Pemilihan Jose Mourinho Menunjukkan Manchester United Terbelenggu 'Ketamakan' Sendiri

Ada alasan yang sangat kuat mengapa Manchester United tidak berani mengambil resiko dengan Ryan Giggs, tulis ekkyrezky...

Louis van Gaal akhirnya pergi, dan Jose Mourinho akhirnya (sepertinya) akan menggantikannya. Dalam waktu tiga tahun setelah Sir Alex Ferguson pensiun, Manchester United sudah merasakan tiga manajer (termasuk manajer interim) dan akan menjalani awal yang baru bersama manajer keempat yang sudah sejak lama dikait-kaitkan dengan mereka.

Sudah bukan rahasia lagi memang jika Mourinho sangat menginginkan pekerjaan di Manchester United, salah satu klub paling terkenal, terkaya, dan paling bernilai di seluruh dunia. Rumor soal dirinya telah menantikan pemecatan Louis van Gaal sejak ia dipecat oleh Chelsea pada Desember 2015 lalu sudah terdengar berkali-kali, dan rasanya kabar itu bukan hanya rumor belaka. Fakta bahwa ia masih menganggur hingga saat ini padahal eks klubnya, Real Madrid, sempat memecat manajer mereka juga, yaitu Rafa Benitez, membuktikan kalua Mourinho memang benar-benar menantikan pekerjaan ini.

Sekarang Van Gaal sudah dipastikan pergi, dan Jose Mourinho akan datang. Terlepas dari berapa banyak piala yang akan diberikan oleh Mourinho nantinya, penunjukkan Mourinho sesungguhnya hanya kian membuktikan kalua Manchester United semakin jauh dari identitas mereka yang selama ini dibangga-banggakan: sebagai klub yang tak punya tradisi gonta-ganti manajer. Sesuatu yang selama ini menjadi bahan bagi fans United di manapun juga ketika menjelek-jelekkan klub-klub lain, terutama klub kaya raya seperti Manchester City atau Chelsea.

Sepakbola membosankan Louis van Gaal tak bisa ditoleransi lagi

Tiga manajer dalam tiga tahun adalah bukti awalnya, dan fakta bahwa Mourinho seringkali hanya berumur pendek di sebuah klub tentunya menghadirkan persepsi bahwa sosok yang mengklaim dirinya The Special One ini tak akan berumur panjang di sebuah klub. Karier terpanjangnya di sebuah klub adalah pada era pertamanya di Chelsea, yaitu tiga tahun dan tiga bulan. Ketika ia kembali ke Stamford Bridge dan secara terbuka berniat bertahan lama dan membangun dinastinya (seperti Ferguson di United), ia malah menjalani karier yang jauh lebih pendek: hanya dua tahun dan enam bulan.

Jika Mourinho bisa bertahan sampai empat tahun saja sudah menjadi prestasi baru dalam kariernya, padahal jika membandingkannya dengan 26 tahun karier Ferguson di Manchester United, empat tahun jelas waktu yang tidak terlalu panjang. Meskipun sebetulnya bukan hal yang bijak juga membandingkan Mourinho dengan legenda hidup seperti Sir Alex, karena bagaimanapun, situasi dan kondisi yang akan dihadapi oleh Mourinho dan Sir Alex di awal masa kariernya sangatlah berbeda.

Manchester United sekarang tidak bisa lagi memberi waktu yang panjang bagi seorang manajer untuk membuktikan diri dan membangun tim. Mereka tak bisa lagi mengulangi apa yang mereka lakukan pada Ferguson di awal kariernya

Manchester United sekarang tidak bisa lagi memberi waktu yang panjang bagi seorang manajer untuk membuktikan diri dan membangun tim. Mereka tak bisa lagi mengulangi apa yang mereka lakukan pada Ferguson di awal kariernya: bersabar selama beberapa tahun sampai akhirnya sang manajer bisa membuktikan kapasitasnya dan memberikan trofi bagi timnya.

Mourinho tak akan mendapatkan waktu sampai lebih dari dua tahun untuk mendulang trofi besar. Bahkan, seperti Louis van Gaal, trofi pun sepertinya tak akan menyelamatkannya jika timnya gagal menunjukkan permainan yang bisa menyenangkan hati para fans di seluruh dunia.

Faktor sponsor

Menjadi manajer Manchester United memang bukan pekerjaan mudah: selain dituntut memenangi trofi, manajer juga dituntut untuk memberikan penampilan yang sedap dipandang mata dan terus mempertahankan tradisi United untuk menelurkan pemain-pemain terbaik dari akademi mereka sendiri.

Ini semua adalah bagian dari tradisi United dan manajer dituntut untuk melakukannya agar fans dari seluruh dunia tetap menyukai Manchester United – sebuah klub yang, mereka anggap, tidak ada duanya di Inggris. Dan mengapa fans harus terus merasa puas? Karena sponsor.

Manchester United adalah salah satu klub sepakbola yang menghasilkan uang yang sangat-sangat besar dari kerja sama sponsor. Kerja sama mereka dengan Adidas yang memecahkan rekor adalah salah satu contoh bagaimana klub ini sangat berharga di mata perusahaan-perusahaan besar. Semua perusahaan ingin bekerja sama dengan United, dan alasan utamanya, tentu saja, karena klub ini memiliki basis pendukung yang sangat besar dan sangat tersebar di seluruh dunia.

Bekerja sama dengan United memang bukan kerja sama yang murah, tapi para sponsor ini tahu bahwa produk atau nama merek mereka bisa ikut terkerek popularitas Setan Merah. Imbasnya, jumlah dan jenis sponsor United pun bermacam-macam: dari apparel olahraga sampai minuman kesehatan, dan dari asuransi sampai mie instan!

Sponsor-sponsor ini hanya akan merasa puas jika United bisa memuaskan para pendukungnya di seluruh dunia dengan penampilan mereka di atas lapangan

Sponsor-sponsor ini hanya akan merasa puas jika United bisa memuaskan para pendukungnya di seluruh dunia dengan penampilan mereka di atas lapangan. Pendukung yang tak puas akan menurunkan popularitas klub, dan penurunan popularitas klub bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh para sponsor. Artinya, United harus meningkatkan performa mereka di atas lapangan, agar aliran uang dari sponsor terus mengalir lancar.

Salah satu contoh yang paling nyata adalah ketika CEO Adidas, Herbert Heiner, mengakui bahwa Adidas cukup khawatir dengan permainan di bawah Louis van Gaal yang membosankan.

“Kami puas, meski gaya bermain tim saat ini tidak sesuai dengan yang ingin kami lihat,” katanya.

Meskipun mengakui bahwa penjualan jersey United di atas ekspektasi mereka, tapi jelas ada kekhawatiran yang tersirat dari ucapan Heiner. Imbas dari permainan membosankan (dan kegagalan) United memang tidak akan dirasakan dalam jangka pendek, tetapi jangka panjang. Mengingat Adidas memiliki kerja sama selama 10 tahun dengan nilai £75 juta per musimnya, wajar saja mereka khawatir.

Dan inilah yang pada akhirnya membuat Louis van Gaal tak bisa lagi dipertahankan, meskipun sang meneer akhirnya memberikan sebuah trofi Piala FA dan meskipun ini artinya United harus membayar pesangon yang cukup besar untuk mengakhiri kontrak eks pelatih timnas Belanda dan Barcelona tersebut.