Merindukan Timnas Indonesia

Sudah 8 bulan berlalu sejak sanksi FIFA dijatuhkan dan timnas Indonesia dikucilkan. Apakah kamu juga sudah mulai kangen timnas?

Mendukung tim nasional Indonesia sebetulnya merupakan hal yang aneh. Tak berprestasi, tapi toh tetap didukung. Padahal mereka, bisa dikatakan, lebih sering meninggalkan rasa jengkel ketimbang rasa haru atau kepuasan batin karena melihat mereka menang dan membanggakan.

Tetapi mendukung timnas memang sama sekali berbeda dengan mendukung klub favorit kita di Eropa sana. Ada ikatan batin yang menyadarkan kita bahwa mendukung tim nasional Indonesia, dalam kondisi apapun, adalah sebuah keharusan. Ada kesamaan identitas yang membuat dukungan itu selalu mesti diberikan. Apalagi dengan aksesoris nasionalisme yang menggelayuti, yang telah dipasang dalam diri kita sejak sekolah dasar lewat upacara setiap hari Senin itu.

Karenanya, meski ada alasan yang sangat masuk akal kenapa sebagian dari kita mendukung sanksi FIFA (“Ah, timnas Indonesia kan nggak berprestasi. Disanksi atau nggak, gak ada bedanya!”), akhirnya rasa rindu bisa muncul juga setelah berbulan-bulan tak ada pertandingan internasional yang melibatkan timnas. Terutama ketika melihat bagaimana timnas negara-negara tetangga disibukkan dengan kualifikasi Piala Dunia 2018/Piala Asia 2019, sementara kita dikucilkan, tak boleh melakoni pertandingan internasional dalam bentuk apapun.

Memang, sangat kecil kemungkinan Indonesia bisa mengikuti jejak Thailand yang tampil luar biasa di babak kualifikasi. Tapi setidaknya peluang timnas untuk meraih hasil positif karena hasil undian babak grup kualifikasi yang cukup ramah buat kita (Indonesia satu grup dengan Thailand, Vietnam, Irak, dan China Taipei).

Toh, bagian yang paling kita rindukan dari timnas Indonesia bukan soal melihat mereka meraih hasil positif, apalagi melihat mereka berprestasi. Tapi soal menyaksikan mereka bertanding, menghadirkan performa yang membuat kita bersemangat untuk datang ke stadion atau menghidupkan televisi untuk melihat mereka. Juga, tentu saja, soal melihat timeline Twitter ramai lagi dengan twitwar soal timnas (pendukung timnas ‘asli’ vs pendukung timnas ‘karbitan’, konser musik di GBK vs GBK cuma buat sepakbola, pengkritik timnas vs pendukung timnas, dan tema-tema lain yang sudah pernah di-twitwar-kan tapi dibahas lagi dan lagi).

Sudah 8 bulan penuh kita tak merasakan pengalaman-pengalaman tersebut. Rindu pun mungkin mulai terasa. Tapi apa daya, tanda-tanda kalau kita bisa segera melihat timnas kembali ke pentas internasional pun sampai saat ini belum muncul. Masa depan sepakbola Indonesia masih buram. Dan kita masih harus terus menyimpan rasa rindu itu di dada (duh!).

Lalu, dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa kita lakukan?

Hal terbaik, barangkali, hanya mengenang apa-apa yang pernah terjadi di masa lalu. Momen-momen terbaik yang pernah dirasakan oleh timnas. Menghidupkan lagi cerita-cerita indah dulu, juga mitos kalau Indonesia pernah jadi ‘Macan Asia’.

Ini saatnya kita duduk tenang mendengarkan sementara kakek kita mengenang kembali hasil imbang Indonesia dan Uni Soviet di Olimpiade 1956. Atau mungkin saatnya kita melihat lagi cuplikan kemenangan 3-2 timnas U-19 atas Korea Selatan yang ikonik itu di YouTube. Karena tak ada yang bisa kita lakukan selama pihak-pihak yang berseteru terus berkonflik dan ego mereka membuat timnas Indonesia terus dikucilkan di pentas internasional.

BACA JUGA Mengenang Kembali: 10 Momen Terbaik Timnas Indonesia

Lebih banyak fitur setiap harinya di FFT.com