Selamat Jalan Ryan Giggs: Seorang Legenda yang Tak Akan Pernah Disamai Siapapun

Apa yang dilakukan oleh mantan asisten manajer Manchester United ini sepertinya tidak akan pernah ada yang bisa mengulanginya lagi, tulis the Republik of Mancunia. Tapi, hey, ini adalah sebuah perjalanan yang luar biasa!

Pada hari Sabtu lalu, fans Manchester United akhirnya harus menerima berita yang sudah mereka perkirakan semenjak beberapa waktu terakhir. Ryan Giggs pergi meninggalkan klub ini.

Para suporter United harus berada di usia 30an tahun untuk memiliki kenangan seperti apa United tanpa Giggs, yang menjalani debutnya pada tahun 1991, dan fakta tersebut jelas menunjukkan hubungan yang dimiliki orang ini dengan United.

Giggs akan membangun karier manajerialnya di tempat lain

Sir Matt Busby menjadi manajer United selama 24 tahun, Sir Alex Ferguson menjadi manajer mereka nyaris 27 tahun, namun karier Giggs di United mencapai angka 29 tahun, dimulai ketika ia bergabung dengan klub ini saat masih berusia 14 tahun.

Legenda klub

Perjalanannya sejak itu hingga sekarang tidaklah selalu mulus

Perjalanannya sejak itu tidaklah selalu mulus, di mana dirinya berhasil mencapai titik tertinggi dengan memecahkan rekor demi rekor dan mengangkat trofi demi trofi. Tapi ia juga pernah, dan bahkan cukup sering, merasakan masa-masa tidak populer di Old Trafford.

Seperti para fans Inggris yang lebih memilih untuk melupakan masa-masa ketika mereka mencemooh pemain paling sering tampil untuk timnas, David Beckham, fans United sering melupakan waktu-waktu di mana Giggs tampil buruk, saat masalah cederanya tidak kunjung berakhir, dan bahkan saat ia sempat terlihat akan pindah ke Italia. Giggs saat itu membantah bahwa kepindahan tersebut bisa terjadi, dan ia pun telah mengulangi bantahannya tersebut berkali-kali, tapi Peter Kenyon tidak menutup kemungkinan akan menjual dirinya.

Baru-baru ini, beberapa bagian dari suporter menyalahkan Giggs untuk perannya sebagai asisten manajer. Sepakbola United di era Louis Van Gaal sangatlah buruk dan para fans ingin Giggs berperan lebih besar. Tanggung jawab untuk menyelamatkan klub ini berada di bahunya dan, bagi beberapa pihak, ia gagal, dan mereka tidak kesulitan untuk membedakan Giggs sebelum dan sesudah pensiun.

Segera menjadi seorang manajer?

Secara realistis, tidak adil untuk mengharapkan Giggs melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang telah ia lakukan

Secara realistis, tidak adil untuk mengharapkan Giggs melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang telah ia lakukan, dan akan sangat salah jika ia menyerang sang manajer di hadapan publik. Tidak ada fans yang tahu apa yang terjadi di balik layar, percakapan seperti apa yang terjadi antara keduanya, atau seberapa besar tanggung jawab yang ia miliki, jadi rasanya terlalu keras untuk mengkritik dirinya untuk sesuatu yang tidak ia kendalikan sama sekali.

Giggs sempat merasa bahwa dirinya disiapkan untuk menjadi pengganti Van Gaal dan bisa dimengerti jika ia memutuskan untuk pergi setelah klub memilih untuk mendatangkan Jose Mourinho. 

Jika Van Gaal berhasil mencapai target yang harus ia capai, dan menghapus horor yang diciptakan selama beberapa bulan era David Moyes sekaligus mengembalikan United ke puncak, maka mungkin Giggs akan menjadi pilihan yang masuk akal saat orang Belanda ini pergi. Namun saat ini, United tidak bisa berjudi lagi dengan menunjuk Giggs menjadi manajer seperti yang diharapkan Ferguson dan banyak orang lainnya, dan terpaksa untuk memilih pengganti yang sudah terbukti kualitasnya, walaupun sebelumnya nama ini sudah sempat mereka abaikan.

