Riyandi Ramadhana Putra: Salah Satu Warisan Terbaik Ronny Pattinasarani

Eric Cantona dan David Beckham adalah alasannya bermain sepakbola, tapi Ronny Pattinasarani lah yang mendorongnya menjadi pemain profesional. Renalto Setiawan mencoba menggali lebih dalam pemain yang pernah berkarier di Brasil ini...

Cerita 60 detik...

Riyandi Ramadhana Putra kecil sadar betul bahwa Eric Cantona membuatnya ingin bermain sepakbola. Cantona adalah "titan". Saat kerah bajunya mulai ditegakkan, Cantona bisa berbuat sesuka hatinya, dari memperdaya pemain-pemain belakang, membuat kiper lawan geleng-geleng kepala, menaikkan adrenalin para penonoton sampai ke level tertinggi, hingga memaksa anak-anak kecil, seperti Riyandi, keluar rumah untuk sekadar menendang bola di lahan kosong.

Selain Cantona, Riyandi kecil juga sadar betul bahwa dirinya mempunyai idola lain yang membuatnya merasa tidak salah dalam memilih hobi. Siapa yang tidak kagum dengan David Beckham dan rambut klimisnya? Bukan, Riyandi bukan kagum karena paras rupawan suami Victoria Adam tersebut, melainkan karena tendangan-tendangan bebas Beckham yang begitu presisi.

"Tendangan bebas David Beckham membuat saya ingin bermain sepakbola," kata Riyandi, mengenang tentang idola masa kecilnya.

Namun ada satu hal yang tidak disadari betul oleh Riyandi kala dirinya asik bermain bola bersama rekan-rekan Sekolah Dasar-nya. Dalam sebuah kejuaraan antar sekolah, Riyandi membuat seseorang kepincut dengan caranya dalam mengolah bola. Hal ini terjadi karena bakat Angky, sapaan akrab Riyandi,  terlalu menonjol untuk anak-anak seusianya. Tak banyak berpikir, orang tersebut kemudian berbicara dengan orang tua Riyandi, membujuk Ayah Riyandi agar Riyandi mau bergabung dengan SSB binaannya. Ayah Riyandi kemudian kaget. Bukan hanya karena tak tahu kalau anaknya ternyata dapat bermain sepakbola, tetapi juga karena orang yang berbicara kepadanya tersebut adalah mendiang Ronny Pattinasarani, kapten timnas Indonesia pada tahun 70-an hingga awal tahun 80-an.

Bukan hanya karena tak tahu kalau anaknya ternyata dapat bermain sepakbola, tetapi juga karena orang yang berbicara kepadanya tersebut adalah mendiang Ronny Pattinasarani, kapten timnas Indonesia pada tahun 70-an hingga awal tahun 80-an.

Sejak saat itu, sepakbola yang semula hanya menjadi hobi bagi Riyandi berubah menjadi salah satu bagian penting di dalam hidupnya. "Saya ingin belajar dan memahami sepakbola secara lebih mendalam. Saya ingin membuat sepakbola Indonesia lebih berkembang," kata Riyandi menyoal motivasinya dalam bermain sepakbola.

Beruntung, orang tua Riyandi memberikan dukungan penuh terhadap pilihan anaknya. Berkarier sebagai pemain sepakbola profesional memang bukan pilihan umum bagi kebanyakan orang, seolah seperti menapaki jalanan sunyi yang asing. Dan mendapatkan izin dari orang tua untuk melangkah ke jalanan sunyi tersebut sudah merupakan anugerah bagi pemain Persegres Gresik United tersebut. 

"Aya dan Ibu mendukung saya sejak saya masuk ke SSB...," kata Riyandi. "Itu hal yang luar biasa. Mereka sangat berarti dalam karier dan hidup saya."

