Mengapa Marcus Rashford adalah False 9 Ideal Manchester United

Ryan Baldi secara detail menjelaskan mengapa Setan Merah harus mengganti taktik untuk mengeluarkan potensi terbaik penyerang mudanya...

Dalam beberapa pekan terakhir, Manchester United tampaknya telah menemukan semangat dalam sistem penyerangan mereka yang hilang di sepanjang musim ini. Gaya permainan yang memanfaatkan pos sayap dan serangan balik cepat – yang hilang sejak pensiunnya Sir Alex Ferguson – sempat terlihat kembali di bawah Louis van Gaal.

Dan sejumlah gol pun berdatangan: empat gol saat menghadapi klub League One, Shrewsbury Town dalam lanjutan FA Cup, lima gol saat melawan FC Midtjylland di Old Trafford pada leg kedua babak perdelapan-final Europa League, dan tiga gol ketika menjungkalkan Arsenal di laga penuh drama di Old Trafford.

Mereka terus mengalir sampai pada kemenangan tipis 1-0 atas Watford di kandang dan juga kekalahan dari West Brom dengan skor yang sama. Lagi-lagi, tunas muda kembali diinjak-injak oleh kekalahan. Ini menjadi sebuah cerita yang akrab untuk United dibawah arahan Van Gaal: satu langkah maju, dua langkah mundur.

Komitmen untuk menyerang, bermain hingga di garis terdepan dan menghibur, itulah syarat minimum yang selama ini dilihat oleh seluruh penggemar United kepada tim mereka. Kegagalan Van Gaal dalam mematuhi prinsip tersebut dalam 18 bulan sejak diangkat menjadi manajer tim mengikis simpati para penghuni Old Trafford. Banyak yang merasa bahwa tactician berpengalaman asal Belanda ini masih aman/diberi kesempatan karena beritikad baik dengan melanjutkan tradisi lama United, yakni memanfaatkan pemain muda lulusan akademi.

Bintang remaja

Dalam diri pemain 18 tahun Marcus Rashford, bocah ajaib terbaru dari Carrington, dia memiliki pemain yang sempurna untuk mengisi peran tersebut

Jika Van Gaal berharap untuk melihat musim ketiganya di Manchester, dia harus melakukan sesuatu yang jauh dari ke hati-hatian, filosofi menjaga bola dan keluar menyerang menyerang. Membangun sistem false nine mungkin akan menjadi solusi terbaik - dan dalam diri pemain 18 tahun Marcus Rashford, bocah ajaib terbaru yang dikeluarkan oleh Carrington, dia memiliki pemain yang sempurna untuk mengisi peran tersebut.

Konsep false nine sebenarnya sudah diterapkan sejak akhir tahun 1940an, kemudian diperkenalkan secara luas oleh tim nasional Hungaria yang terkenal ketika mengalahkan tim nasional Inggris dengan skor 6-3 di Wembley pada bulan November tahun 1953. Nandor Hidegkuti dengan baik melakukan tugasnya pada hari tersebut dalam hal yang kemudian terkenal sebagai posisi ‘penyerang tengah yang ditarik ke belakang’, bersama dengan Ferenc Puskas dan Sandor Kocsis di sisi yang lain sebagai penyerang dalam (inside forward). "Penyerang tengah semakin mengalami kesulitan dengan penjagaan ketat yang mencekiknya," kata Hidegkuti saat menjelaskan secara rinci mengenai perannya itu. "Jadi, muncul ide untuk bermain sebagai pemain No. 9 lebih dalam di mana terdapat sejumlah ruang disana."

United's strikers

Opsi penyerang United kini lebih kuat dengan kemunculan Rashford

Taktik itu bekerja dengan baik dan menghasilkan efek yang mengesankan, dengan Hidegkuti mampu menggondol hat-trick ketika berhadapan dengan tim nasional Inggris. "Dia sempurna untuk peran itu," ujar rekan setimnya, Puskas, "dengan duduk di depan lini tengah, membuat umpan-umpan penting, memancing pemain bertahan lawan keluar, dan membuat upaya lari yang fantastis untuk mencetak gol bagi dirinya sendiri."

Messi sebagai contoh

Lionel Messi mungkin lebih terkenal dengan peran false nine seiring dengan pemindahan posisi yang dilakukan oleh Pep Guardiola terhadap pemain jenius asal Argentina itu antara tahun 2008 dan 2012.

Awalnya ia dipasang di sebelah kanan dalam sistem tiga pemain depan Barcelona, namun Guardiola mengamati bahwa Messi akan lebih mengancam lawan apabila bermain di sisi tengah, di mana kemampuan dribel dan umpannya akan menciptakan ruang terbuka bagi pemain-pemain seperti Pero dan David Villa. Di waktu yang sama kemampuannya untuk berlari ke daerah penalti akan menciptakan kesempatan yang lebih untuk mencetak gol. Guardiola tentu saja benar.

