Mengapa Evan Dimas Membutuhkan Rekan yang Lebih Baik di Lini Tengah Timnas

Evan Dimas kembali memberikan performa yang sangat bagus di lini tengah timnas Indonesia saat menghadapi Vietnam, tetapi menurut ekkyrezky, ia membutuhkan partner yang lebih baik. Mengapa?

Hasil positif kembali diraih timnas Indonesia jelang AFF Suzuki Cup 2016. Menghadapi tim kuat Vietnam di Stadion Maguwoharjo, Sleman (9/10/2016), Merah Putih memaksa pertandingan berakhir imbang 2-2 meski tertinggal dua gol terlebih dahulu. Ini adalah hasil yang cukup positif mengingat Indonesia berhasil menang tiga gol tanpa balas atas Malaysia pada September lalu.

Padahal menjelang pertandingan, ada kabar yang mungkin bisa menyiutkan nyali: pada pertengahan pekan lalu, Vietnam berhasil membantai Korea Utara dengan skor telak 5-2 dalam laga uji coba. Harus diakui bahwa Vietnam memang sudah selangkah di depan Indonesia, tapi keberhasilan mereka mengalahkan Korea Utara, yang pernah bermain di Piala Dunia 2010 lalu, adalah hal berbeda yang membuat kita patut ekstra waspada saat menghadapi The Golden Stars.

Ketakutan itu seakan jadi kenyataan ketika Vietnam bisa mencetak dua gol cepat di awal pertandingan. Anggapan bahwa Indonesia tak punya mental yang cukup bagus memunculkan ketakutan lainnya: mungkin kita tak akan bisa bangkit dari ketertinggalan dua gol itu, dan malah kebobolan lagi di sisa pertandingan. Untungnya, anggapan itu tak terbukti.

Harus diakui bahwa Indonesia menunjukkan mental yang jauh lebih baik dengan terus berjuang mencari gol penyeimbang. Tendangan bebas Zulham Zamrun yang pantas untuk dibicarakan terus menerus jelas mengangkat semangat Boaz Solossa dkk. Dan terbukti, daya juang luar biasa Andik Vermansah di sisi kanan lapangan satu menit kemudian berbuah gol penyeimbang dari kaki Irfan Bachdim, yang lolos dari offside berkat kesalahan satu pemain belakang Vietnam.

Meski bisa menghitung hasil ini sebagai sebuah kesuksesan, fakta bahwa Andritany Adhiyasa kebobolan dua gol semestinya menjadi pelajaran penting bagi Alfred Riedl ke depannya. Bahwa lini belakang timnas harus diperbaiki, itu tak terbantahkan lagi - tapi di sisi lain, ada sektor lain yang juga perlu diperhatikan menjelang turnamen sesungguhnya pada akhir November nanti.

Ini bukan cuma kesalahan barisan pertahanan. Gelandang sampai striker juga punya tanggung jawab bertahan. Ini tidak terlihat di 20 menit pertama.

- Alfred Riedl

Coach Riedl pun mengakuinya ketika membicarakan gol cepat Vietnam, "Ini bukan cuma kesalahan barisan pertahanan. Gelandang sampai striker juga punya tanggung jawab bertahan. Ini tidak terlihat di 20 menit pertama."

Gol pertama yang tercipta lewat tendangan Le Van Thang dari luar kotak penalti semestinya tidak perlu terjadi jika ada perlindungan yang memadai dari lini tengah. Perlu diingat, gol tersebut tercipta setelah sebuah serangan yang gagal di dalam kotak penalti Indonesia membuat bola dibuang ke luar kotak penalti, tapi tak ada pemain Indonesia yang menerima bola itu. Pemain Vietnam bernomor punggung 19 tersebutlah yang menerima bola, dan langsung melepaskan tendangan terarah ke sudut gawang.

Evan membutuhkan kebebasan untuk menjadi kreator peluang bagi timnas Indonesia

Lowongnya area di depan kotak penalti Indonesia ketika Vietnam menyerang patut menjadi pertanyaan: mengapa tidak ada pemain yang berjaga di sana? Itu adalah area yang semestinya diisi oleh gelandang bertahan, tapi Dedi Kusnandar ataupun Evan Dimas yang mengisi dua posisi di sentral lini tengah tak ada di posisinya ketika bola dibuang.

