Pertaruhkan Segalanya: Duel sepak bola di Sungai Chao Pharaya

Terkadang Anda musti mempertaruhkan segalanya, ujar Zee Ko, ketika FourFourTwo berkunjung ke Thailand untuk menonton putaran final turnamen Formthep Chaopharaya...

Situasi politik di Thailand bagaikan misteri yang  tak seorang pun mempu meramalkannya sebelumnya, termasuk panitia yang pertama kali mencetuskan ide untuk mengelat turnamen sepak bola di negara itu. Tapi, situasi ini mungkin cocok dengan slogan Nike terbaru yang percaya bahwa turnamen itu pada akhirnya akan terus bergulir dan meraih kesuksesan tiada tara. 

Situasi politik yang memanas membuat kami betul-betul kesulitan untuk berkunjung ke negara ini, namun begitu lampu hijau diberikan, FourFourTwo segera menyiapkan akomodasi dan langsung menerbangkan kami ke Krung Thep, kota yang oleh masyrakat setempat dijuluki sebagai ‘Kota Malaikat’, atau yang sering disebut orang asing dengan nama Bangkok. 

Penerbangan berjalan lancar, saat kami melintasi awan demi sebuah petualangan misterius, sebagai penjelajah sepak bola nekat yang rela mempertaruhkan nyawa dan tubuh demi meraih tujuan itu.

Tautan 

Hari 1: Partai Sepak Bola Nike

Hari 2: Partai Final Formthep Chaophraya

Hari 1: Partai  Sepak Bola Nike

Semuanya terlihat normal kala kami mendarat di bandara Suvarnabhumi, hanya sedikit lebih ramai dari biasanya. Bahkan, para supir taksi memarkir taksi mereka dalam satu barisan rapi di luar sembari menunggu penumpang.

Tak ada penghalang  jalan atau sejenisnya yang terlihat, dan sejauh ini tak ada rintangan apa pun yang kami temui. Agenda pertama adalah menghadiri pesta Sepak Bola Nike di Yuthapoom Formthep, sebuah tongkang apung yang akan menjamu putaran final turnamen tersebut. Kapal sepanjang 100 meter itu telah ditambatkan di dermaga Asiatic seminggu sebelumnya, dan pesta malam ini hanya ditujukan untuk tamu undangan saja seiring dengan arena apung pertama sepak bola Thailand yang tengah bersiap untuk menjamu ajang sepak bola terakbar di atas Sungai Chao Pharaya tahun ini. 

Cuaca terlihat cerah, bahkan sempurna saat kami  melangkahkan kaki naik ke kapal. Kami bisa mendengar gemerlapnya pesta bahkan sebelum melihatnya, ingar bingar semarak yang diikuti oleh pemandangan yang begitu memukau. 

Kilas pertama kami dari Yuthapoom Formthep ketika mendekati dermaga

Sungguh Yuthapoom Formthep terlihat begitu glamor. FFT mendapatkan akses untuk kami dari bilik media, dan dengan semangat menggebu-gebu kami melangkahkan kaki meniti tangga kapal untuk masuk ke arena apung itu. 

Kami tidak bercanda, ini benar-benar terasa seperti petualangan hebat. Bahkan sebelum suka cita sesungguhnya dimulai.

Sudah di atas kapal, maka ini saatnya menjelajahi kapal. 

Saya harap kaki saya siap untuk petualangan ini.

Tak mudah mendeskripsikan apa yang kami temui di atas kapal. Sepertinya kota sepak bola sudah dicangkok ke sebuah kapal tongkang apung raksasa di tengah sungai.

Ada salon di mana Anda bisa mendapatkan model rambut apapun yang Anda mau, dari model rambut Cristiano Ronaldo hingga Mario Balotelli...bahkan model rambut Wayne Rooney kalau Anda mau! 

Atau Anda lebih suka tato sepak bola yang keren, dan meskipun kios tato tidak benar-benar menyediakan layanan tato sesungguhnya, tato yang didapatkan dengan menempelkan stiker ke tubuh ini terlihat benar-benar nyata....

Ingin seperti Raul Meireles? Bagaimana jika Olivier Giroud?

Pesta belum dimulai, tapi sudah ada banyak pelayan yang berpakaian keren di mana-mana untuk menawari minuman kalau-kalau Anda haus, dan ada makanan kecil yang disajikan oleh beberapa koki yang entah bagaimana bisa naik ke kapal ini.

Di sinilah FFT tersandung surga berAC, yang bentuknya seperti gua manusia atau semacam itulah.

Tak ada cara lain untuk menggambarkan ruangan unik ini, yang dilengkapi dengan trofi dan konsol game dan meja fussball buat siapa saja yang ingin mencobanya.

Kami bisa menghabiskan beberapa hari di sini bersama semua memorabilia sepak bola Nike, tapi itu pun tak akan membuat kami puas. 

