Mengenang Legenda: Gabriel Batistuta, Penyerang Terbaik Argentina yang Tak Suka Sepakbola

Dalam edisi perdana seri terbaru FourFourTwo, Mengenang Legenda, Taufik Nur Shiddiq mengenang kembali karier Gabriel Omar Batistuta, yang ia lihat sebagai pemain yang masih lebih baik daripada Lionel Messi...

Anda boleh mengenang Gabriel Batistuta sebagai pemenang bersama Roma atau legenda yang berkhianat kepada Fiorentina. Saya lebih suka melihatnya sebagai pemain terbaik yang tidak pernah membela Athletic Bilbao dan seorang pemain yang lebih baik dari Lionel Messi.

Menyoal Batistuta dan Bilbao sebenarnya hanya perkara keberpihakan saja. Saya menyukai kebijakan Bilbao yang mempertahankan identitas mereka dengan hanya memainkan pemain-pemain Basque. Dalam riset untuk tulisan ini saya mendapat informasi bahwa Batistuta memiliki garis keturunan Basque. Mengingat sepanjang kariernya ia bermai untuk tujuh klub dan tidak satu pun di antaranya adalah Athletic Bilbao (Newell’s Old Boys, River Plate, Boca Juniors, Fiorentina, AS Roma, Inter Milan, dan Al-Arabi), bisa jadi Batistuta adalah pemain terbaik yang tidak pernah membela Athletic Bilbao.

“Bisa jadi” karena ada Basque lain yang kualitasnya terhitung kelas dunia dan tidak membela Bilbao. Xabi Alonso juga seorang Basque dan ia, hingga saat ini, belum penah bermain untuk Bilbao. Dalam kasus Alonso hal ini lebih bisa dipahami karena ia memulai kariernya untuk Real Sociedad, rival Bilbao dalam Euskal Derbia – derby Basque.)

Bahasan Batistuta-Bilbao selesai di situ. Mari membahas posisi Batistuta yang berada di atas Messi. Saya sepenuhnya sadar ketika menyebut Batistuta sebagai “seorang pemain yang lebih baik dari Lionel Messi”. Saya sepenuhnya sadar bahwa itu pernyataan pengundang debat, seperti pernyataan-pernyataan lain yang mengandung frasa “lebih baik dari” dan nama “Messi” dalam satu kalimat.

Messi sudah melampaui jumlah gol Batistuta unntuk tim nasional Argentina tahun ini, tepatnya pada gelaran Copa América Centenario. Kembalinya Messi ke tim nasional Argentina setelah memutuskan untuk pensiun karena berkali-kali kalah di final kejuaraan besar membuat Messi akan semakin jauh meninggalkan Batistuta di tempat kedua. Namun saya membicarakan hal spesifik dalam perbandingan antara Batistuta dan Messi di sini.

Catatan golnya memang telah dilampaui Messi, tapi ia tetap bisa dipandang sebagai yang terbaik

Batistuta tidak pernah meninggalkan tim nasional Argentina karena serangkaian kegagalan. Ia tidak bisa menjadikan kegagalan di tim nasional sebagai alasan untuk pensiun karena alasan itu tidak tersedia untuknya; Batistuta adalah pemenang bersama Argentina, lain dengan Messi. Dua kali berturut-turut Batistuta menjuarai Copa América, 1991 dan 1993. Di antara keduanya, ia memenangi trofi Piala Konfederasi. Messi mungkin adalah yang terbaik di dunia dan Batistuta bukan, namun Messi belum pernah juara besama tim nasional Argentina sementara Batisuta berkali-kali melakukannya. Dalam hal ini, spesifik dalam hal ini saja, Batistuta lebih baik dari Messi.

Batistuta tidak pernah meninggalkan tim nasional Argentina karena serangkaian kegagalan. Batistuta adalah pemenang bersama Argentina, lain dengan Messi

Perbandingan yang tidak adil? Baiklah. Bagaimana kalau begini: Batistuta bermain di tiga Piala Dunia dan mencetak sepuluh gol (enam di antaranya adalah dua hattrick yang menjadikan Batistuta sebagai satu-satunya pemain yang bisa mencetak dua hattrick di dua Piala Dunia berbeda – 1994 dan 1998) sementara Messi bermain di jumlah Piala Dunia yang sama namun hanya mencetak lima gol. Di tim nasional, Batistuta jauh lebih berguna ketimbang Messi.

Tidak suka sepak bola

Bukan Diego Maradona yang agung yang membuat Gabriel Batistuta akhirnya menekuni sepak bola. Batistuta, yang aktif di banyak cabang olah raga termasuk bola basket, banting setir ke sepak bola karena terkagum-kagum oleh penampilan Mario Kempes di Piala Dunia 1978 – satu-satunya Piala Dunia di mana kita bisa melihat kegemilangan Kempes, sang one-hit wonder. Sepak bola yang ia tekuni karena Kempes akhirnya menjadi pekerjaannya, namun tak pernah menjadi cintanya.

Pernah, dalam sebuah wawancara untuk sebuah stasiun televisi Argentina, Batistuta berkata, “Saya tidak suka sepak bola, ini hanya pekerjaan saya.” Mengejutkan, namun bukan sebuah kebohongan. Hal ini diiyakan oleh Alessandro Rialti, co-writer Batistuta dalam proses penulisan otobiografinya.

Saya tidak suka sepak bola, ini hanya pekerjaan saya

- Gabriel Batistuta

“Hal penting mengenai Batistuta adalah ia tidak seperti pemain-pemain lain,” ujar Rialti kepada Sunday Times pada 1999. “Ia adalah seorang profesional yang sangat baik namun tidak benar-benar menyukai sepak bola. Begitu ia meninggalkan stadion, ia tidak ingin sepak bola merecoki kehidupannya. Ia seorang pria yang sensitif dan cerdas. Ketika kami menulis buku ini, ia datang ke kantor saya dan selama lima hari penuh berbicara mengenai keluarga dan kehidupannya di Argentina. Namun ketika membicarakan sepak bola dan kariernya, ia menjadi tidak bersemangat. ‘Catatan tentang karierku ada di sana,’ ia berkata, ‘kau bisa lihat sendiri’.”

Batistuta menikmati waktu pensiunnya dengan bermain polo dan golf. Sepakbola? "Hanya pekerjaanku."

Barangkali ke(tidak)cintaannya kepada sepak bola itulah yang membuat Batistuta tidak melihat kedua kakinya sebagai aset berharga. Cedera yang memaksanya pensiun pada 2005 terus mengganggunya bahkan setelah Batistuta tidak bersentuhan dengan sepak bola. Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga Batistuta pernah buang air di ranjang walau toilet hanya berjarak beberapa langkah. Untuk menyudahi rasa sakitnya, Batistuta bahkan pernah meminta seorang dokter untuk mengamputasi kakinya. Untungnya, permintaannya ditolak.

Selanjutnya: perjalanan Batigol menuju gelar scudetto pertamanya dan intrik kepindahannya ke Roma