Mengingat Evan adalah gelandang yang bertipe box-to-box dan bukannya gelandang bertahan, ketiadaannya di depan kotak penalti mungkin bisa dimaafkan, tetapi Dedi Kusnandar sebagai duet Evan semestinya lebih sigap dengan posisinya. 

Perlu dicatat bahwa di sepanjang pertandingan pun penampilan Dedi tak istimewa meski tak juga mengecewakan. Meski demikian, anggapan bahwa Dedi bukan duet ideal bagi Evan Dimas di lini tengah Indonesia sulit untuk diusir. Mengingat Evan bukanlah tipe pemain yang memiliki aspek defensif yang bagus, ia membutuhkan seorang rekan yang bisa sepenuhnya menjadi cover bagi lini belakang timnas untuk membuat sang wonderkid lebih leluasa berkreasi di area sepertiga akhir lapangan, tapi Dedi tak menunjukkan bahwa ia adalah pemain yang dimaksud.

Dedi Kusnandar belum terlihat cukup bagus untuk sendirian menjadi cover lini belakang timnas

Bayu Pradana yang bermain apik di uji coba pertama melawan Malaysia justru lebih pas bagi Evan. Permainannya yang agresif dan energinya yang luar biasa membuatnya memiliki daya jelajah yang jauh lebih luas daripada Dedi Kusnandar. Aspek tersebut lah yang membuatnya terlihat bisa sendirian menjadi lapisan pertahanan di depan empat pemain belakang, sementara Evan bermain lebih maju untuk menjadi kreator peluang dan pembagi bola di attacking third.

Kehadiran gelandang bertahan seperti Bayu Pradana penting bagi timnas: dengannya, Evan tak perlu khawatir jika harus meninggalkan posisinya untuk maju ke area gelandang serang dan menusuk ke dalam kotak penalti untuk membuat peluang, sebagaimana yang biasa ia lakukan saat masih bersama timnas U-19. Kehadiran Evan di area ini pun penting bagi timnas: pada akhirnya, perlu diakui juga bahwa Evan adalah playmaker terbaik Indonesia saat ini dan membiarkannya mendapatkan kebebasan adalah hal terpenting untuk membuatnya memberikan performa terbaik.

Penampilan apik Bayu Pradana di laga vs Malaysia membuatnya terlihat seperti partner yang pas untuk Evan

Evan adalah playmaker terbaik Indonesia saat ini dan membiarkannya mendapatkan kebebasan adalah hal terpenting untuk membuatnya memberikan performa terbaik.

Lihatlah, misalnya, apa yang terjadi pada Paul Pogba ketika ia tak mendapatkan kebebasan untuk bergerak sesuka hatinya: tak seperti di Juventus di mana ia tak memiliki beban berat untuk ikut bertahan karena timnya memiliki gelandang penghancur seperti Sami Khedira di musim lalu atau Arturo Vidal di musim-musim sebelumnya, ia tak berkutik ketika harus mengisi posisi gelandang bertahan dan tak bisa bergerak bebas untuk maju membantu serangan, seperti yang terjadi di final Euro 2016 atau di beberapa pertandingan Manchester United pada awal musim ini.

Memberikan kebebasan adalah hal terpenting untuk bisa mengeluarkan kemampuan terbaik Pogba, dan kasus Evan Dimas pun hampir sama. Biarkan Evan bergerak bebas, dan ia akan memberikan kualitas terbaiknya. Dan agar pertahanan Indonesia tetap aman meski satu gelandang tengahnya tak bisa terlalu banyak membantu pertahanan, seorang gelandang bertahan yang berkualitas tinggi dan memiliki cakupan wilayah yang luas adalah satu hal yang sangat diperlukan.

Bayu Pradana mungkin bisa melakukan pekerjaan itu, tapi dengan masih adanya beberapa pertandingan uji coba di depan, tak ada salahnya jika Riedl mencoba pemain lain yang bisa mengisi posisi ini. Dan ini akan menjadi salah satu tugas besar Riedl jelang AFF Suzuki Cup nanti.

Feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID