Omar Abdulrahman Pesulap Sederhana Dari UEA

John Duerden percaya bahwa kemunculan Omar Abdulrahman dengan brilian berarti Asia boleh merasa bangga memiliki salah satu playmaker dunia paling menarik dari kawasan mereka.

Para pemain di posisi empat besar dalam daftar 50 pemain terbaik Asia versi FFT telah membuktikan bakat mereka di Piala Dunia, liga-liga top Eropa dan beberapa di antaranya juga pernah berlaga di Champions League. Hal yang sama tidak terjadi untuk pemain di urutan kelima. Tapi, tetap saja tak satu pun bisa membantah bakat spesial Omar Abdulrahman.
 
Piala Asia 2015 pada Januari lalu telah memberikan bukti bahwa dia adalah salah satu dari lima pemain terbaik Asia. Saya menghadiri pertandingan pertama dari turnamen di Canberra. Dalam konferensi pers pra-pertandingan menjelang laga menentukan dengan Qatar, pertanyaan pertama yang didapatkan pelatih UEA, Mahdi Ali, bukan tentang target timnya untuk turnamen ini, tetapi tentang kondisi dan kebugaran dari bintang muda mereka yang baru berumur 23 tahun. Media asing dan orang Australia sama-sama datang untuk melihat Abdulrahman.
 
Dia juga tidak mengecewakan. Dalam apa yang disebut sebagai pertempuran melawan playmaker Khalfan Ibrahim, Omar (atau dipanggil 'Amoory' oleh teman-temannya) tampil hebat. Khalfan memberikan kontribusi pertamanya di dengan satu gol apik di babak pertama.
 
Dalam hitungan detik dari kick off, pemain Al Ain melewati lawan dan mengirimkan umpan bagus ke area permainan Qatar untuk Ali Mabkhout, yang sayangnya tembakannya melebar. Sepanjang pertandingan dia terus menekan, menyerang dan menciptakan peluang untuk rekan-rekannya dan The Whites meraih kemenangan impresif 4-1 atas tim Asia yang tengah bagus-bagusnya.

UEA kembali ke Canberra untuk pertandingan berikutnya. Harus melalui pemeriksaan keamanan, staf kembali bersemangat untuk melihat Abdulrahman beraksi lagi. "Saya tidak tahu banyak tentang sepak bola," kata salah satu staf. "Tapi, saya bahkan bisa melihat pemain ini adalah sesuatu yang istimewa." Sekali lagi, ia meluncur di lapangan Canberra saat UEA meraih kemenangan kedua dari dua laga mereka melawan Bahrain dan mengunci satu tempat di fase gugur dengan satu laga tersisa. Dia membuat semuanya terlihat begitu mudah.
 
"Sepakbola adalah hobi saya dari usia muda," katanya. "Saya selalu ingin menjadi pesepakbola. Saya akan bermain dengan semua saudara-saudara saya, tapi adalah Ahmed dan ayah saya yang merawat saya, memberi saya lebih banyak perhatian dan membantu mengembangkan bakat saya. Bahkan, seluruh keluarga saya mendukung. Mereka sudah menjadi pengaruh terbesar pada karir saya. Saya percaya saya telah mencapai tingkat ini karena doa-doa mereka dan usaha yang saya lakukan."
 
Sebagai seorang anak muda di ibukota Saudi, ia menarik minat dari klub raksasa lokal, Al Hilal, sebelum menuju ke UEA dengan keluarganya. Dia kemudian menandatangani kontrak bersama Al Ain, salah satu klub terkemuka di negara itu, juara Asia pada tahun 2003 dan finalis dua tahun kemudian. Dia menembus tim utama dengan mengawali dari tim junior, baik di level klub dan negara, dan menarik perhatian dengan performa menonjol melawan Uruguay di Old Trafford. Hasilnya, ia mendapatkan ujicoba bersama Manchester City dan kontrak empat-tahun yang, kabarnya, digagalkan oleh aturan ijin kerja di Inggris.
 
Keterkaitannya dengan klub-klub besar Eropa tak pernah berhenti, dan tak satu pun yang klub Eropa mewarnai karirnya. Dia adalah Pemain Terbaik saat UEA memenangkan Piala Teluk 2013 di Bahrain - pesta dua tahunan Asia Barat. Generasi emas Mabkhout, Ahmad Khalil dan Khamis Esmaeel dan lain-lain, mulai bersinar, tapi Abdulrahman adalah permata mahkota.

"Orang-orang telah memberi kami sebutan ini (generasi emas) karena di setiap kejuaraan, kami selalu menghormati negara dan rakyat mereka dan kami merasa seperti kami bisa terus menang. Kenapa tidak? Kami menjaga semangat yang sama ini sebagai sebuah tim. Ini bukan tentang nama-nama besar tapi kerja tim. Itulah yang membuat generasi ini spesial," kata Abdulrahman.
 

Sementara memenangkan Piala Teluk itu bermanfaat, tapi waktunya telah tiba bagi negara dan pemain bintangnya bersinar di panggung yang lebih besar. Piala Asia adalah kesempatan yang sempurna. Meskipun awal yang baik melawan Qatar dan Bahrain, perempat final menghadapi juara bertahan Jepang,  pengumpul poin tertinggi di babak penyisihan grup dan bertekad untuk meraih gelar kelima dalam tujuh turnamen, tampaknya akan menjadi perjalanan terakhir UEA.
 
Pelatih Ali dan timnya mendapatkan lawan yang lebih baik. Namun, setelah 120 menit ketika skor terkunci dalam kedudukan 1-1, tim Asia Barat menang dalam adu penalti dan pemain ini melepaskan tendangan penalti ala panenka yang luar biasa dalam laga terbesar di hidupnya. Untuk menyingkirkan raksasa Asia, Jepang, UEA kemudian berada di fase empat besar.
 
Satu laga semifinal melawan tim tuan rumah yang kemudian menjadi juara, Australia, berjalan timpang dan berakhir dengan kekalahan, tapi turnamen berakhir dengan UEA berada di peringkat ketiga. Jika mereka bisa menjadi juara, hanya akan sedikit yang meragukan Abdulrahman akan dinobatkan sebagai pemain terbaik dari turnamen.
 
Tahap yang lebih besar pasti menanti. "Saya siap untuk itu. Siap untuk menunjukkan bahwa pemain Emirat bisa bermain di liga-liga top, untuk membuat negara dan pemimpin saya yang bangga," katanya.
 
Jika langkah tersebut terwujud, tidak akan yang menghentikan peningkatan Omar Abdulrahman - baik sebagai pemain dan daftar 50 pemain terbaik Asia versi FFT.

Simak yang lain di #FFTAsia50

FourFourTwo 50 Pesepakbola Asia Terbaik bekerjasama dengan Samsung SportsFlow - memberikan Anda liputan olahraga terlengkap dalam satu aplikasi. Unduh dan temukan lebih banyak lagi di www.sportsflow.me