Ruang trofi Nike FC. Apakah Anda mempertaruhkan segalanya untuk masuk ke sini?

Karena semakin banyak orang yang naik ke tongkang, maka sudah saatnya menemukan tempat yang enak untuk menonton acara yang disuguhkan.

Saat itulah FFT melihat balkon VIP yang terletak di bagian atas kapal- posisi paling tepat untuk menonton apapun yang tengah bergulir dibawahnya. 

Tanpa berlama-lama, kami pun langsung menuju tangga rahasia.

Balkon VIP menawarkan sudut pandang yang jelas.

Langit dengan cepat menghitam dan DJ pun langsung membuat para undangan bergoyang. 

Yuthapoom Formthep telah meninggalkan dermaga dengan hening, saat kami menjelajahi kapal, dan sekarang kami tengah dibawa menuju hulu.

Ada sekelompok anak muda yang berseliweran di kapal, yang rupanya adalah prajurit yang akan berduel keesokan harinya untuk memutuskan siapa yang berhak menjadi juara turnamen, tapi malam ini perayaan inilah yang paling penting.

Kami cuma tahu beberapa patah kata dalam bahasa Thailand, namun  pembawa acara tampaknya bisa membuat orang-orang mengerti apa yang dikatakannya saat mereka mengelilingi tongkang.  

Bagaiman Anda mengucapkan 'winners are grinners' dalam bahasa Thailand?

Dan tibalah waktu untuk acara utama, saat para fan yang berteriak-teriak berkumpul di bawah panggung yang terletak di salah satu ujung kapal.

Kami tak perlu berlari kesana kemari untuk mencaritahu apa yang tengah terjadi, karena kami sudah diberi tahu bahwa grup rock terbesar di Thailand, Bodyslam telah mengambil alih pangung.

Penonton pun menggila saat mereka memainkan lagu pertama, dan bertambah semangat kala vokalis utama band Atiwara “Toon” Kongmalai membuka kausnya dan melompat ke kerumunan penonton. 

Sungguh penampilan enerjik yang ditampilkan oleh sang roker asal Thailand tersebut, di mana fan yang memuja mereka ikut bernyanyi dan Toon bahkan naik ke balkon penonton yang ada di bagian lain kapal. 

Sebelum kami sadari, kembang api sudah meluncur ke atas dan menerangi langit. Waktunya turun dari kapal, tapi kami akan kembali lagi esok. 

Band rock Thailand, Bodyslam, mengguncang para penonton.

Hari 2: Partai Final Formthep Chaophraya

Hujan. Hujan deras menerpa kala kami bersiap kembali ke dermaga.

Cuaca kelihatan akan terus tak bersahabat, namun prakiraan cuaca menyebutkan bahwa langit akan kembali cerah di sore hari.

Panggung sudah disiapkan untuk aksi sepak bola, dan kami tak merasakan setitik pun kekecewaan saat kembali ke kapal. 

Kerumunan penonton yang antusias berkumpul mengitari ‘kandang’ sepak bola yang didirikan di tengah Yuthapoom Formthep saat tim berduel.

Arenanya basah dan licin, namun mereka tetap bermain dengan beringas. 

Duel Timur dan Barat di dalam kerangkeng, siapa yang akan keluar sebagai juara di Chao Phraya?

Setelah dua jam menyaksikan pertandingan sepak bola yang sengit, kami akhirnya punya finalis yang layak. 

Mewakili wilayah barat sungai Chao Phraya adalah tim Spydy Blues, yang akan berhadapan dengan Sing Ekama-a.

Ini akan menjadi laga final, satu pertarungan lagi untuk mendapatkan sang juara.

Ketika tongkang mulai bergerak menjauh dari dermaga, ada satu hal yang sudah terlihat jelas: bahwa kami tidak akan kembali tanpa seorang juara

Pertaruhkan semuanya- lanjutkan pertarungan!

Fan ini tidak merahasiakan dukungan untuk timnya.

Mereka saling melancarkan serangan, di mana kedua tim secara bergantian berada di atas angin di sepanjang laga. 

Sing Ekama-a berhasil unggul duluan dan hampir pulang dengan gelar juara, sebelum Spydy Blues membalas mereka dengan dua gol yang menyamakan kedudukan.

Namun, tim yang berasal dari wilayah baratlah yang akhirnya merebut mahkota juara, setelah mereka berhasil mencetak dua gol lagi di menit-menit akhir yang sontak dirayakan dengan penuh suka cita.  

Spydy Blues, sudah datang, beraksi, dan menaklukkan lawan. Mereka telah mempertaruhkan segalanya demi merengkuh gelar juara di laga apung yang dihelat sungai Chao Pharaya untuk kali pertama. 

Malam itu adalah malam yang tak akan mereka lupakan dengan cepat, karena alasan yang manis.

Inilah pemenangnya, Spydy Blues sang juara!