Johan Cruyff memanfaatkan eks rekan Guardiolla, Michael Laudrup dalam posisi ini sebagai bagian dari 'Dream Team' yang sukses meraih empat gelar La Liga dan Piala Eropa di awal-awal tahun 1990. Luciano Spalletti juga sukses mendapatkan yang terbaik dari Francesco Totti dengan cara yang sama di kesempatan pertamanya menjabat sebagai pelatih AS Roma, dengan pemain Italia tersebut sanggup bergerak lebih ke dalam dan menciptakan peluang bagi rekan-rekannya. Ia juga menikmati periode mencetak gol paling indah dalam karirnya.

Rashford sangat ideal untuk peran ini

Pemain muda United, Rashford, begitu sempurna untuk tampil bersama United dalam peran ini. Meski pada debutnya ia menjadi striker dalam formasi 4-2-3-1, Rashford memiliki pengalaman dengan bermain lebih ke dalam untuk tim akademi Setan Merah.

Pemain muda tim nasional Inggris itu telah menunjukkan kemampuannya bermain area yang lebih dalam ketika berhadapan dengan Arsenal dan Watford baru-baru ini. Melawan The Gunners, Rahsford membukukan enam kali operan sukses dari sembilan usaha di area final-third, termasuk sebuah assist kepada Ander Herrera, dan saat menghadapi Watford dia sukses mengoleksi delapan operan sukses dari 14 kali operan yang dibuat, dengan separuhnya kebanyakan dibuat dari jarak yang cukup jauh dari gawangl. 

Atribut kunci lain dari permainan Rashford yang akan melayaninya dengan baik sebagai seorang false nine adalah ketepatan waktu sang pemain untuk berlari ke depan. Itu adalah keahlian kunci yang membantu Messi mencetak lebih dari 70 gol di satu musimnya bersama Barcelona, dan menjadi ciri khas pemain Argentina tersebut; melakukan cut-backs pada full-back atau berada di tempat yang tepat untuk memanfaatkan bola yang tak disapu sempurna atau pantulan bola hasil tendangan rekannya.

Kedua gol Rashford ke gawang Midtjylland pada laga debutnya dicetak dengan cara yang sama, yakni dengan datang dari belakang.

Formasi apa?

Seorang false nine akan memiliki pilihan baik itu berlari ke depan untuk membuka ruang bagi pemain sayap untuk masuk, atau mundur ke belakang untuk menerima bola

Pergantian ke 4-3-3 dengan memanfaatkan false nine pada posisi penyerang tengah akan menguntungkan pemain-pemain seperti Memphis Depay dan Anthony Martial. Ketika keduanya menjadi starter di sisi sayap, insting mereka bermanfaat untuk menerima umpan datar dan melakukan dribel ke jantung pertahanan.

Di bawah sistem 4-2-3-1 yang digunakan saat ini, kemampuan mereka dalam melakukan hal yang telah disebutkan di atas terhambat oleh kehadiran gelandang serang yang sudah mengisi daerah yang ingin digunakan oleh Depay dan Martial. Melawan Watford, Depay sukses melakukan tiga dari tujuh kali usahanya melakukan dribel, dan dirinya bermain terbatas di area luar; Martial sendiri hanya sekali berhasil melakukan dribel sukses dari total empat kali usaha, tiga dribel ke tengah lapangan yang ia lakukan tidak berhasil. 

Seorang false nine akan memiliki pilihan baik itu berlari ke depan untuk membuka ruang bagi pemain sayap untuk masuk, atau mundur ke belakang untuk menerima bola. Apapun yang ia lakukan akan membuat seorang bek tengah tertarik mengikutinya, menciptakan ruang kosong yang bisa dieksploitasi pemain sayap – seperti efek besar yang diberikan oleh David Villa dan Pedro di Barcelona.

Van Gaal tentu saja tak asing dengan sistem seperti ini – formasi 4-3-3 pernah mengantarkannya ke tangga juara Champions League bersama Ajax dan sukses menggondol dua gelar bersama Barcelona. Dirinya bahkan mencoba sesuatu yang sama musim lalu, selama periode tersebut United menampilkan permainan sepakbola terbaik di bawah orang Belanda ini dengan mengalahkan Tottenham, Liverpool dan Manchester City.

Sedikit perbedaan adalah bahwa Van Gaal jarang memberikan penyerangnya fluiditas dari pergerakan yang dibutuhkan untuk mengeksekusi strategi false nine. Kebiasaan lama memang sulit diubah, tapi sifat keras kepala itu harus dipinggirkan untuk memberikan jalan bagi perubahan ini.

Lebih banyak fitur setiap harinya di FFT.com • Artikel lainnya tentang Man United