Si Perfeksionis Berharga Murah

“Saya telah bermitra dengan banyak manajer sepanjang karier. Namun, Antonio (Conte) yang paling mengejutkan. Dia hanya membutuhkan satu pidato dengan kata-kata sederhana untuk menaklukkan kami, para pemainnya” - Andrea Pirlo.

Dalam autobiografi yang ditulisnya bersama Alessandro Alciato, Andrea Pirlo menggambarkan Antonio Conte sebagai seseorang yang berbeda. Manajer yang memberinya pandangan dan gairah baru bagi sepak bola, begitu yang Pirlo sampaikan dalam bukunya. Lahir di Lecce, 13 Juli 1969, Antonio Conte ditakdirkan untuk menghabiskan hampir separuh hidupnya di lapangan hijau. Mengawali karier sebagai pemain di kota kelahirannya selama lima tahun sebelum akhirnya bergabung dengan Juventus dan melakukan debut saat melawan Torino pada tanggal 17 November 1991. Setahun kemudian dirinya menjadi kapten Juventus selama lima musim. Bersama Juventus, ia berhasil memenangi beberapa gelar bergengsi seperti scudetto dan Liga Champion.

Namun, kariernya di timnas tidak terlalu cemerlang. Ketidakberuntungan menaungi dirinya kala bersama timnas. Ia menjadi bagian dari tim Italia yang melaju hingga final Piala Dunia 1994 dan Piala Eropa 2000, keduanya berakhir dengan kegagalan. Saat memutuskan untuk gantung sepatu, usia Conte baru 35 tahun. Usia yang belum bisa dibilang tua jika dirinya masih ingin melanjutkan karier sebagai pemain kasta kedua. Namun, Conte memilih untuk belajar ilmu kepelatihan. Ia kemudian memperoleh gelar diploma setelah menempuh pendidikan di University of Foggia dengan mengambil jurusan ilmu keolahragaan. Pada musim 2005/06, ia menerima tawaran Siena untuk bekerja sebagai asisten Luigi De Canio. Arezzo menjadi klub pertama Conte sebagai manajer.

Dalam jangka waktu enam tahun dirinya sempat berganti klub beberapa kali dan mengalami dua kali pemecatan. Hingga akhirnya ia ditunjuk oleh manajemen untuk menangani Juventus. Beberapa kelompok suporter sempat meragukan kapasitas Conte untuk memimpin klub sebesar Juventus. Selain itu, Conte sebenarnya bukanlah pilihan utama manajemen. Mereka sempat berminat mendatangkan Andre Villas-Boas yang sukses bersama FC Porto. Namun, keadaan finansial Juventus saat itu tidak memungkinkan. Rekam jejak kepelatihan Conte yang sama sekali tidak impresif memang menimbulkan beberapa keraguan. Lagipula, Juventus adalah klub besar pertama yang mempercayai Conte sebagai manajer. Pria lulusan Coverciano itu bergeming. Ia tidak peduli dengan keraguan yang muncul dan hanya merespon lewat sebuah kalimat singkat, “Sejarah di klub sebesar Juventus mengatakan bahwa Anda harus menang. Itu saja.”

Conte sadar bahwa satu-satunya jawaban atas keraguan yang muncul adalah membawa Juventus tampil sebaik mungkin. Saat memperkenalkan diri untuk pertama kali di pusat pelatihan yang terletak di Bardonecchia, Conte mengatakan bahwa dirinya terkejut melihat Juventus hanya mampu menempati peringkat ketujuh selama dua musim terakhir di Serie A. Bagi pria yang melakukan transplantasi rambut ini, hal tersebut sulit diterima. “Saya datang ke sini untuk menghentikan segala omong kosong itu!” seru Conte saat itu. Sejak saat itu, Conte dikenal sebagai manajer yang tidak segan untuk memberikan metode latihan yang sangat menguras fisik dan tenaga. Tidak jarang ia meneriaki para pemain yang keliru menjalankan instruksinya, walaupun hanya dalam sesi latihan.

Bagi masyarakat Italia, sepak bola adalah tempat untuk berimajinasi yang sakral. Tidak hanya sekedar industri yang memutar uang sedemikian banyak. Sepak bola seperti sebuah ilmu yang perlu ditelaah lebih dalam hingga lapisan mikro. Conte adalah salah satu contoh nyata perwujudan tersebut. Ia kerap menghabiskan waktu untuk berdiskusi tentang taktik (baik mikro maupun makro) dengan orang-orang yang ia anggap berpengalaman. Giovani Trapatonni adalah salah satu mentornya. Sesaat sebelum Conte bergabung dengan Juventus, media memberitakan tentang kemungkinan dirinya menggunakan formasi 4-2-4. Sebuah antitesis dari kebanyakan manajer di Serie A. Ia beralasan formasi tersebut sukses diterapkan saat ia menangani Siena. Ia ingin membawa Juventus kembali menang dengan filosofi yang ia percaya, yakni bermain menyerang dan terus menekan lawan tanpa henti.

