Mengenang Legenda: Gaizka Mendieta, Gelandang Brilian Spanyol yang Terlupakan

Ia adalah salah satu gelandang terbaik Spanyol di generasinya, namun sayangnya dengan cepat dilupakan karena kepindahannya yang salah ke Italia. Aditya Nugroho mengenang kembali Gaizka Mendieta, dan menjelaskan mengapa bintang yang terlupakan ini tak pantas hanya diingat karena kariernya di Lazio yang begitu buruk...

Kecanggihan pemanduan bakat kesebelasan Athletic Bilbao bukanlah dongeng belaka. Dengan menganut kebijakan yang hanya boleh memainkan pemain keturunan atau kelahiran provinsi Basque saja, maka wajar jika pencarian bakat menjadi hal yang amat esensial bagi kesebelasan ini.

Dari Telmo Zarra, Julen Guerrero hingga Iker Muniain, kesebelasan bercorak merah-putih ini tidak henti-hentinya menemukan dan mendidik pemain-pemain berbakat yang kelak tidak hanya menjadi pemain pilar Athletic, melainkan juga tim nasional Spanyol. Sebagian dari pemain-pemain yang terjaring ini bahkan berasal dari kota Bilbao saja.

Lalu kemudian muncul pertanyaan, mengapa nama Gaizka Mendieta Zabala, yang notabene pria yang lahir di jantung kota Bilbao pada tahun 1974 ini lolos dari pengamatan pemandu bakat Los Leones? Selain Gabriel Omar Batistuta, boleh jadi Mendieta adalah pemain berdarah Basque terbaik yang tidak pernah memperkuat Athletic Bilbao, kesebelasan terbaik di provinsi Basque.

Tidak berseminya hubungan Mendieta dengan Athletic sebetulnya disebabkan terlambatnya ketertarikan Mendieta pada sepak bola yang membuatnya tidak terjaring pemandu bakat Los Leones. Pada usia remaja, ia masih menekuni olahraga lain, yaitu atletik. Mendieta muda memiliki fisik yang kokoh dan kecepatan lari yang menonjol. Ia bahkan sempat memecahkan rekor regional dalam cabang lari.

Terlambatnya ketertarikan Mendieta pada sepak bola yang membuatnya tidak terjaring pemandu bakat Los Leones. Pada usia remaja, ia masih menekuni olahraga lain, yaitu atletik

“Saya baru serius bermain sepak bola saat berusia 14 atau 15 tahun,” ujar Mendieta di kemudian hari. Usia ini sedikit terlambat untuk menekuni sepak bola. Karena tidak dapat menembus Lezama, akademi Athletic, Mendieta pun bergabung dengan Castellon, kesebelasan divisi dua yang berada di kota Valencia.

Berkembang pesat di bawah Ranieri

Minimnya dasar-dasar bermain sepak bola yang dimiliki sempat menjadikan Mendieta sebagai pemain muda yang kurang diperhitungkan. Namun ia memiliki faktor yang tidak banyak dimiliki pemain lain, yaitu kerja keras. Pemain ini kerap datang paling awal dan pulang paling akhir saat latihan. Kerja keras Mendieta mendapatkan perhatian dari staf pelatih Valencia. Ia pun diboyong ke Mestalla pada musim 1992-93. Adalah mendiang pelatih Luis Aragones yang kemudian memberinya kepercayaan untuk memperkuat tim senior Los Che saat usia Mendieta masih 21 tahun.

Permainan Mendieta kemudian meningkat pesat saat kedatangan pelatih Claudio Ranieri tahun 1997. Cap sebagai pemain yang atletis pun perlahan bergeser menjadi pemain yang amat berteknik, elegan dan produktif mencetak gol. Oleh pelatih berjuluk The Tinkerman itu, Mendieta diberikan kebebasan di lapangan tengah. Hasilnya, ia mencetak 10 gol di La Liga pada musim perdana Ranieri tersebut.

Cap sebagai pemain yang atletis pun perlahan bergeser menjadi pemain yang amat berteknik, elegan dan produktif mencetak gol

Salah satu gol terbaik yang diciptakan Mendieta ironisnya terjadi di kampung halaman. Di San Mames, kandang dari Athletic, Mendieta mencetak gol lewat kontrol bola yang apik yang mengecoh dua pemain bertahan Athletic, sebelum menghujamkan bola ke gawang. “Saya hanya dapat membandingkan gol tersebut dengan yang pernah dicetak Maradona,” ujar Ranieri kala itu. Mendieta kemudian diberikan jabatan kapten, lalu tampil sebagai salah satu gelandang muda paling menjanjikan tidak hanya di daratan Spanyol, melainkan Eropa.

Kehadiran Hector Cuper menjadikannya semakin matang. Mendieta juga telah menjelma sebagai gelandang komplet, serba bisa, dan mampu menyerang sekaligus bertahan sama baiknya. Namun ketika ingin memaksimalkan akurasi umpan dan visi permainan Mendieta, Cuper menempatkan pemain yang gemar mengenakan nomor punggung enam ini sebagai gelandang kanan dalam formasi 4-4-2 atau 4-3-3. Di bawah kepemimpinan Mendieta, Valencia yang kala itu diperkuat sejumlah pemain hebat lain seperti Kily Gonzalez dan Claudio Lopez mengejutkan Eropa dengan dua kali beruntun melaju hingga babak final Liga Champions tahun 2000 dan 2001. Mendieta pun terpilih sebagai gelandang terbaik versi UEFA dua tahun berturut-turut. Sayangnya, Valencia takluk dalam dua final melawan Real Madrid dan Bayern Muenchen tersebut.

Di Valencia lah Mendieta mencapai puncak kariernya

Selanjutnya: kepindahan ke Lazio yang merusak karier dan kebangkitannya kembali di Inggris