Mengapa Manajer Top Mau Berkumpul di Premier League Musim Depan?

Kasta tertinggi di Inggris siap dibanjiri manajer-manajer hebat musim depan, meski pemain-pemain terbaik nya justru memilih pindah ke Spanyol atau Jerman. Alex Hess mencoba menganalisis fenomena yang terlihat bertolak belakang ini...

Saat Anda berpikir bahwa standar sepakbola Inggris saat ini sedang menyentuh titik terendah semenjak bertahun-tahun, muncul sebuah gelombang kedatangan yang menunjukkan fakta sebaliknya. Atau jika ingin melihat dari sisi yang berbeda: Jika saat ini Liga Premier Inggris sedang terperosok, maka kepala-kepala terbaik di sepakbola sepertinya tidak menyadari hal ini.

Jika segalanya berjalan mulus di Tyneside, musim depan kita bisa menyaksikan Rafa Benitez, Pep Guardiola, dan Jurgen Klopp menjadi manajer di kasta tertinggi Inggris. Kabarnya, mereka juga akan disusul Antonio Conte, yang sudah mengumumkan bahwa ia akan mundur sebagai bos timnas Italia setelah Euro 2016 nanti, membuka jalan lebar untuk ke Chelsea. Dan jangan lupakan juga seorang pembuat masalah dari Portugal, yang semakin sering dibicarakan terus mendekat ke bangku manajer di Old Trafford.

Louis van Gaal dan Jose Mourinho, penerusnya di Manchester United?

Ini adalah manajer-manajer dengan level luar biasa. Dari sisi Liga Champions saja, nama-nama ini sudah mengumpulan enam medali kemenangan. Jika ditambah dengan prestasi di level domestik, maka angka ini akan berada di sekitar dua lusin. Waktu yang menjanjikan, artinya, untuk sepakbola Inggris.

Kepergian Para Pemain

Kedatangan para manajer kelas atas di Inggris ini bertolak belakang dengan para pemain, yang terlihat seperti sudah tidak sabar untuk menyelamatkan diri dari Liga Inggris begitu menyentuh level pemain elit dunia

Tapi kenyataannya tentu saja tidak begitu. Nama-nama ini mungkin sangat familiar dengan kemenangan, tapi mereka bergabung dengan tim yang sedang dalam kondisi yang buruk. Di Liverpool, Newcastle, Chelsea, dan dua klub Manchester, tugas pertama para bos baru ini adalah untuk membalikkan keadaan dari prestasi menyedihkan dan di bawah ekspektasi mereka. Lebih hebatnya lagi, ada peluang semua manajer dari lima nama ini akan absen di Liga Champions musim depan.

Kedatangan para manajer kelas atas di Inggris ini bertolak belakang dengan para pemain, yang terlihat seperti sudah tidak sabar untuk menyelamatkan diri dari Liga Inggris begitu menyentuh level pemain elit dunia: Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Xabi Alonso, Luis Suarez, dan Javier Mascherano sudah menunjukan bahwa mereka menyadari kaca yang rapuh saat melihatnya. Sebelum mereka, ada David Beckham, Michael Owen, dan Thierry Henry yang menyeberang ke luar.

Bale menyeberang ke Spanyol pada tahun 2013

Tren semacam ini tidak bisa lebih jelas lagi: pemain-pemain terbaik dunia tidak merasa sepakbola Inggris cukup bagus untuk mereka. Dan penilaian ini cukup terbukti saat tim-tim terbaik Eropa saling berhadapan. Setelah Arsenal resmi terbuang di Nou Camp, maka tiga dari empat waki Inggris di Liga Champions musim ini sudah gugur –dan gugur dengan menyedihkan- dari turnamen pembuktian di Eropa ini. Semenjak 2010, Inggris hanya menyediakan dua finalis di kompetisi ini. Jerman dan Spanyol sama-sama menyumbang empat tim, dan momentum saat ini tampak jelas hanya mengarah ke satu sisi saja.