Pesta gol di jalanan

Dulu, pertandingan sudah bisa dimulai dengan satu buah bola dan pemain yang cukup pada masing-masing tim, itulah esensi sepak bola - sebelum munculnya peraturan-peraturan dan organisasi-organisasi yang digunakan untuk mengawasi asas pertandingan ini.  

Jadi ingat masa kecil kita dulu, jaman dimana hari-hari dilalui bersama anak-anak sekitaran rumah, seru menirukan trik-trik yang dilayangkan oleh jagoan sepak bola kesayangan tadi malam di TV.

Di masa-masa itu tidak ada yang namanya konvensi, tidak ada yang namanya pemain pengganti, pemanasan, kartu penalti ataupun tekanan-tekanan dari pelatih mengenai apa yang boleh atau apa yang tidak boleh dilakukan pada sebuah pertandingan. Main di lapangan kosong? Bisa, tas, sandal atau batang kayu bisa dipakai untuk menjadi tiang gawang. Gimana dengan geladak kosong? Pastinya, tiang dapat digunakan menjadi rintangan yang sempurna. Gimana kalo main di ruangan tertutup? Gak masalah, gumpalan kertas atau botol plastik kosong dipakai jadi bola dan untuk gawangnya, gunakan kursi.

Sambil jalan sambil dibuat peraturannya. Pertandingan itu menjadi maha guru kita. Anak-anak bereksperimen dengan bola dan sekitarnya, belajar dari kegagalan atau observasi dari yang ‘lebih jago’ atau lebih tua, sebelum akhirnya trik diresap dan juruspun diluncurkan.

Trus bagaimana kalau hanya ada Anda dan si bola itu sendiri? Bukan masalah juga, tembok rumah tetangga dan belokan gang sempit bisa dipakai untuk menjadi rintangan yang dapat ditakluki.

Metode pembelajaran penemuan (discovery learning) ini sangatlah mudah, gampang digunakan dan merupakan cara yang murah untuk mengolah raga.

Yang paling penting, ini adalah cara dimana anak-anak dapat mengekspresikan diri, menjadi kreatif, dan bersenang-senang dalam satu waktu sekaligus.

Dari jalanan menjadi pemain Profesional

Ada yang bilang kalau pemain kelas dunia lahir dan tumbuh di lingkungan ‘street football’. Beberapa orang justru menggunakannya menjadi sumber nafkah yang lebih dari cukup dan menjadi simbol dunia sepak bola.

Berapa kali sudah Anda mendengar cerita kaya mendadak dimana seorang pemain sepak bola mengasah  keterampilannya di pemukiman kumuh sebelum akhirnya menjadi pemain professional yang hebat?

Coba fikirkan pemain-pemain bola hebat seperti Pele, Diego Maradona, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, semua orang hebat ini memulai perjalanan mereka dari gang-gang sempit di pemukiman kumuh di masa mudanya.

Pele, pemain sepak bola terbaik yang mungkin pernah hidup di bumi ini, besar dalam kemiskinan, bola pertamanya adalah gumpalan kertas yang di bungkus kaos kaki. Cristiamo Ronaldo, pemimpin  Ballon d'Or dan FIFA World Player of the Year juga besar di pemukiman kumuh di Funchal.

BACA JUGA FourFourTwo meng-uncage Tiger Street Football

Zinedine Zidane belajar main bola di jalanan La Castellane, lingkungan rusuh kota Marseille, sementara Alexis Sanches dengan bangganya memaparkan bahwa jalanan dan lingkunganlah yang mengajarkan dia bagaimana caranya main bola.

Seperti itulah idenya.

Mudah sekali untuk melukiskan gambaran dimana Negara-negara kurang berkembang dan keluarga-keluarga kelas bawah menggantungkan nasibnya pada sepak bola, tapi ingat, hal ini bukannya di klasifikasikan khusus untuk orang-orang yang kurang beruntung. Yang paling utama disini adalah kepemilikan bakat, keterampilan dan kemampuan seseorang untuk beradaptasi pada lingkungan.

