Mengenang Legenda: Oliver Kahn, Der Titan Penjaga Martabat Tim Nasional Jerman

Tubuhnya tinggi dan besar, tapi ia begitu cekatan dalam melompat untuk menggagalkan peluang lawan. Ia tak pernah berhenti berteriak, dan kharismanya membuat lawan segan. Oliver Kahn adalah penjaga martabat Jerman di periode kemunduran sepakbola mereka, dan Renalto Setiawan mengenangnya...

Dalam gelaran Piala Dunia 1954, Gustav Sebes, pelatih Hongaria, memamerkan topi ajaibnya kepada seluruh penikmat sepakbola. Dari topi ajaib itu keluar manusia-manusia hebat seperti Ferenc Puskas, Nandor Hidegkuti, dan Sandor Kocsis. Sebes dan manusia-manusia hebat itu kemudian memperlihatkan cara bermain sepakbola yang memikat, menggoda, sekaligus mengundang decak kagum. Namun saat suara-suara penuh keyakinan yang mengatakan bahwa Hungaria akan menjadi juara Piala Dunia yang digelar di Swiss tersebut muncul ke atas permukaan, Jerman, yang sempat dihajar 3-8 oleh sihir Puskas dan kompatriotnya di babak penyisihan, justru berhasil keluar sebagai pemenang. Sempat tertinggal dua gol terlebih dahulu, secara heroik Jerman berhasil mengalahkan Hungaria 3-2 di partai final.  Miracle of Bern, cerita tentang kemangan Jerman tersebut, kemudian ditakdirkan untuk mengalahkan cerita tentang kejeniusan Sebes dan manusia-manusia hebat yang keluar dari dalam topi ajaibnya.

Dua dekade kemudian, tepatnya dalam gelaran Piala Dunia 1974, Jerman sekali lagi membuat orang-orang geleng-geleng kepala. Saat itu mereka berhasil mengalahkan Belanda, yang dengan gaya total football-nya sering mempermainkan musuh-musuhnya, dengan skor 2-1 di pertandingan final. Timnas Belanda 1974 tidak hanya pandai memainkan bola; mereka juga pandai memainkan ruang yang tak kasat mata. Seperti para filsuf, isi kepala Johan Cruyff dkk. juga susah dimengerti oleh lawan-lawannya. Dengan pendekatan seperti itu, timnas Belanda 1974 berhasil tampil mendekati kesempurnaan, sampai pada akhirnya Jerman berhasil membuktikan dogma dalam sepakbola bahwa bola itu bulat – apa pun bisa terjadi di dalam sepakbola.

Pasca gelaran Piala Dunia 1974 tersebut keajaiban-keajiban masih sering mengiringi perjalanan Jerman di dalam turnamen-turnamen besar. Ketika Paul Gascoigne, bintang Inggris yang digadang-gadang akan memporak-porandakan lini tengah Jerman di babak semifinal Piala Dunia 1990, menangis tersedu-sedu, sementara Jerman melaju dan untuk ketiga kalinya berhasil mengangkat tinggi-tinggi tropi Piala Dunia ke udara. Dan enam tahun setelah kejadian tersebut, tepatnya dalam gelaran Piala Eropa 1996 di Inggris, Jerman yang dihuni oleh pemain-pemain veteran juga berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan Republik Cheska yang lebih difavoritkan.

Catatan-catatan sejarah Jerman yang seperti itu kemudian membuat mereka dianggap sebagai sebuah tim yang mempunyai mental juara. Seburuk apa pun penampilan Jerman di sebuah turnamen, nyaris tidak ada yang berani mencoret nama mereka sebagai salah satu kandidat kuat juara. Menyoal mentalitas juara yang dimiliki Jerman, Gary Lineker, legenda sepabola Inggris, bahkan pernah mengatakan, "Sepakbola adalah permainan sederhana. Dua puluh dua orang mengejar bola selama sembilan puluh menit, dan pada akhirnya Jerman akan keluar sebagai pemenang."

Meski demikian, pada kenyataannya, Jerman tak selalu seperti itu. Pasca menjadi yang terbaik dalam gelaran Piala Eropa 1996, Jerman seperti kehilangan kehebatannya. Orang-orang mulai lupa bahwa Jerman adalah tim spesialis turnamen ketika dihancurkan Kroasia, 0-3, pada babak perempat-final Piala Dunia 1998. Dua tahun setelahnya Jerman bahkan mengalami nasib yang lebih buruk. Dalam gelaran Piala Eropa 2000 di Belanda dan Belgia, Jerman terpaksa pulang setelah babak penyisihan grup berakhir – kejadian yang kemudian menjadi awal revolusi besar dalam sepakbola Jerman.

"Dalam pergantian milenium sepakbola Jerman menghadapi bencana besar," tulis salah satu media Jerman.

Penampilan mengecewakan timnas Jerman kemudian membuat pemain-pemainnya diserang publik. Mereka dianggap tak pantas mengenakan seragam Jerman. Tradisi hebat Jerman di turnamen besar dirusak oleh ke-medioker-an mereka. Namun di antara banyaknya pemain yang mengenakan seragam Jerman pada masa suram tersebut, ada satu nama yang tetap dihormati dan dipuja publik sepakbola Jerman. Ia adalah Oliver Kahn. Julukannya Der Titan. Selain karena perawakan tubuhnya yang besar dan otot-otot tubuhnya yang menonjol layaknya Hulk, salah satu karakter ikonik Marvel, dia mendapatkan julukan seperti itu karena kehebatannya saat berdiri di depan mistar gawang.  

Tinggi, besar, dan galak. Tak salah jika Kahn dijuluki Der Titan atau sang raksasa.

Di saat pemain-pemain Jerman lainnya tampil lesu di atas lapangan, penampilan gila Kahn sering mendapatkan aplaus panjang. Bagaimana tidak gila, ketika bola yang melaju sekencang peluru menghantam wajahnya, perut, atau tangannya, dia akan mengatakan bahwa itu adalah hal cukup luar biasa untuk dirinya. Selain itu, menghantamkan tubuhnya ke kaki penyerang lawan adalah salah satu cara terbaik untuk untuk menjaga kesehatannya. Kemudian, dengan kegilaannya itu Kahn terus berusaha menjaga martabat timnas Jerman yang mempunyai sejarah besar. Meski tak pernah berhasil kembali membawa timnas Jerman ke puncak tertinggi, setidaknya, Kahn berhasil memberikan kepastian kepada publik sepakbola bahwa Jerman tetaplah salah satu kekuatan besar di peta sepakbola dunia.