Pasca lulus dari SSB ASIOP, karier Riyandi mulai melejit. Setelah sempat berseragam Pelita Jaya U-21 dan bermain bersama Boavista, klub asal Brasil, selama dua tahun, Riyandi memulai debutnya bersama tim senior Pelita Jaya. Dalam waktu dua tahun (2010-2012) Riyandi memang hanya bermain sebanyak tiga kali, namun saat Pelita Jaya memutuskan merger dengan Bandung Raya, menjadi Pelita Bandung Raya, peruntungan Riyandi berubah. Secara perlahan dirinya mulai menjadi andalan Dejan Antonic, pelatih PBR pada saat itu. Jam terbangnya semakin bertambah sesuai dengan keinginannya.

Dari pinggir lapangan orang tua Riyandi mungkin tersenyum bangga dengan pencapaian anaknya tersebut. Anaknya tak salah pilih, dan mereka juga tak salah karena mengijinkan anaknya membuat pilihannya sendiri.

Riyandi Ramadhana

Riyandi (kiri) berusaha menghalangi gelandang asing Pusamania Borneo FC, Tarik Boschetti

Mengapa Anda harus mengenalnya...

Memang. Persegres Gresik United, klub anyar Angky, saat ini masih kesulitan untuk bisa bersaing di ISC A. Anak asuh Liestiadi tersebut masih terpaku di peringkat ke-17, peringkat kedua dari bawah, dan hanya tiga kali menang dalam empat belas pertandingan. Meski demikian, dua dari tiga kemenangan yang diperoleh Persegres tersebut terjadi saat menghadapi Sriwijaya FC dan Persib Bandung, dua klub besar di dalam sepakbola Indonesia.

Seperti East Tokyo United saat menghadapi tim-tim besar dalam manga Giant Killing, Persegres mampu tampil hebat dalam dua pertandingan tersebut, dan penampilan prima Riyandi di depan garis pertahanan Persegres menjadi salah satu penyebabnya. Riyandi sukses menutup ruang gelandang-gelandang kreatif Sriwijaya FC dan Persib Bandung. Kedua klub tersebut kemudian kesulitan untuk menciptakan peluang, di mana keduanya hanya mampu melakukan tujuh kali percobaan tembakan ke arah gawang. Mengingat kedua klub tersebut merupakan yang terbaik dalam masalah percobaan tembakan ke arah gawang di ISC A sejauh ini, penampilan Riyandi pada dua pertandingan tersebut layak mendapatkan aplaus panjang.

"Pertandingan melawan Sriwijaya FC cukup berkesan bagi saya. Kami sempat tertinggal, 0-1, terlebih dahulu. Tetapi kami akhirnya mampu membalikkan keadaan. Kerja keras kami terbayar secara tuntas," kata Riyandi menyoal salah satu kemenangan favoritnya di ISC A sejauh ini.

Menariknya, meski mampu tampil apik sebagai seorang gelandang bertahan di ISC A sejauh ini, posisi tersebut bukanlah posisi terbaik Riyandi, di mana dirinya mengaku sempat kesulitan untuk bermain di posisi tersebut. Namun karena kemauannya untuk terus belajar dan dukungan yang dia dari pemain-pemain senior, Riyandi pada akhirnya mampu bermain baik di posisi tersebut.

Riyandi sendiri sebetulnya tak asing bermain di posisi yang berbeda-beda. Di level junior dia adalah seorang pemain sayap. Statusnya tersebut tak berubah saat dia masuk ke tim senior Pelita Jaya. Namun, saat dirinya menjadi pemain PBR, dia sering dimainkan sebagai full-back kiri. Dan pada tahun keduanya bersama PBR dia sering bermain berpindah-pindah posisi -- disesuaikan dengan kebutuhan taktik Dejan Antonic. Dia bisa bermain sebagai gelandang serang, gelandang bertahan, pemain sayap, atau seorang full-back kiri.

Dengan pendekatan seperti itu, Riyandi ingin selalu memberikan seluruh tenaganya, baik kepada Liestiadi maupun kepada Persegres Gresik United. Di ISC A sejauh ini, dia hampir selalu menjadi andalan Liestiadi. Dalam 14 pertandingan Persegres di ISC A sejauh ini, Riyandi bermain sebanyak 11 kali – dan sebagian besar sebagai pemain inti.