Suara Fans: Manchester United dan Kemenangan Ketiga untuk Anfield

Liverpool mungkin akan meneruskan performa apik mereka di pekan ke-8 Premier League ini, bahkan meski lawan mereka Manchester United sekalipun. Perdana Nugroho menjelaskan alasannya...

Suhu panas jelang laga akbar yang disajikan pada jadwal yang aneh, Selasa (18/10) dinihari WIB nanti, sudah terasa. Gelandang Manchester United yang belakangan membuat Wayne Rooney, yang notabene kapten dan ikon tim, dicadangkan, Juan Mata, menyatakan timnya siap menorehkan kemenangan ketiga beruntun di Anfield pada ajang Premier League. Sebuah sikap percaya diri yang menarik, bukan? Kendati begitu, Mata memang benar. Akan ada kemenangan ketiga beruntun di Anfield, tapi untuk Liverpool, pada Premier League 2016/17.

Seperti biasanya sebelum Northwest Derby, isu persaingan yang dimulai dari faktor ekonomi dan pelabuhan antarkota Liverpool dan Manchester mulai kembali diperdendangkan. Sesuatu yang jadi bumbu persaingan di dalam dan di luar lapangan. Dan sudah jadi hal yang lazim pula saat kelima jari suporter Liverpool membumbung tinggi di atas, dibalas dengan ucapan “twenty times” oleh fans Man. United. Banter yang klise dan mulai usang, meskipun memang benar, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Pertandingan ini memang masih disebut sebagai pertarungan paling keras dan dinanti di Britania Raya mengingat koleksi trofi dan masa kejayaan yang pernah dialami keduanya.

Akan tetapi, musim ini sorotan lebih tertuju pada duel dua manajer eksentrik, Juergen Klopp dan Jose Mourinho. Jika saat kali pertama ke Inggris, Mourinho langsung mendeklarasikan dirinya sebagai The Special One, Klopp malah berbanding terbalik. Ia enggan mendapat julukan atau bahkan dispesialkan. Pria Jerman penuh gelak tawa dan ekspresi ini lebih memilih status The Normal One. Karena Klopp adalah sosok yang spesial tanpa perlu dispesialkan. Dan uniknya anggapan itu terjadi karena pertemuannya dengan Mourinho.

Laga ini bukan cuma soal Liverpool dan Manchester United, tapi juga soal kedua manajer

Masih segar dalam ingatan saat Borussia Dortmund yang dilatih Klopp seakan bersenang-senang dengan menang telak 4-1 atas tim sekelas Real Madrid asuhan Mourinho pada ajang akbar, semifinal Liga Champions 2012/13. Di Liverpool, Klopp juga ‘butuh’ Mourinho untuk meraih kemenangan perdana di Premier League. Melawat ke Stamford Bridge, The Reds menang meyakinkan 3-1 atas Chelsea yang saat itu masih ditangani Mou. Jadi jelang pertemuan selanjutnya di Anfield dengan kondisi yang sudah berbeda, Klopp tampaknya tetap ‘butuh’ Mourinho sebagai rival sepadan.

Mourinho yang datang ke Old Trafford pada awal musim ini dengan ekspektasi tinggi untuk bawa tim langsung juara, bergerak cepat dengan mendatangkan penyerang veteran yang kadang masih haus gol, Zlatan Ibrahimovic, dan pencetak rekor transfer termahal dengan variasi gaya rambut yang jauh melebihi torehan golnya, Paul Pogba. Sayangnya, transformasi belum benar-benar berjalan mulus dengan dibumbui ironi bahwa pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah klub, Rooney, seharusnya sudah dibuang dari starting eleven. Dan terakhir, tarian dan selebrasi mantan pemain Liverpool di Old Trafford menegaskan masalah yang ada di kubu Man. United, dengan satu kemenangan dari empat laga beruntun di liga.

Ya, Liverpool bukannya tanpa masalah. Setelah menjalani laga menyenangkan lawan Arsenal di ibukota, The Reds secara mengejutkan terjungkal di tangan tim promosi, Burnley. Namun setelah itu, Roberto Firmino dkk tancap gas dan mencatatkan lima kemenangan beruntun di semua ajang, termasuk saat mengalahkan Chelsea di Stamford Bridge. Liverpool juga akhirnya bisa kembali ke Anfield setelah melalui proses pemugaran tribun utama. Hasilnya dalam dua laga terakhir The Reds sukses cetak sembilan gol saat menang telak atas juara bertahan, Leicester City dan Hull City. Perombakan yang membuat tim duduk di pos keempat dan hanya bertaut dua poin dari pemuncak klasemen, Manchester City.

Liverpool telah alami perkembangan pesat musim ini

Menilik pada skuat yang ada sekarang, Man. United mungkin lebih mengilap ketimbang Liverpool yang memaksakan seorang gelandang jadi full-back kiri dan tanpa adanya penyerang murni. Tapi, di situlah pakem yang akhirnya membuat tim asuhan Juergen Klopp disegani. Menggunakan formasi 4-3-3, James Milner secara tak diduga, tampil sebagai full-back brilian yang kuat bertahan dan sudah teruji dalam menyerang. Sementara di depan, Firmino selaku false-nine ditopang dua sayap dengan kecepatan tinggi dan teknik memukau, Philippe Coutinho dan Sadio Mane.

Masalah utama mungkin ada pada kemungkinan absennya Georginio Wijnaldum dan Adam Lallana sebagai poros di tengah. Namun, The Reds setidaknya punya empat opsi alternatif untuk tetap menorehkan kemenangan ketiga di Anfield musim ini. Sosok Emre Can yang tampil di Piala Eropa 2016 dan Lucas Leiva yang sebelumnya kerap diejek, bahkan oleh Klopp sendiri, bisa jadi kartu truf di pos gelandang. Dan bisa juga mengembalikan posisi salah satu dari ketiga pemain ini, Milner, Coutinho, atau Firmino, ke tengah.

Man. United akan tetap mengandalkan Ibrahimovic yang seakan menghilang di tiga laga terakhir dan Pogba sebagai komando lini tengah – dengan tentunya, rambut barunya. Pada akhirnya laga nanti bakal jadi penentuan, yang sebenarnya masih prematur, terkait peluang gelar juara keduanya musim ini.

Man. United yang berselisih tiga poin dari Liverpool dan duduk di peringkat keenam klasemen sementara, menyisakan harap dalam hati fansnya dengan secara tak disadari, mulai mengilhami sesuatu yang dituduhkan kerap dilakukan suporter Liverpool, “This could be our year.” Sayangnya, tak akan ada lagi selebrasi lebay Mourinho ke arah Anfield Road, tempat fans tim lawan duduk manis. Anfield akan melanjutkan hegemoni anyarnya dan kali ini, Man. United jadi bidikan.

Feature lainnya di FourFourTwo.com/ID