Mengapa PSG Mungkin Tak Akan Sukses Bersama Unai Emery

Paris Saint-Germain bukan Sevilla FC. Dengan sendirinya ini menghadirkan tantangan baru untuk Unai Emery. Namun Jika ia terhitung gagal di klub barunya, maka kesalahan ada pada pemain-pemain PSG, tulis Taufik Nur Shiddiq...

Salah satu pertanyaan terbesar yang muncul menyoal kepindahan Unai Emery ke Paris Saint-Germain adalah, “Apakah Emery akan kagok karena harus memimpin bintang-bintang berharga mahal?” Pertanyaan yang wajar karena dari semua klub yang pernah ia tangani – Lorca Deportiva, UD Almería, Valencia, Spartak Moskwa (Emery pernah melatih Spartak Moskwa, percaya tidak percaya), dan Sevilla – tidak ada yang sebesar PSG. Besar dalam artian tidak memiliki masalah keuangan dan berisi pemain-pemain dengan bayaran sangat mahal, tentu saja. Menangani pemain kelas dunia bukan hal baru bagi Emery, namun menangani pemain dengan bayaran selangit adalah perkara berbeda.

David Villa, David Silva, Juan Mata, dan Ivan Rakitić (serta yang sedikit di bawah mereka tapi terhitung sangat baik: Kévin Gameiro, Carlos Bacca, Aleix Vidal, Alberto Moreno, Álvaro Negredo, Jesús Navas, Geoffrey Kondogbia, Joaquín, Raúl Albiol, dan Éver Banega) adalah beberapa pemain bintang yang pernah dipimpin oleh Emery. Tidak kalah kelas dengan Ángel Di María, Thiago Silva, Marco Verratti, Edinson Cavani, Javier Pastore, Blaise Matuidi, dan David Luiz, bukan? Persoalannya bukan menangani pemain bintang, namun menangani pemain-pemain bergaji tinggi. Pemain-pemain bergaji tinggi, bukan bintang-bintang bergaji tinggi karena di PSG, bahkan yang bukan bintang pun bergaji tinggi.

Kesuksesan Emery sepanjang kariernya sebagai pelatih, selain bergantung kepada kualitas yang ia miliki, juga bergantung kepada kemauan para pemainnya untuk bekerja keras. Emery tidak butuh pemain bintang; semua pemain yang disebutkan di atas, dari Villa hingga Banega, adalah pemain yang pergi meninggalkannya. Valencia selalu lolos ke Liga Champions bersama Emery dan Sevilla bisa menjuarai tiga Europa League secara beruntun adalah karena Emery memang pelatih hebat. Bagaimana Emery lebih sukses di Sevilla ketimbang Valencia adalah karena para pemain Sevilla tidak lebih besar dari Valencia.

Bagaimana Emery lebih sukses di Sevilla ketimbang Valencia adalah karena para pemain Sevilla tidak lebih besar dari Valencia

Emery adalah pekerja keras yang seluruh hidupnya, bahkan ketika ia tidur, adalah untuk sepakbola. Dan ia meminta kerja keras yang sama dari para pemainnya dalam pertandingan, dalam latihan, dan ketika mereka sedang beristirahat. Pekerjaan rumah adalah risiko dari menjadi pemain Emery. Para pemain Sevilla mengerjakannya sementara para pemain Valencia tidak, itu bedanya.

Unai Emery, Sevilla

Unai Emery selalu menuntut banyak hal dari para pemainnya

Flash drive kosong

Seperti Pep Guardiola, Marcelo Bielsa, dan pelatih-pelatih kelas dunia lain yang mengedepankan detil dalam persiapan taktikal, Emery menghabiskan belasan jam dalam sehari untuk menganalisis lawan. Hasil analisis inilah yang kemudian ia pecah ke dalam bagian yang lebih spesifik – penyerang sayap akan mendapat video berisi kecederungan full-back lawan, penyerang tengah mendapat video berisi bek tengah lawan, pemain bertahan mendapat video berisi penyerang lawan – dan ia berikan kepada pemain-pemainnya dalam flash drive untuk mereka tonton di rumah masing-masing.

