Mengapa Pesepakbola Indonesia Terlalu Takut Untuk Berkarier di Luar Indonesia?

Apa kendala utama dari permasalahan pesepakbola Indonesia banyak yang tidak berani mengambil keputusan berani untuk berkarir di luar negeri? FourFourTwo Indonesia memiliki jawabannya...

Kegagalan Evan Dimas bermain di Eropa sudah dipastikan dengan pengumuman UE Llagostera, klub divisi dua Spanyol di mana Evan sempat menjalani percobaan, yang menyebutkan mereka tidak mengontrak Evan. Walau disertai dengan kata-kata manis berupa “kami akan terus memantaunya” dan “dia adalah talenta muda dengan masa depan besar”, kita tahu kesimpulannya hanya satu: Evan masih gagal menembus level Eropa, bahkan walau itu ‘hanya’ divisi dua.

Kegagalan Evan membuat jumlah pemain Indonesia yang bermain di luar negeri belum bertambah lagi setelah Stefano Lilipaly kembali bermain di Belanda sementara Ryuji Utomo dikontrak klub Bahrain, Al Najma. Sebagian besar, seperti Irfan Bachdim di Jepang atau Arthur Irawan di Belgia, masih terus kesulitan untuk menembus tim utama. Sejauh ini, baru Andik Vermansyah, yang bermain di Malaysia Super League, yang menjadi tumpuan utama tim. Sementara beberapa pemain yang baru hijrah ke luar negeri pada tahun ini, yaitu Greg Nwakolo (Thailand), Victor Igbonefo (Thailand), dan Dedi Gusmawan (Myanmar) mulai sering dipercaya untuk tampil sebagai starter di kompetisi resmi.

Sejauh ini, jumlah pemain Indonesia yang berkarier secara profesional memang masih bisa dihitung dengan jari. Ada juga memang beberapa pemain yang ‘dititipkan’ di klub Brisbane Roar yang dimiliki oleh Grup Bakrie, tapi sampai saat ini mereka masih belum mampu menembus tim utama dan hanya bermain di kompetisi regional bersama tim junior.

Apa Pentingnya Bermain di Luar Indonesia?

Memangnya apa pentingnya sih bermain di luar negeri?

Pertama, bermain di luar negeri berarti mempelajari gaya permainan yang sangat berbeda dengan yang dianut di Indonesia. Ini bukan hanya penting bagi pemain, tetapi juga tim nasional ke depannya. Spanyol dan Jerman, misalnya, dua juara dunia terakhir, adalah negara yang aktif mengekspor pemain dalam satu dekade terakhir. Bandingkan dengan Inggris yang jarang sekali mempunyai pemain yang bermain di luar, sehingga gaya bermain mereka tak pernah mengalami perkembangan dan mudah saja dibaca lawan-lawannya. Memang ekspor yang berlebihan bisa berimbas buruk – lihat bagaimana Brasil kehilangan identitas jogo bonito mereka karena para pemainnya banyak terpapar sepak bola Eropa yang lebih disiplin posisi dan taktis.

Andik menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang bermain secara reguler di Liga Malaysia bersama Selangor FA

Kedua, jelas karena kompetisi sepak bola banyak negara di dunia ini lebih baik ketimbang Indonesia. Secara kualitas tontonan, Malaysia Super League mungkin kalah dibanding Indonesia Super League, tetapi setidaknya liga mereka berjalan lancar, tanpa ada persoalan seperti di sini. Thai Premier League adalah liga termaju di Asia Tenggara saat ini, dan level sepak bola mereka jelas jauh di atas kita. Hijrah ke sana tentu akan menguntungkan perkembangan pemain-pemain bertalenta yang dimiliki Indonesia, karena adanya kepastian kompetisi dan level kompetisi yang lebih tinggi bisa membuat mereka terus berkembang ketimbang bertahan di Indonesia.

Level kompetisi yang lebih baik akan membuat kualitas seorang pemain lebih baik lagi, dan itu akan bagus bagi perkembangan sang pemain dan nantinya bagi tim nasional Indonesia juga.

Mengapa Pemain-Pemain Indonesia Sulit Bermain di Luar Indonesia?

Sedikitnya jumlah pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri memang menjadi pertanyaan. Ini adalah negara dengan jumlah pemain sepak bola yang cukup besar dan talenta-talenta baru selalu muncul setiap tahun. Mengapa sulit sekali bagi pemain Indonesia untuk berkarier di negara lain?

Pertama, masalah kualitas. Tak bisa dipungkiri, kualitas pemain Indonesia memang tidak sebaik negara-negara yang lebih maju sepak bolanya sepertii Thailand. Ada masalah di kualitas dalam kemampuan-kemampuan dasar pemain-pemain kita, seperti kemampuan dalam mengumpan bola. Ini adalah masalah klasik yang masih belum bisa dibenahi, dan di era ketika kemampuan mengumpan lebih penting daripada menggiring, ini menjadi masalah besar.

