Mengapa Spurs Bisa Menjuarai Premier League Musim Ini

Tottenham Hotspur menunjukkan performa gemilang di tujuh laga awal Premier League musim 2016/17 ini. Anak-anak asuhan Mauricio Pochettino ini bahkan berada di peringkat kedua dan menjadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan. Banyak yang menilai di musim ini mereka akan melebihi pencapaian pada musim lalu. Bergas Agung mengulas jika tanggapan itu benar-benar akan menjadi kenyataan...

Selain kisah dongeng yang begitu mencengangkan dari Leicester City yang mampu meraih gelar juara Premier League musim lalu, salah satu kisah yang membuat banyak pihak cukup kaget adalah bagaimana Tottenham mampu melaju mulus sejak awal musim menjadi salah satu kandidat kuat peraih gelar juara sebelum akhirnya terpeleset di akhir-akhir musim.

Pada musim lalu, langkah Tottenham belum terlihat di empat laga awal karena kala itu mereka tak satu kali pun meraih kemenangan. Namun menginjak pekan kelima, mereka mampu membuktikan konsistensinya dengan mencatatkan 11 laga tak terkalahkan, termasuk enam di antaranya merupakan kemenangan. Posisi mereka di klasemen pun mulai terkatrol naik.

Kemudian pada medio Januari hingga Februari, Tottenham mencatatkan enam kemenangan beruntun yang membuat mereka langsung masuk ke dalam jajaran calon kuat peraih gelar juara. Namun sayang, di empat laga terakhir mereka harus terpeleset karena mencatatkan dua hasil imbang dan dua kekalahan. Mereka pun akhirnya finis di peringkat ketiga dan harus merelakan kembali finis di bawah sang rival sekota, Arsenal.

Manchester City pun tak berdaya di hadapan Spurs

Walau hanya berada di peringkat ketiga, namun fondasi Spurs sebagai salah satu tim kuat di Premier League sudah mulai terlihat. Semenjak ditangani Pochettino, mereka bukan lagi sekadar tim kuda hitam yang di akhir musim hanya mencicipi Europa League atau tiket kualifikasi Liga Champions. Tottenham saat ini menjelma menjadi kekuatan tersendiri yang sudah mampu bersaing untuk merebut gelar Premier League.

Pochettino sendiri memang membangun Spurs dengan fondasi yang jelas hingga musim ini. Di setiap laganya pada musim ini dan bahkan musim lalu, The Lilywhites hampir pasti memakai pola 4-2-3-1. Sejak pada musim 2014/15 lalu mengambil alih kursi pelatih Tottenham, pria Argentina itu pun tak gentar memeragakan permainan menyerang dengan membangun serangan dari lini belakang. Serta yang juga berbahaya adalah bagaimana sistem pressing ketat sejak lini depan sebagai sistem yang dipakai untuk bertahan.

Dalam pola 4-2-3-1 itu, Pochettino biasanya mengandalkan tiga gelandang serang sebagai kunci dalam melakukan serangan. Biasanya ketiga pemain itu banyak bergerak di area halfspace dan kemudian dengan cepat melakukan intimidasi ke arah kotak penalti lawan yang di dalamnya sudah menunggu Harry Kane sebagai sang ujung tombak. Untuk opsi serangan lain kadang eks pelatih Southampton itu menggunakan kecepatan dua bek sayapnya yang kerap maju menyisir sisi lapangan untuk kemudian melepaskan umpan silang.

Son Heung-min mulai menampilkan performa terbaiknya musim ini

Soal bertahan, Pochettino memiliki dua gelandang tengah yang merupakan pemutus serangan pertama lawan di semua area. Karenanya dua pemain yang diposisikan di posisi gelandang tengah ini merupakan pemain yang memiliki fisik dan postur tubuh yang kuat serta bersifat penjelajah. Tak hanya itu, keduanya juga siap untuk mengalirkan bola dari lini belakang ke lini depan dengan sebaik mungkin. Sementara itu duet bek tengah yang biasanya dihuni Toby Alderweireld dan Jan Vertonghen merupakan dua pemain yang kuat dalam duel satu lawan satu di darat maupun udara, serta pintar membaca serangan-serangan lawan.