Diabaikan

Bersamaan dengan kepergian Giggs, muncul kesadaran bahwa ia sepertinya tidak akan menjadi manajer United untuk saat ini. Jika penunjukkan itu akan terjadi, jika ia seharusnya menjadi Pep Guardiola atau Zinedine Zidane selanjutnya, ini seharusnya terjadi di awal karirnya. Jika ia melatih klub semacam Nottingham Forest atau Bolton dan sukses, hal itu tidak akan membuatnya kandidat yang bagus untuk menjadi manajer United. Hal itu hanya akan menunjukkan bahwa ia masih di bawah Moyes.

Kenyataan ini memberikan sebuah akhir untuk mimpi bahwa Giggs, yang sudah mendukung United sepanjang hidupnya, bisa mengubah dirinya dari seorang murid menjadi seorang bos di salah satu klub terbesar di dunia. Jika orang lain bisa melakukannya, maka seharusnya Giggs pun bisa, seorang pemain yang diidolakan begitu banyak orang untuk waktu yang begitu lama.

Ryan Giggs mengangkat trofi Premier League pada tahun 2000

Ryan Giggs mengangkat trofi Premier League pada tahun 2000

Tetap saja, berbagai masa buruk yang dialami Giggs di klub ini tertutup dengan berbagai pencapaian hebat yang ia dapatkan.

Saat melihat kembali ke karirnya, sebagai pemain maupun pelatih, ada beberapa momen-momen menonjol yang tidak mungkin terlewatkan. Gol di laga debutnya menghadapi City; melewati setengah tim Arsenal di perpanjangan waktu untuk menciptakan gol terhebat sepanjang masa di Piala FA; memenangi trigelar; melewati rekor penampilan Sir Bobby Charlton di malam yang sama di mana ia menyelesaikan penalti terakhir United untuk memenangi Liga Champions di Moskow; saat ia keluar dari lorong Old Trafford dengan jas manajernya; dan, yang terbaru, saat ia berada di pinggir lapangan di Wembley untuk menggalang dukungan para suporter United sebelum Jesse Lingard menciptakan gol penentu yang luar biasa di final Piala FA.

Parade trofi

Anda harus menyaksikan kembali video dirinya dari tahun 1990an untuk mengingatkan bagaimana kecepatan hebat yang ia miliki

Malam di Moskow itu dianggap sebagai penampilan terakhirnya untuk klub ini dan akan menjadi waktu yang sangat tepat baginya untuk mundur. Setelah John Terry membuang mimpinya untuk memenangi gelar Liga Champions untuk Chelsea, Giggs menunjukkan bagaimana semua ini dilakukan dengan penalti penentu yang bagus.

Saat itu ia berusia 34 tahun dan, setelah dengan sukses menjalani posisi barunya di tengah lini tengah, terlihat sudah mendapatkan segalanya yang bisa ia dapatkan. Namun, Giggs malah terus bermain hingga enam musim kemudian, memenangi tiga gelar liga lagi, dan menciptakan 24 gol lagi.

Assist Giggs untuk gol penyeimbang di final Liga Champions 1999

Karir Giggs bukan hanya tentang pertandingan-pertandingan besar saja, tapi juga apa yang ia lakukan dengan seragam United setiap minggunya. Anda harus menyaksikan kembali video dirinya dari tahun 1990an untuk mengingatkan bagaimana kecepatan hebat yang ia miliki, atau dengan “twisted blood”, seperti yang dideskripsikan oleh Ferguson dulu, dengan keseimbangan luar biasa Giggs membuatnya bisa menggerakkan berat dari satu kaki ke kaki lainnya, menurunkan bahunya, dan membuat pemain belakang terbaik sekalipun terlihat konyol.

Pemain sayap yang ajaib

Jika bukan kecepatannya yang bisa membuat Anda kagum, maka pasti soal kemampuannya untuk memberikan bola ke dalam kotak penalti dan membuat siapapun yang menerima umpan silang darinya kesulitan untuk membuang-buang peluang. Itulah sisi perfeksionisnya. Itulah determinasi besar yang ia miliki untuk menang.

Lebih dari itu semua, Giggs mewakili identitas United, sebuah tradisi yang diletakkan oleh seorang Busby, dan dilanjutkan oleh Ferguson. United selalu ingin para pemain mudanya untuk bekerja keras, memanfaatkan kesempatan mereka saat datang, membantu tim untuk memenangi gelar, dan tetap  setia pada klub. Giggs memenuhi semua syarat itu.

