Ranaditya Alief menjawabnya...

Akhirnya pagelaran Euro 2016 yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan ditutup dengan kemenangan 1 - 0 Portugal atas tuan rumah Perancis di partai pamungkas. Hasil ini terbilang cukup mengejutkan, mengingat Portugal hanya dijagokan dengan peluang 16/1 di berbagai bursa taruhan sebelum turnamen berlangsung, dan kembali menjadi underdog di final. Keberhasilan Portugal, dan kegagalan Perancis, menyisakan sejumlah pertanyaan di benak saya, dan siapa tahu, juga bagi Anda sebagai pembaca. Berikut usaha saya untuk menjawabnya.

1. Apakah Portugal layak juara?

Tentu saja. Pertanyaan sampah macam apa ini? Next.

Portugal juara Euro 2016

Suka atau tidak, akuilah: Portugal adalah juara Eropa

2. Apakah Portugal lebih baik tanpa Cristiano Ronaldo?

Sepanjang Euro sih, tidak.

Sekalipun Portugal meraih kemenangan di final usai bermain 95 menit tanpa sang Kapten, kontribusi Ronaldo tak terbantahkan di sepanjang turnamen. Dua gol Cristiano saat seri 3 - 3 di laga krusial babak grup melawan Hungaria, serta gol pembuka di semifinal melawan Wales, berperan besar dalam membawa Portugal ke final. 

Buat saya pribadi, yang lebih menarik lagi adalah efek keberadaan Ronaldo yang bak senjata nuklir Korea Utara; belum tentu meledak, namun mengandung bahaya laten yang memaksa musuh untuk mengubah strategi. 

Cristiano Ronaldo

Final Euro 2016 berakhir dalam 25 menit bagi Cristiano Ronaldo

Kroasia bermain lebih konservatif dari biasanya di perdelapan final melawan Portugal untuk menghindari risiko serangan balik cepat Portugal melalui Ronaldo. Begitu juga Perancis yang memainkan Pogba lebih ke dalam sepanjang pertandingan; sebuah kejanggalan mengingat Ronaldo hanya bermain 25 menit sebelum diganti karena cedera.

Mungkin Deschamps takut mendapatkan dua bom molotov berbentuk Nani dan Quaresma selama sisa pertandingan, atau mungkin juga dia bebal. Terlepas dari itu, seharusnya usia Ronaldo yang sudah berkepala tiga memacu Portugal untuk mengembangkan senjata-senjata baru. Ke depannya, satu batalion rudal balistik lebih efektif dari satu biji rudal nuklir.

3. Apakah kemenangan Portugal bisa membuat sepakbola pragmatis jadi tren?

Tidak, tidak, dan tidak.

Tidak, karena sepakbola pragmatis sudah ada dari zaman sebelum Yunani menggondol Piala Eropa 2004, dan keberhasilan anak-anak asuh Otto Rehhagel saat itu pun tidak membuat sepakbola bertahan jadi tren yang diikuti banyak tim lain keesokan harinya.

Tidak, karena kiblat taktikal sepakbola masa kini, medan pertempuran pelatih-pelatih terbaik dunia saat ini, ada di kompetisi klub Eropa. Dan dari semua liga papan atas, hanya Leicester di Premier League Inggris yang rata-rata penguasaan bolanya di bawah 50 persen. Itu pun karena strategi mereka terkait erat dengan tipe pemain yang mereka miliki.

Tidak, karena sejatinya Portugal sendiri juga tidak pragmatis-pragmatis amat. Barangkali generalisasi tersebut muncul karena Portugal, seperti saat Italia mengalahkan Spanyol, menang melawan tim yang terkenal mendominasi penguasaan bola. Sama seperti Italia yang sebenarnya jauh lebih dominan di babak pertama melawan Spanyol, di fase tertentu Portugal justru lebih menyerang. Di perpanjangan waktu dalam laga final semalam, misalnya, Portugal tercatat hampir mengimbangi jumlah umpan Perancis dan lebih banyak melakukan tembakan - termasuk yang berujung pada gol kemenangan dari Eder.