Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Jeda Internasional FIFA

Jeda Internasional bukanlah hal yang populer untuk diperbicangkan, apalagi disepakati. Padahal, sebenarnya FIFA tidak sembarangan dalam menentukan jadwal di kalendernya. Evans Simon mencoba menjelaskan lebih dalam mengenai laga internasional, serta hubungannnya dengan prospek Indonesia di Piala AFF 2016.

Jeda internasional masih menjadi perdebatan yang luar biasa panas di antara pelaku sepak bola, terutama mereka yang bekerja di klub-klub Eropa. Salah satu problematika utamanya adalah mengenai kebugaran pemain. Manajer-manajer klub merasa jadwal yang ditentukan oleh FIFA membuat pekerjaan mereka semakin berat karena tidak dapat memantau atau menjaga bintang-bintangnya. Hal ini, mau tak mau, ikut mempengaruhi prestasi tim.

Salah satu sosok yang secara terbuka mengritik jeda internasional kali ini adalah manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino.

Sungguh gila kami kembali berhenti (bermain di tengah berjalannya) Premier League. Ini bukanlah sebuah keluhan. Ini hanya tentang para pemain kami

- Mauricio Pochettino

“Sungguh gila kami kembali berhenti (bermain di tengah berjalannya) Premier League. Ini bukanlah sebuah keluhan. Ini hanya tentang para pemain kami. Sebanyak 75 persen dari skuat kami ikut terlibat. Ini bukanlah jeda yang sempurna, karena seluruh pemain internasional tergabung dengan tim-tim internasional. Kami membutuhkan waktu, selama beberapa bulan, untuk membuat para pemain kami berada di level yang sama,” ujar Pochettino seperti yang dikutip oleh Daily Mail.

Tak menutup kemungkinan, para fans klub-klub Eropa di berbagai belahan dunia juga memiliki kekhawatiran yang serupa. Padahal, tujuan utama FIFA (catatan: ini bukan artikel berbayar) adalah menengahi kepentingan klub dan tim nasional. Sebagai anggota, maka setiap-setiap asosiasi dan federasi, termasuk klub yang dibawahi, wajib untuk patuh.

Mauricio Pochettino

Mauricio Pochettino lagi-lagi mengeluhkan soal jeda internasional

FIFA, berdasarkan apa yang tertulis di Regulasi tentang Pertandingan Internasional, mengalokasikan waktu untuk setiap konfederasi menggelar kompetisinya masing-masing. Asosiasi yang tidak terlibat di dalam kompetisi konfederasinya juga diizinkan melakukan partai “persahabatan”.

Sebagai contoh, untuk periode 31 Agustus hingga 8 September ini, FIFA mewajibkan setiap klub melepas para pemainnya ke timnas paling lambat hari Senin (30/8) pagi waktu setempat. Timnas juga memiliki kewajiban untuk mengembalikan para pemain ke klubnya pada Rabu (7/9) waktu setempat. Selain itu, mereka membatasi setiap timnas hanya boleh memainkan dua pertandingan dalam satu jeda internasional.

Menikmati pertandingan Tingkat 1

FIFA membagi laga-laga internasional menjadi tiga kategori, yakni Tingkat 1, Tingkat 2, dan Tingkat 3. Hal tersebut diterapkan untuk menjaga kualitas pertandingan serta kompetisi, dan mengantisipasi adanya pendahuluan kepentingan pihak-pihak tertentu.

FIFA membagi laga-laga internasional menjadi tiga kategori, yakni Tingkat 1, Tingkat 2, dan Tingkat 3. Hal tersebut diterapkan untuk menjaga kualitas pertandingan serta kompetisi, dan mengantisipasi adanya pendahuluan kepentingan pihak-pihak tertentu

Laga-laga kualifikasi Piala Dunia 2018 yang bertaburan selama tujuh hari kedepan termasuk kedalam laga Tingkat 1. FIFA mewajibkan setiap tim yang terlibat untuk menurunkan Scratch Team, tim yang berisi para pemain aktif yang terdaftar bersama klub yang bermain di divisi tertinggi sebuah asosiasi anggota. Mereka tidak boleh berafilisiasi dengan asosiasi anggota lain.

Peraturan FIFA inilah yang, mau diakui atau tidak, membuat kita, para penonton, dapat menyaksikan laga-laga “berkualitas”.

Salah satu pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa yang patut mendapatkan sorotan adalah Slowakia melawan Inggris. Seperti diketahui, ini merupakan kali pertama The Three Lions bermain setelah tersingkir secara memalukan di tangan Islandia pada babak 16 besar Piala Eropa 2016.

Dengan manajer anyar, Sam Allardyce, tentu performa negara yang katanya memiliki liga terbaik di dunia tersebut sangat menarik untuk dinantikan. Apalagi, ia lebih memilih memanggil gelandang West Ham United, Michail Antonio, ketimbang dua nama tenar, Ross Barkley dan Jack Wilshere. Selain itu, ia juga sepertinya masih akan mempercayakan kapten Wayne Rooney sebagai gelandang, sekali pun performanya di Piala Eropa jauh dari kata memuaskan.

Wayne Rooney, Harry Kane

Siap memulai petualangan baru, Inggris?

Laga antara Spanyol melawan Liechtenstein juga tidak kalah menarik. Setelah mendominasi sepak bola dunia dengan menjuarai Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, serta Piala Eropa 2012, bisa dibilang ini adalah awal baru bagi La Furia Roja. Pelatih Julen Lopetegui Agote, yang menjadi penerus Vicente del Bosque, tidak memanggil Iker Casillas. Alih-alih, ia malah membawa kiper Napoli, Pepe Reina, yang sudah dilupakan oleh banyak pihak, sebagai pelapis dari David De Gea. Lopetegui juga harus bisa mengakali absennya gelandang Andres Iniesta yang masih terbelit cedera, serta menjadikan penyerang naturalisasi Diego Costa kembali tajam di depan gawang lawan.

Pelatih Julen Lopetegui Agote, yang menjadi penerus Vicente del Bosque, tidak memanggil Iker Casillas. Alih-alih, ia malah membawa kiper Napoli, Pepe Reina, yang sudah dilupakan oleh banyak pihak

Tim lain yang ditangani oleh pelatih baru adalah Belgia. Kegagalan Marc Wilmots membawa timnya berprestasi di Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016 membuat asosiasi menunjuk mantan manajer Everton, Roberto Martinez, sebagai penggantinya. Dengan skuat yang bergelimang bintang-bintang muda berbakat, seperti Eden Hazard, Kevin de Bruyne, Michy Batshuayi, tentu Martinez memiliki tanggungan yang besar kepada publik Belgia. Mereka akan mengawali perjuangan meraih tiket ke Rusia dengan menghadapi Siprus pada tanggal 7 September mendatang.

Menariknya, sebelum bertamu ke markas Siprus, The Red Devils terlebih dahulu dijadwalkan menjalani laga uji coba melawan Spanyol pada tanggal 2 September. Kendati hanya laga “persahabatan”, perlu diingat bahwa pertemuan mereka di Stadion King Baudouin nanti tetap dikategorikan sebagai laga Tingkat 1 oleh FIFA, karena memang memenuhi segala persyaratan yang berlaku.