Evan Dimas yang berjaya di Indonesia, harus menelan pil pahit karena gagal lolos trial di Spanyol

Kompetisi Indonesia yang belum benar-benar profesional gagal menghasilkan pemain-pemain yang berkualitas internasional. Tekel-tekel kasar, sikap pemain kepada wasit, dan kebiasaan melakukan umpan-umpan jauh menjadi beberapa hal yang diwariskan oleh kompetisi kepada pemain-pemain Indonesia. Hal-hal yang negatif seperti itu memberikan masalah bagi pemain ketika mereka bermain di level internasional, dan membuat klub-klub asing kurang tertarik menggaet pemain Indonesia.

Kedua, adalah masalah dari internal para pemain sendiri: mentalitas. Selain mentalitas bermain, berkarier di luar negeri membutuhkan mentalitas yang berbeda karena seorang pemain harus bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, gaya hidup baru, bahasa baru, dan budaya baru. Bukan satu dua kali kita temukan salah satu alasan yang membuat pemain malas berkarier di luar negeri adalah karena enggan jauh dari keluarga dan lingkungan yang biasa mereka tinggali. Intinya, mereka sulit untuk keluar dari zona nyaman. Dan rasanya, ini masalah yang lebih besar ketimbang kualitas.

Tanpa mentalitas yang kuat untuk mencoba karier yang baru di negara yang baru, seorang pemain akan sulit untuk berkembang dan bermain di negara lain. Sungguh disayangkan melihat pemain-pemain bertalenta yang semestinya mampu menembus level Asia tetapi tak memenuhi potensinya secara keseluruhan karena ketidakmauan untuk memulai karier baru di luar Indonesia. Gagal seperti Evan Dimas adalah satu hal, gagal karena memang tak mau berkarier di luar, padahal mampu, adalah hal lain.

Untuk itulah, saya rasa, Arthur Irawan dan kemauannya untuk berjuang di Eropa agar bisa bermain di level tertinggi sepak bola adalah hal yang patut dipuji. Tentu, ini terlepas dari rumor tidak sedap yang mengiringi kariernya selama di Spanyol dulu, yang sempat ramai di media sosial. Apresiasi juga patut diberikan pada Dedi Gusmawan, yang berani berkarier di Myanmar meski negara tersebut bukanlah negara sepak bola yang populer di Asia Tenggara seperti Thailand. Individu-individu yang berani bertualang seperti keduanya adalah langka, apalagi di dunia sepak bola Indonesia.

Dedi Gusmawan memilih untuk berkarier di Myanmar bersama Zeyashwemye FC, sebuah keputusan yang berani

Apa Yang Harus Dilakukan Agar Lebih Banyak Pemain Indonesia Yang Berkarier di Luar Indonesia?

Revolusi mental, kalau menurut Presiden Jokowi. Walau belakangan dinilai hanya jargon yang kurang penting dan penggunaannya yang sembarang membuat frase itu menjadi banal. Tetapi jika dikaitkan dengan isu yang sedang kita bahas ini, maka revolusi mental pemain Indonesia memang hal yang diperlukan agar semakin banyak pemain Indonesia yang bermain di luar negeri.

Bagaimana seorang pemain bisa keluar dari zona nyamannya, itulah tantangannya. Masalahnya, mentalitas bukanlah sesuatu yang bisa dibentuk secara instan, dan hanya bisa diubah oleh diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya.

Irfan Bachdim sukses menjadi satu-satunya pemain ASEAN yang bermain di liga Jepang

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kualitas pemain. Harus diakui, memang tak banyak pemain yang mempunyai kualitas permainan yang bisa menembus level Asia, seperti Evan Dimas dan Boas Solossa. Karena itu, menghasilkan pemain-pemain bertalenta selevel kedua pemain tersebut adalah hal yang penting di masa depan agar lebih banyak lagi pemain Indonesia yang bisa go international. Tak perlu muluk-muluk mencari pemain dengan kemampuan seperti Lionel Messi – mencari pemain dengan kemampuan umpan yang akurat seperti Evan Dimas malah jauh lebih penting sebetulnya.

Kemudian, penting juga menyasar pasar yang tepat untuk pemain-pemain Indonesia. Akui saja, sepak bola level Eropa memang masih sangat jauh dari jangkauan Indonesia. Tak perlu menargetkan bisa bermain di divisi teratas liga-liga top Eropa, pemain Indonesia yang tertarik untuk bermain di luar negeri semestinya memasang target yang realistis terlebih dahulu: menembus liga top Asia. Mengikuti jejak Irfan Bachdim ke Jepang atau, setidaknya, bermain di Thai Premier League seperti Sergio van Dijk dan Greg Nwakolo bisa menjadi pilihan. Liga Thailand, harus diakui, merupakan liga termaju di Asia Tenggara saat ini, dan bagi pemain Indonesia, bisa menjadi pemain utama di sana saja seharusnya menjadi prestasi tersendiri dan bagus bagi perkembangan mereka sebagai individu pemain.

Kesimpulan

Yang jelas, tak perlu muluk-muluk. Asia merupakan target yang paling realistis saat ini, dan setelah sukses di Asia, barulah pemain-pemain Indonesia bisa menargetkan tampil di Eropa. Tetapi yang lebih penting dari itu, adalah memupukkan keyakinan bahwa pemain-pemain Indonesia sebetulnya bisa bersaing di negara-negara lain yang lebih maju sepak bolanya.