Opini Fans Chelsea: Tak Ada Lagi Rivalitas Berlebihan dengan Liverpool

Menjelang laga akbar antara Chelsea dan Liverpool, Nanda Febriana menuliskan opininya sebagai fan Chelsea tentang pertandingan besar di Premier League Inggris Sabtu dini hari (17/9) nanti...

Tidak ada lagi Frank Lampard vs Steven Gerrard, Jose Mourinho vs Rafael Benitez, atau Jurgen Klopp seperti musim lalu. Rivalitas pahit, sengit, dan panas antar dua suporter tim yang berkembang sejak 2004, terutama setelah semifinal Liga Champions 2005, tidak lagi menjadi atmosfer yang akan mewarnai pertemuan Chelsea dan Liverpool di Stamford Bridge, Sabtu (17/9) dini hari WIB nanti. 

Sebagian suporter Liverpool mungkin akan melihat, andai The Blues berhasil menyarangkan gol ke gawang Simon Mignolet pada akhir pekan nanti, selebrasi urakan Antonio Conte dengan respek yang lebih besar - dan bahkan mungkin ikut merasa terhibur - ketimbang saat mereka menyaksikan aksi heroik menepuk dada atau sinisme satu telunjuk di bibir ala Mourinho. Kedua tim saat ini juga sudah diisi dengan skuat yang sama sekali berbeda dari satu dekade lalu ketika Lampard dan Gerrard masih menjadi jenderal permainan di lini tengah masing-masing tim yang membuat sebagian besar pecinta sepakbola asal Inggris rajin mengikuti voting berulang-ulang tentang siapa yang terbaik di antara mereka dengan antusiasme melebihi voting British Exit, mungkin. Hingga tiba momen ketika suporter dan pandit Manchester United perlu melibatkan diri untuk memasukkan nama Paul Scholes dan polling ini masih belum bisa menyediakan pilihan keempat sampai saat ini karena Arsenal hanya punya Jack Wilshere. 

Jadi pilih mana: Lampard atau Gerrard?

Mengawali musim 2016/17, Chelsea mengumpulkan tiga poin lebih banyak dari Liverpool dengan koleksi 10 poin dari empat laga. Swansea berhasil memutus rekor sempurna The Blues di tiga laga sebelumnya saat berhasil menahan imbang mereka dengan skor 2-2 di Stadion Liberty akhir pekan lalu. Liverpool mengawali musim dengan fluktuasi tajam, menang dengan skor 4-3 atas Arsenal, kalah 0-2 kontra Burnley, imbang 1-1 melawan Tottenham Hotspur, dan menang telak 4-1 atas juara bertahan Leicester City akhir pekan lalu. 

Secara pencapaian pasukan Conte tampak lebih baik ketimbang yang diraih pasukan Klopp, namun kecuali kemenangan telak 3-0 yang diraih The Blues atas Burnley, pelatih asal Italia itu dipaksa menggunakan dua hingga tiga pergantian pemain untuk bisa mendapatkan poin dari lawan-lawannya. Sementara ada situasi pendukung yang membuat Conte agak kesulitan meraih tiga poin dengan sebelas pemain utamanya, di mana minimnya pilihan di sektor belakang membuatnya berhati-hati dalam memilih duet poros ganda. N'Golo Kante dan Nemanja Matic menjadi opsi pertama Conte ketimbang mengganti nama terakhir dengan Cesc Fabregas. Meski pergerakan Eden Hazard di sektor kiri tampak kembali menakutkan, aliran umpan-umpan dari sisi dalam yang berhasil membelah pertahanan lawan menjadi berkurang.

Meski pergerakan Eden Hazard di sektor kiri tampak kembali menakutkan, aliran umpan-umpan dari sisi dalam yang berhasil membelah pertahanan lawan menjadi berkurang.

Fabregas mungkin bisa menjadi jawaban untuk mengembalikan fleksibilitas di lini tengah, hanya saja kemampuan bertahan secara kolektif pemain Spanyol tersebut adalah masalah klasik yang membuatnya tak pernah benar-benar menjadi pilihan utama Conte, pun halnya di timnas Spanyol saat berlaga di putaran final turnamen internasional hingga Xavi memilih pensiun pada 2014. Kualitas Xavi Hernandez dan Andres Iniesta memang sangat luar biasa hingga bisa menimbulkan rasa tidak adil jika Cesc dianggap sebagai pemain yang tidak berkualitas karena gagal menggeser salah satu di antara mereka, tapi ketika kesempatan datang pada Euro 2016, cukup sulit untuk melihat kontribusi pentingnya kecuali satu assist di babak grup. Konsistensi adalah pertanyaan besar lainnya dalam diri Fabregas.