Giggs setelah mencetak gol ke gawang Juventus pada 2003

Giggs setelah mencetak gol ke gawang Juventus pada 2003

Ia menjalani debutnya saat berusia 17 tahun dan membuka jalan untuk semua pemain muda di sini, menunjukkan apa yang bisa dicapai (oleh para pemain muda)

- Jesse Lingard

Jesse Lingard, yang bergabung dengan United saat berusia 7 tahun, berbicara tentang pengaruh yang diberikan Giggs untuk karirnya, dan juga karir semua pemain yang mencoba untuk mendaki ke level atas melalui jalur akademi United.

“Ia menjalani debutnya saat berusia 17 tahun dan membuka jalan untuk semua pemain muda di sini, menunjukkan apa yang bisa dicapai (oleh para pemain muda),” ucapnya. “Ia memulai segalanya dari bawah hingga ke atas, dan saya tahu bahwa saya akan selalu mengaguminya.”

Giggs adalah seorang contoh, seorang “poster boy” untuk apa yang bisa dicapai para pemain muda di United, dan bahkan saat ia memutuskan untuk pensiun, ia selalu bisa digunakan sebagai inspirasi.

Saat ia mendapat kesempatan untuk menjadi manajer, setelah Moyes dipecat, Giggs langsung memberikan debut untuk James Wilson, dan pemain muda ini menciptakan dua gol. Jika Van Gaal tidak memberikan begitu banyak pemain muda kesempatan seperti saat ini, mungkin akan ada lebih banyak permintaan dari para fans untuk mempertahankan Giggs di klub ini, atau bahkan melihatnya menjadi manajer.

Saatnya beranjak

Statistik karier Giggs

Jumlah penampilan untuk United: 672

Jumlah gol untuk United: 114

Jumlah penampilan untuk Wales: 64

Jumlah gol untuk Wales: 12

Saat ini, para fans mempersilakan Giggs pergi tanpa banyak keluhan, menerima bahwa demi kepentingan karirnya, adalah hal yang masuk akal jika ia beranjak, walaupun ini berarti harus mengakhiri sebuah era di United. Setelah menyaksikan Ferguson pergi tiga tahun silam, rasanya segalanya berubah di Old Trafford, bahkan meskipun sahabat terbaiknya, Nicky Butt, masih bertahan di klub.

Pada malam di mana United memenangi Liga Champions pada tahun 1999, Giggs meninju anak Martin Edwards, yang merupakan petinggi klub pada saat itu, demi membela kehormatan ibu Butt. James Edwards menghina Foo Foo Lammar, artis yang didatangkan untuk perayaan ini, dan membuat ibu Butt sangat terganggu. James terus berlanjut, sebelum kemudian juga menghina ibu Giggs, dan akhirnya kekacauan pun datang. “Kami berguling di lantai, meninju satu sama lain, dan Butty ikut bergabung,” ungkap Giggs di buku biografinya. Keesokan harinya, saat ia datang terlambat ke bus tim dengan hangover yang begitu buruk, barulah ia menyadari siapa yang ia lawan semalam.

Saatnya beranjak…

Giggs, Butt, dan semua anggota 'class of ’92' memberikan para fans United waktu terbaik dalam hidup mereka, jadi melihat satu lagi dari generasi ini pergi adalah hal yang sangat yang menyedihkan. Meski begitu, bersama Butt, yang kini bertanggung jawab untuk akademi mereka, United masih memiliki seseorang dengan mentalitas pemenang seperti yang dimiliki Giggs, yang mengerti seperti apa klub ini, dan tetap akan memastikan bahwa Giggs adalah satu nama yang harus bisa dikalahkan anak-anak muda ini.

Satu-satunya masalah adalah, bagi United dan klub manapun di Inggris, tidak akan ada yang bisa mengalahkannya. Tidak akan ada pemain yang bisa mencapai apa yang dicapai Giggs, memenangi 13 gelar liga, dua Liga Champions, empat Piala FA, dan masih banyak trofi lainnya, untuk klub masa kecil mereka. Mereka tidak akan bertahan dari akademi hingga pensiun, menjadi asisten manajer, dan, meski hanya sebentar, manajer.

Giggs adalah satu-satunya dan fans United di generasi ini sangat beruntung untuk bisa menyatakan bahwa mereka menyaksikan perjalanan kariernya. Dan ini adalah sebuah perjalanan yang luar biasa. 

Feature hebat lainnya • Artikel Man United lainnya