Hanya menonton, tidak lebih berat dari apa yang Emery kerjakan; namun bahkan menonton pun mereka enggan. Semasa di Valencia, ia curiga beberapa pemain mengabaikan tugasnya sehingga ia memberi flash drive kosong kepada beberapa pemain; esok harinya Emery bertanya apa pendapat sang pemain terhadap video yang ia berikan, dan sang pemain berbicara panjang lebar tentang bagaimana video yang Emery berikan sangat membantu dan ia sudah paham apa yang harus dilakukan untuk mengalahkan lawan.

Para pemain PSG berada di sisi Valencia dalam hal ini. Mereka bergaji tinggi, dan pemain bergaji tinggi biasanya enggan bekerja keras; mereka bekerja keras untuk mendapat gaji tinggi dan masa itu sudah mereka lewati sehingga sekarang mereka tinggal menikmati hasilnya. Mereka punya banyak uang dan tinggal di kota yang dijadikan tujuan berlibur jutaan orang di dunia; untuk apa menghabiskan waktu di luar pertandingan dan latihan untuk mengurusi sepakbola? Bahkan tanpa pekerjaan rumah dari Emery pun, ada kerja keras lain yang rasanya akan enggan mereka jalani.

Unai Emery, PSG

Unai Emery akhirnya akan memimpin klub besar. Apakah ia bisa menghadapi tantangan baru ini?

PSG (sejatinya) tak istimewa

Tanpa merendahkan Laurent Blanc, PSG empat kali menjuarai Ligue 1 dalam empat musim terakhir bukan karena taktik yang istimewa, namun karena secara kualitas mereka berada jauh di atas klub-klub lain, bahkan AS Monaco, Olympique Lyonnais, dan Olympique de Marseille sekalipun. Taktik PSG sangat kuno: pemain bertahan ya bertahan, gelandang mengumpan, dan penyerang menyerang. Itu-itu saja, begitu-begitu saja. Emery seorang perfeksionis yang tidak mau timnya hanya menang, tapi menang dengan caranya. Dengan kata lain, latihan dan pertandingan akan lebih berat dan lebih kompleks dari sebelumnya.

Emery seorang perfeksionis yang tidak mau timnya hanya menang, tapi menang dengan caranya. Dengan kata lain, latihan dan pertandingan akan lebih berat dan lebih kompleks dari sebelumnya

Para pemain PSG akan harus memaksa otot dan otak mereka bekerja maksimal dalam taktik Emery yang mengedepankan pressing dan positioning; menekan lawan sekaligus melancarkan serangan yang tersusun dan terencana, bukan menyerahkan segalanya kepada kemampuan individu siapa-yang-kebetulan-sedang-ada-di mana hanya karena siapa-yang-kebetulan-sedang-ada-di mana lebih baik dari lawannya. Bukan tidak mungkin beberapa pemain akan bertanya, “Jika kita bisa menang dengan bermain santai, kenapa harus begini?” Bukan tidak mungkin Emery akan menjawab, “Karena aku mau tim ini menjuarai Liga Champions seperti Sevilla menjuarai Europa League!”

Unai Emery

PSG pasti berharap Unai Emery bisa segera mencium trofi Liga Champions

Lihatlah PSG bersama Blanc: dominan di Prancis, tapi begitu-begitu saja, begitu-begitu lagi, begitu-begitu terus di Liga Champions. Tak ada persoalan di Ligue 1, tak ada ancaman dari Monaco-Lyon-Marseille namun Qatar Sports Investments jelas tidak mengubah PSG menjadi klub terkaya dunia untuk mendominasi liga terkecil di antara lima liga besar Eropa. Kegagalan menjuarai Liga Champions adalah apa yang membuat Blanc akhirnya didepak, dan apa yang membuat Emery akhirnya didekati. Jika dengan Sevilla Emery bisa mendominasi Europa League, sangat logis berpikir ia bisa mendominasi Liga Champions dengan PSG. Ia punya kualitas untuk mencapainya, namun mungkin tidak punya pemain yang tepat untuk itu.

Baca fitur-fitur spesial kami lainnya hanya di sini • Artikel PSG Lainnya