Taksi untuk Maicon: Ketika Gareth Bale Menghancurkan Inter di Liga Champions

Sebelum mengantarkan Real Madrid menjuarai Liga Champions sebanyak dua kali, Gareth Bale terlebih dahulu bermain di ajang tersebut bersama Tottenham Hotspur pada musim 2010/11. Musim yang tidak akan pernah dilupakan oleh Bale karena bisa dibilang sebagai titik awal perkembangan kariernya. Evans Simon mengajak anda mengenangnya.

Tottenham akan kembali berlaga di Liga Champions musim ini. Mereka lolos ke putaran final secara otomatis karena finis di peringkat ketiga Premier League 2015/16. Hasil undian menempatkan skuat asuhan manajer Mauricio Pochettino di Grup E bersama AS Monaco, Bayer Leverkusen, dan CSKA Moskow.

Fans Tottenham rasanya boleh sedikit tersenyum melihat hasil undian. Di atas kertas, lawan-lawan yang akan dihadapi tidaklah seberat ketika mereka terakhir kali berpartisipasi di Liga Champions, yakni pada musim 2010/11. Kala itu, mereka bertemu dengan Inter Milan (juara bertahan), FC Twente (juara Eredivisie), dan Werder Bremen di fase grup.

Dua laga melawan Inter, bisa dibilang, adalah awal lompatan besar Bale untuk kelak menjadi pemain termahal di dunia dan salah satu pemain terbaik di dunia saat ini

Barangkali, tidak banyak yang mengingat bahwa setengah dekade yang lalu, Spurs berhasil lolos ke babak 16 besar dengan status sebagai juara grup. Mereka unggul satu poin dari Inter yang menempati peringkat kedua grup. Keberhasilan ini tidak dapat dilepaskan dari aksi brillian Bale ketika menghadapi Javier Zanetti dkk., baik dilaga kandang mau pun tandang. Dua laga itu, bisa dibilang, adalah awal lompatan besar Bale untuk kelak menjadi pemain termahal di dunia (sebelum rekornya dikalahkan Paul Pogba, tentu) dan salah satu pemain terbaik di dunia saat ini. Penampilannya juga bisa dikategorikan sebagai salah satu penampilan individu terbaik yang pernah terjadi di Liga Champions Eropa.

Hat-trick fantastis yang tak terlupakan

Ketika diboyong oleh Tottenham dari Southampton dengan harga £7 juta pada musim panas 2007, Bale sudah mulai dikenal oleh publik Inggris dengan label ‘wonderkid’, sebuah status yang dibarengi dengan segudang ekspektasi.

Bale, yang kala itu masih berusia 18 tahun, langsung merasakan kerasnya persaingan di level sepak bola dewasa. Dengan pengalaman yang terbatas di level Championship, ia kesulitan menembus skuat utama Tottenham. Ketahanan fisiknya juga menjadi permasalahan tersendiri. Pada musim pertamanya, ia kerap masuk ke ruang perawatan karena cedera yang datang silih berganti. Total, ia hanya dimainkan sebanyak 12 kali di semua kompetisi sepanjang musim 2007/08.

Cepat, tapi rentan cedera. Awal kariernya di Spurs tak terlalu mulus.

Seiring berjalannya waktu, pemuda asal Wales tersebut mulai menunjukkan bakatnya kepada publik White Hart Lane. Menit bermainnya terus meningkat, pun demikian dengan pelajaran yang ia dapatkan di atas lapangan hijau. Ia sempat menampilkan performa yang mengundang decak kagum dalam beberapa kesempatan, tapi tidak pernah benar-benar menjadi nama yang dengan setia dinyanyikan para fans Tottenham, hingga akhirnya datang malam ‘pembaptisan’ di Giuseppe Meazza: laga fase penyisihan grup Liga Champions antara Inter melawan Spurs pada 30 September 2010.

Ia tidak pernah benar-benar menjadi nama yang dengan setia dinyanyikan para fans Tottenham, hingga akhirnya datang malam ‘pembaptisan’ di Giuseppe Meazza

Pertandingan tidak berjalan mulus bagi The Lilywhites. Mereka tertinggal 4-0 ketika turun minum, dan harus melewati 45 menit berikutnya dengan kondisi kalah jumlah pemain (kiper Heurelho Gomes mendapatkan kartu merah pada menit ke-8). Namun, Bale berhasil membuat babak kedua, yang seharusnya terasa begitu menyiksa bagi seluruh skuat Tottenham, menjadi kisah epik nan inspiratif.

Sejak babak pertama, Bale sebenarnya sudah terus menerus berusaha membongkar sisi kanan pertahanan Inter. Tetapi, agresivitasnya berkali-kali berujung dengan kegagalan. Akurasi operannya pun jauh dari kata memuaskan.

Berlari sendirian dari garis tengah untuk kemudian mencetak gol dari sudut sempit. Brilian.

Usaha demi usaha yang ditunjukkan Bale akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-52. Mendapatkan bola di tengah lapangan, ia mulai berlari, melewati penjagaan Maicon dan Zanetti, dan kemudian melesat hingga ke daerah kotak penalti Inter. Upaya Walter Samuel untuk memotong bola sia-sia. Tendangan Bale menghujam tepat di sisi dalam tiang kiri gawang Inter yang dijaga oleh kiper Julio Cesar. Sebuah gol yang dinobatkan sebagai salah satu gol terbaik di Liga Champion sepanjang masa oleh FourFourTwo.

BACA JUGA FourFourTwo: 20 Gol Terbaik Liga Champions Sepanjang Masa

Selepas gol tersebut, Tottenham menjadi lebih nyaman dalam menguasai bola, terutama setiap kali Bale memegangnya. Ia menjadi otak serangan 10 pemain Spurs. Berbagai kesempatan yang didapat Tottenham berawal dari pergerakan Bale, tidak hanya di sisi kiri, tetapi juga ketika ia berpindah ke sisi kanan. Kecepatan dan kepercayaan diri menjadi senjata utamanya.

Pada menit ke-90, Bale kembali mencatatkan namanya di papan skor. Dengan skenario yang mirip seperti gol pertama, tendangannya tak mampu diantisipasi oleh Zanetti, dan juga Cesar. Satu menit berselang, memaksimalkan operan Aaron Lennon, tergenapilah hat-trick pertamanya bagi Tottenham.

Bale tidak melakukan selebrasi ketika mencetak gol-gol tersebut. Ia selalu kembali berlari ke tengah lapangan dengan segera, karena tahu masih ada defisit gol yang harus dikejar, bahkan setelah ia menciptakan hat-trick. Sayang, waktu tidak lagi tersedia untuk dimainkan. Pertandingan berakhir dengan skor 4-3 untuk kemenangan Inter.