Suara Fans: Manchester United, Jangan Ulangi Kesalahan Kalian di Derby Manchester

Mengingat manajer Manchester United, Jose Mourinho, masih belum mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari skuatnya, bukan tidak mungkin taktik kolektif yang diterapkan akan menjadi kunci yang menentukan hasil akhir laga melawan Liverpool, Selasa (18/10) mendatang. Evans Simon mencoba menjelaskannya...

Ketika kalah 2-1 dalam laga derby melawan Manchester City Agustus silam, Mourinho mendapatkan sorotan tajam. Ia dianggap salah dalam menurunkan susunan pemain dan pendekatan taktik, terutama di babak pertama, ketika semua gol City tercipta.

Rasanya naif jika memungkiri bahwa gol dari The Citizens tidak lahir dari kemampuan individu pemain, dalam hal ini Kevin de Bruyne. Bagaimana pun, setelah melakukan pergantian pemain (dan mungkin juga sekaligus taktik), kesalahan pada 45 menit pertama tidak dapat ditebus oleh Manchester United di babak kedua.

The Special One jelas tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama ketika bertandang ke Stadion Anfield pada pekan ke-8 Premier League ini. Pasalnya, yang dihadapi adalah Liverpool arahan Juergen Klopp, bukan Brendan Rodgers, apalagi Roy Hodgson. Sejak ditangani pria asal Jerman tersebut, mereka menjadi tim paling produktif di Premier League, dengan catatan 73 gol dan memiliki rataan penguasaan bola tertinggi, 58,8% per laga.

Berdasarkan data dan statistik head-to-head, Mourinho hanya pernah satu kali menang dari lima pertemuannya dengan Klopp. Empat kali bertemu di ajang Liga Champions, saat Mourinho masih di Real Madrid dan Klopp masih di Dortmund, dan satu pertandingan saat keduanya sudah berada di Premier League, Mou di Chelsea dan Klopp sudah bersama Liverpool.

Jose Mourinho, Jurgen Klopp

Mourinho memiliki rekor yang kurang bagus kala bertemu dengan Klopp

Sejak dibungkam Burnley 2-0 tiga bulan lalu, Liverpool terus menunjukkan peningkatan performa. Salah satu hal yang dipuji banyak pihak adalah kekuatan lini serang mereka: Philippe Coutinho, Sadio Mane, Roberto Firmino, Daniel Sturridge, dan Adam Lallana. Nama terakhir memang masih diragukan tampil karena cedera, tetapi sisanya dipastikan siap untuk membuat barisan pertahanan Manchester United kocar-kacir dengan kecepatan dan kemudahan mereka bertukar posisi.

Hal ini sangat perlu diwaspadai oleh para bek Setan Merah, terutama di sisi kiri. Dengan masih belum maksimalnya kondisi kebugaran Luke Shaw, dan besar kemungkinan Daley Blind yang akan diturunkan. Permasalahannya, mantan penggawa Ajax Amsterdam tersebut kerap kurang awas terhadap pergerakan tanpa bola para pemain lawan, suatu kelemahan yang dapat membuat penghuni The Kop tertawa terbahak-bahak karena banyaknya ruang kosong untuk digagahi.

Contoh tersahih adalah kala Liverpool menang 2-1 atas Swansea City awal bulan ini. Menurunkan Mane, Firmino, dan Coutinho dalam formasi 4-3-3, Klopp memberikan mereka kebebasan untuk bereksplorasi di setengah lapangan musuh, terlebih ketika memasuki sepertiga akhir.

Dengan demikian, para pemain belakang United jelas tidak boleh mudah terpancing. Kedisplinan dalam menjaga zona penjagaan mereka masing-masing merupakan salah satu cara terjitu untuk menghadapi permainan ofensif Liverpool yang begitu ‘cair’.

Coutinho, Roberto Firmino

Determinasi Firmino dan juga tendangan melengkung khas Coutinho bisa mengejutkan pertahanan United