Tak Ada Kompetisi, Tarkam Menjadi Pilihan Para Pemain ISL Demi Sesuap Nasi

FourFourTwo mendaftar lima pemain yang pernah membela tim nasional Indonesia yang mau tidak mau bermain di kompetisi tarkam di tengah kekosongan kompetisi profesional...

Keputusan PSSI untuk menghentikan sepenuhnya kompetisi Indonesia Super League membuat para pemain sepakbola kita kebingungan. Mau bagaimana lagi, sepakbola adalah mata pencaharian utama mereka dan sebagian besar tak punya pekerjaan lain selain lewat sepakbola. Beberapa pemain, seperti Boaz Solossa, memang beruntung karena juga berstatus sebagai pegawai negeri, tapi tak banyak yang bernasib mujur sepertinya. Lalu apa jalan keluar bagi mereka?

Tarkam adalah jawaban yang dipilih oleh sebagian pemain. Turnamen antar kampung yang selalu bergulir di banyak tempat di nusantara memang menjadi pilihan para pemain yang menggantungkan hidupnya di sepakbola untuk mendapatkan pemasukkan. Ini sebetulnya bukanlah hal baru, karena sejak bertahun-tahun yang lalu, para pemain nasional maupun asing di negeri ini memang sudah akrab dengan turnamen-turnamen kecil yang biasanya bersifat lokal kedaerahan. Pilihan pekerjaan ini terutama diambil ketika kompetisi sedang libur. Tetapi dengan ketiadaan kompetisi nasional, semakin banyak pemain yang melirik tarkam sebagai sumber pendapatan, sekaligus sebuah sarana untuk menjaga kondisi tubuh yang lama tidak bermain bola.

Jangan salah, tarkam tidak hanya digeluti oleh sembarang pemain. Beberapa langganan tim nasional pun ternyata ikut terjun ke turnamen-turnamen tarkam di berbagai daerah agar dapur tetap mengepul. Kali ini, FourFourTwo akan melihat lima pemain tim nasional Indonesia yang ikut bermain di kompetisi tarkam selama terhentinya ISL.

Pages