Mari kita ambil contoh pemain dari Inggris, Wayne Rooney. Dia belajar main bola di jalanan Croxteth di Liverpool dekat rumah masa kecilnya.  Main di jalanan membantunya mengembangkan kemakhiran teknis dan kemampuan tembak yang akurat. Street football memberikan pengaruh yang begitu kuat padanya sehingga menginspirasi terciptanya reality show berjudul Wayne Rooney’s Street Striker, dimana para produser mencari keseluruh pelosok Inggris untuk menemukan pemain street football terbaik di Negara tersebut.

Wayne Rooney tumbuh besar main bola di jalanan Croxeth

Ada sesuatu yang sangat manis mengenai street football. Diantara kehebohan ‘pendidikan sepak bola’, salah satu pelajaran terbaiknya adalah dalam hal mengembangkan ‘otak sepak bola’ anak. Kemampuan untuk menjadi peka, kemampuan untuk membaca gerak dan pengertian menyeluruh mengenai bagaimana pertandingan seharusnya berjalan. Kita sering mendengar bahwa ciri khas diatas dipakai untuk menggambarkan seorang pemain bola dan betapa susahnya mengembangkan hal-hal tersebut pada seorang anak. Justru ada yang bilang, hal-hal seperti ini tidak bisa diajarkan.

Dalam evolusinya, kita tidak bisa mendebat bahwa frekwensi permainan street football kian menurun. Kita sering mendengar istilah ‘masa lalu yang indah’ main bola dijalanan. Kebebebasan bermain terjamin pada masa itu – yang semakin kesini semakin kurang.

Arena bermain lama-lama hilang atau tidak boleh lagi dipakai. Lapangan kosong sekarang menjadi taman kota. Lahan kosong dipasangin papan bertuliskan ‘dilarang main bola’; jalanan tidak mungkin dipakai karena jumlah mobil dan motor semakin banyak.

Tapi ini bukannya berarti street football sudah mati, atau anak-anak sudah tidak bisa lagi meninggalkan PR untuk main bola dengan teman-temannya. Walaupun sekarang sudah jamannya TV kabel dan video game, kita masih bisa menemukan anak-anak kecil di sekolah ataupun perumahan sesekali waktu main bola dan mengejar mimpinya memainkan permainan yang mereka cintai. 

Hasrat untuk pertandingan inilah yang menggerakan pencinta sepak bola di seluruh dunia, dari London, Qatar ke Singapura. Susah untuk mencari tempat di dunia ini, dimana membawa sebuah bola tidak mempermudah Anda berteman dengan orang lokal. Pertandingan ini seperti layaknya agama, street football adalah kuilnya.

Kembali ke Jalanan

Menjadi bintang besar bukan berarti meninggalkan semuanya dibelakang, bintang-bintang sepak bola teratas di dunia telah membuktikannya.

Mantan kapten Italia Fabio Cannavaro memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kompetisi Tiger Street Football tahun lalu, penonton bersemangat dan semua pemain berstatuskan spektakuler. Anda belajar untuk bermain cerdas dan tangkas di lapangan. Penempatan posisi, keatletisan dan berfikir kedepan untuk mengantisipasi gerak lawan. Anda memerlukan kemampuan fikir kreatif,kegesitan dan insting untuk menjadi raja lapangan street football. 

Waktunya hampir datang lagi, mari sambut segala kualitas jalanan tersebut, dan untuk menggantikan Cannavaro, kita panggil Deco.

Tibalah saatnya mantan pemain Barcelona, Chelsea dan pengatur serangan Porto untuk menampilkan laganya pada tanggal 9 Agustus ini di Kambodia, pada saat ia meng-uncage (membebaskan) sepak bola dan melepaskannya dari belenggu tradisional. Seperti apakah sepak bola dengan peraturan yang sedikit, batasan yang sedikit dan aturan-aturan baru untuk membuatnya lebih seru dan menantang? Jangan sampai Anda lewatkan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Deco dan Tiger Street Football, visit www.uncagefootball.com.

Main Image Credit: Shaun Stanley