Cesc Fabregas terpinggirkan oleh Antonio Conte musim ini

Cederanya John Terry, yang membuatnya absen setidaknya hingga pekan depan, tentu membuat Conte semakin was-was dengan kondisi lini belakangnya dan itu bisa membawa Matic, yang menawarkan kesolidan meski terlihat monoton, menjalani penampilan kelimanya sebagai starter di lini tengah bersama Kante

Dan, penantiannya untuk menjadi starter di Premier League musim ini bisa jadi kian panjang. Cederanya John Terry, yang membuatnya absen setidaknya hingga pekan depan, tentu membuat Conte semakin was-was dengan kondisi lini belakangnya dan itu bisa membawa Matic, yang menawarkan kesolidan meski terlihat monoton, menjalani penampilan kelimanya sebagai starter di lini tengah bersama Kante. Yang kini menjadi pertanyaan adalah, bagaimana komposisi lini belakang Chelsea menghadapi Liverpool yang menerapkan permainan cepat dan menekan sepanjang laga?

Dua tambahan pemain baru di lini belakang, Marcos Alonso dan David Luiz, menanti kesempatan untuk menjadi 11 pemain utama untuk laga menghadapi The Reds. Sangat mungkin hanya salah satu di antara mereka yang akan turun mengingat keduanya belum terlalu menyatu dengan tim setelah datang di hari tenggat transfer. Opini terpopuler saat ini adalah memasukkan David Luiz untuk beroperasi di jantung pertahanan bersama Gary Cahill. Namun, setelah sedikit menyinggung konsentrasi Luiz yang tidak konsisten dalam konferensi pers sebelum menghadapi Swansea, ditambah dengan desas-desus bahwa incaran utama Chelsea di hari tenggat transfer adalah Angelo Ogbonna dan bukannya Luiz, serta masih adanya upaya untuk merekrut bek yang kini berstatus bebas transfer bernama Martin Caceres, kesan yang terlihat dari Conte saat ini adalah dia terus mencari alternatif baru karena tidak yakin dengan pilihan-pilihan yang dimilikinya saat ini, termasuk Luiz.

Opsi lainnya bisa jadi adalah dengan memainkan Marcos Alonso. Menempatkan pemain asal Italia itu untuk bermain di posisi bek kiri akan memberikan kesempatan pada Cesar Azpilicueta bermain sebagai bek kanan dan menggeser Branislav Ivanovic sebagai bek tengah bersama Gary Cahill. Pilihan yang sama-sama beresiko karena baik Ivanovic, Cahill, dan Luiz secara alami bukanlah bek pembaca serangan dan juga agak lamban. Ini bisa menjadi masalah saat menghadapi Liverpool yang mengandalkan kecepatan dan intensitas tekanan tinggi terhadap lawan, terutama jika Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Phillipe Coutinho berada dalam kondisi terbaiknya.

David Luiz memang dibeli dengan harga mahal, tapi kualitas bertahannya tetap diragukan

Eden Hazard mungkin akan jadi masalah utama bersama Diego Costa bagi pertahanan Liverpool yang sejauh ini sudah kebobolan tujuh gol. Keduanya tampak sudah menemukan level terbaik mereka. Costa juga perlu menerapkan sikap yang sama dengan pertunjukkannya di markas Swansea. Ia berhasil mengendalikan diri dengan lebih baik saat lawan berkali-kali melanggar dirinya tanpa kehilangan ambisi dan sentuhan akurat untuk mencetak gol, kombinasi yang kemudian berbuah dua gol ke gawang tuan rumah.

Bagi suporter Chelsea, kemenangan di laga ini akan menebus rasa sakit dari kekalahan telak 1-3 musim lalu saat The Roman Emperor masih dilatih Jose Mourinho. Rivalitas kedua suporter tim mungkin tidak sepahit musim-musim sebelumnya, tapi kenangan di momen-momen spesial seperti semifinal Liga Champions 2005, 2007, 2008, perempat final 2009, semifinal FA Cup 2006, final 2012, akan terus bersemayam di benak penggemar kedua tim. Semuanya bisa tersulut ke permukaan dan kembali terasa getir jika kedua tim bersaing di jalur juara musim ini, skenario yang menurut saya tak akan terjadi dalam waktu dekat mengingat para pelatih sepertinya dipaksa mengompromikan ide dan konsep mereka dengan komposisi skuat yang mereka miliki saat ini.

Maka, saya akan menikmati laga ini hanya untuk saat ini saja. Tak ada yang perlu dirayakan secara berlebihan jika Chelsea menang, meski itu akhirnya akan membawa The Blues ke puncak klasemen untuk setidaknya selama beberapa saat sebelum melihat dua tim biru lainnya, Manchester City dan Everton, berebut menggulingkan tahta Costa dkk di akhir pekan. Jika gagal menang, tak mengapa masih ada laga selanjutnya. Kalau gagal juara pun, saya akan meminjam jargon suporter Liverpool, 'Masih ada musim depan, musim depan milik kami'.  Jargon langka yang mengusung semangat optimisme ditopang kesabaran yang tak luntur oleh kegagalan lebih dari dua dekade. Saya pikir sulit untuk menjadi pengikut setia jargon ini, alih-alih saya akan menciptakan jargon sendiri, 'Kalau musim depan tak juara, mari berpasrah diri', sambil mengelus dada.

Terlepas dari itu, saya masih akan leluasa mengejek tim manapun yang tertunduk lesu di akhir pertandingan keesokan harinya. Karena hak  asasi suporter untuk melakukan banter tidak ditentukan oleh hasil yang diraih tim kesayangan mereka, bukan begitu?

Feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID