Paulo Sitanggang: Pembeda dari Bangku Cadangan

Status supersub di timnas U-19 Indra Sjafri diembannya. Selalu bisa menjadi pembeda ketika dimasukkan di tengah laga. Nanda Febriana menjelaskan mengapa ia istimewa...

Cerita 60 Detik

Keberhasilan Timnas U-19  melangkah ke putaran final Piala Asia U-19 pada Oktober 2013 mengibarkan sejumlah nama penggawanya ke persepakbolaan nasional. Evan Dimas jelas menjadi pemain yang paling disorot saat itu karena permainan yang menginspirasi dan jabatan kapten tim yang disandangnya.

Menampilkan permainan kolektif di atas rata-rata, di luar nama Evan Dimas banyak pula yang mencuri perhatian. Begitu halnya dengan Paulo Oktavianus Sitanggang, yang meski tak menjadi pilihan utama pelatih Indra Sjafri kala itu, juga menuai pujian karena seringkali menjadi sosok pembeda saat dimasukkan di tengah permainan.

Energi pemuda berdarah Batak ini mampu membentuk permainan yang lebih dinamis untuk timnya. Itulah sebabnya, meski sering hanya menjadi pemain pengganti di awal karirnya bersama Timnas U-19, kehadiran Paulo bisa membawa perubahan yang signifikan.

Dalam Kualifikasi AFC U-19 2014 saat melawan Laos, misalnya. Datang sebagai pemain pengganti dari Mohamad Hargianto di menit ke-43, Indonesia yang saat itu baru unggul 1-0 sukses mengakhiri laga dengan kemenangan 4-0 berkat energi yang mampu diberikannya sebagai gelandang.

Di partai berikutnya kala menghadapi Filipina, Paulo juga memberikan satu assist yang berarti untuk gol yang diciptakan Yabes Roni pada menit ke-85. Indonesia menang 2-0.

Kontribusi sebagai pembeda kembali ditunjukkan pemuda kelahiran Deli Serdang ini pada laga perdana putaran final AFC U-19 melawan Uzbekistan. Paulo masuk pada menit ke-55 untuk menggantikan posisi Zulfiandi dan membuat permainan Garuda Muda menjadi lebih hidup. Sebuah gol dari jarak 30 yard berhasil dilesakkannya untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1. Sayangnya, gol Paulo tak cukup untuk mengangkat moral timnya, Indonesia kembali kebobolan dan akhirnya kalah 3-1.

Permainan Paulo saat itu bahkan langsung menuai pujian dari Paul Okon, pelatih timnas Australia U-19 yang menjadi lawan Indonesia berikutnya. Okon merasa heran dengan keputusan Indra Sjafrie yang tak mempercayakan posisi starter pada Paulo.

Mengapa Anda Harus Mengenalnya

Menembus skuat timnas U-19 bentukan Indra Sjafrie saat itu adalah perkara yang tidak mudah. Pelatih kelahiran 2 Februari 1963 itu memantau sendiri bakat-bakat yang diambilnya untuk dibawanya menuju Jakarta. Permainan memikat hasil tangan dinginnya menunjukkan bahwa ia tak mau sembarangan mempercayakan seorang pemain untuk mendapatkan satu tiket menjadi anggota skuat timnas U-19. Maka, tak mengherankan pula bila pemain yang mampu memberikan kontribusi kongkrit seperti Paulo Sitanggang pun hanya berstatus sebagai pemain cadangan dalam skuat timnas Indonesia untuk Kualifikasi AFC U-19.

Jalan Paulo sendiri untuk menjadi pesepakbola profesional yang dikenal banyak orang seperti saat ini dilaluinya dengan banyak rintangan. Ia mulai merintis karier sepak bola-nya di Sekolah Sepakbola (SSB) Kurnia Medan. Ia melanjutkan pendidikan sepak bola-nya ke SSB yang dipimpin oleh ayahnya sendiri, Maringan Sitanggang, yakni Surya Putra Mariendal Medan.

Pemuda kelahiran 17 Oktober 1995 itu mendapatkan kesempatan emas dalam karirnya saat ia terpilih sebagai salah satu dari 18 pemain muda terbaik hasil seleksi AC Milan Junior Camp pada 2011. Rintangan pertama datang, cedera membatalkan keberangkatkannya ke Italia.

Tekad Paulo tidak patah. Keputusan yang lebih besar malah dibuatnya dengan meninggalkan kota Medan dan hidup berjauhan dari orang tuanya untuk bermain bersama salah satu klub asal Jawa Timur, Jember United. Dari sinilah bakat Paulo terendus Indra Sjafrie yang kemudian mengajaknya bergabung dengan timnas U-19.

Saat ini Paulo masih terikat kontrak bersama Barito Putera hingga 2017. Pada Januari 2016 lalu ia sempat mengutarakan keinginannya untuk menjalani trial bersama klub asal Singapura, Warriors FC.

Vakumnya kompetisi sepakbola nasional membuat Barito Putera tak keberatan untuk melepas pemainnya itu ke Singapura, namun hanya sebagai pemain pinjaman meski Warriors sendiri menginginkan kontrak permanen. 

Sayang, keinginan Paulo untuk melanjutkan karier profesionalnya sebagai pesepak bola di Singapura tak terwujud. Pasalnya, manajemen Warriors FC hingga kini tidak memberi kabar lanjutan ke manajemen Barito.

"Kami sudah mengizinkan Paulo keluar ke Warriors FC dengan status pinjaman, tapi sampai sekarang manajemen klub itu belum membalas surat kami. Padahal, kami sudah memberikan klarifikasi identitas Paulo. Kalau begini sudah dipastikan batal," kata sekretaris Barito Putera, Syarifuddin Ardasa.

Klub berjuluk Laskar Antasari tersebut belum membutuhkan jasa Paulo karena tidak memiliki rencana tampil di turnamen apapun selama kompetisi Indonesia masih vakum. Barito Putera hanya ingin bermain di kompetisi legal yang diakui FIFA.