Conte kemudian menjelaskan bahwa awalnya formasi yang ingin ia gunakan adalah 4-4-2. Jika terlihat seperti 4-2-4, itu hanya improvisasi yang ia lakukan dalam sebuah pertandingan. Formasi tersebut tidak lama digunakan. Setelah pertandingan pertama Serie A 2011/12 --saat Juventus menggunakan formasi 4-2-4-- Conte justru memilih untuk menggunakan formasi 4-3-3. Alasannya karena ia memiliki tiga gelandang hebat yang tidak mungkin untuk ia cadangkan dalam diri (Andrea) Pirlo, (Arturo) Vidal, dan (Claudio) Marchisio. Belakangan Conte justru kembali bereksperimen. Juventus menggunakan formasi 3-5-2 hingga akhir musim di mana Juventus keluar sebagai juara tanpa terkalahkan. Kredit khusus pantas diberikan bagi Conte karena berhasil pada musim pertamanya bersama Juventus.

Musim keduanya bersama Juventus, yakni 2012/13, tidak berjalan dengan mulus setelah dirinya tersandung skandal pengaturan skor yang disebut calcioscomesse. Ia meneriman hukuman sepuluh bulan setelah pengadilan menilai Conte lalai untuk melaporkan adanya indikasi pengaturan skor saat ia masih menangani Siena --setelah melalui proses banding dikurangi menjadi empat bulan-- dan dilarang untuk mendampingi skuatnya di lapangan. Ia hanya diperkenankan untuk mendampingi skuat saat sesi latihan. Musim itu juga menjadi debutnya di Liga Champion sebagai manajer. Raihannya tidak bisa dibilang buruk karena berhasil mencapai perempatfinal, setelah sebelumnya mengandaskan juara bertahan, Chelsea, di fase grup. Juventus harus takluk dari Bayern Muenchen yang di akhir turnamen keluar sebagai juara.

Musim ini Conte kembali berpeluang untuk memberikan gelar scudetto bagi Juventus. Selisih poin dengan para penguntit, yakni AS Roma dan Napoli, cukup jauh. Setelah pada giornata kedelapan kalah dari Fiorentina, Conte bersama Juventus tancap gas. Dalam 16 pertandingan setelah kekalahan tersebut, Juventus berhasil meraih poin 44 poin dari kemungkinan poin maksimal 48. Namun, yang paling mengusik musim ini adalah kegagalan Juventus di Liga Champion. Mereka justru tersingkir di fase grup setelah sejak awal diprediksi akan melaju ke fase knock-out menemani Real Madrid. Mereka hanya meraih peringkat ketiga di bawah Real Madrid dan Galatasaray. Conte terbukti belum mampu untuk membawa Juventus berbicara lebih jauh di level Eropa. Jika ditarik ke belakang, tepatnya satu musim sebelumnya, keberhasilan Juventus lolos dari fase grup justru terjadi saat Conte sedang menjalani masa hukuman.

Kegagalan Juventus melaju ke fase gugur Liga Champion memberikan dua kemungkinan. Conte bisa saja penasaran karena kegagalan tersebut dan berencana untuk tinggal lebih lama di Turin. Namun, ada kemungkinan ia berpikir bahwa kariernya di Juventus memang sudah mentok dan berencana untuk hengkang ke klub lain. Kebetulan kontraknya di Juventus akan berakhir akhir musim 2014/2015. Beberapa klub, seperti Manhester United dan AS Monaco, dikabarkan sudah siap untuk mengajukan kontrak dengan nilai lebih besar dari yang ia peroleh dari Juventus. Konon, nominal bayaran yang diterima Conte dari Juventus hanya sebesar 3 juta euro.

Jumlahnya sama dengan Claudio Ranieri (Monaco), tapi masih di bawah David Moyes (Man. United) yang dibayar 6 juta euro tiap musim hanya untuk dipecat oleh tim asal Manchester itu. Sebagai catatan, kedua manajer tersebut sama sekali belum pernah memenangi gelar liga sepanjang kariernya. Bandingkan dengan apa yang sudah Conte raih bersama Juventus, dua scudetto dan dua Piala Super Italia. Walaupun harus membuktikan kemampuannya di level Eropa, kenyataan tersebut tentu sangat menggelikan.