Tiga Pelajaran yang Bisa Diambil dari Babak Grup Euro 2016

Dua minggu pertama Euro 2016 telah berlalu. Apa saja yang bisa kita pelajari sejauh ini?

Setelah 36 pertandingan yang kadang menghibur, kadang membosankan, dan pasti menganggu siklus tidur, akhirnya babak grup Euro 2016 usai juga. Berikut sejumlah kesimpulan yang saya ambil dari dua minggu pertama pesta bola Eropa musim panas ini.

1. Belum ada calon juara yang meyakinkan

Let's be honest: belum ada tim pun yang bermain layaknya kandidat juara sejauh ini. Tuan rumah Perancis tertatih-tatih di grup A yang relatif lemah. Inggris adalah Inggris. Spanyol tidak digdaya seperti periode 2008-2014. False-nine Jerman masih impoten sejauh ini. Italia bermain dengan taktik yang kece melawan Belgia, namun kesulitan melawan tim yang lebih defensif. Portugal didefinisikan oleh puluhan peluang yang disia-siakan oleh Cristiano Ronaldo.

Italia

Luar biasa melawan Belgia, kesulitan melawan Swedia, dan keok melawan Irlandia.

Kuda-kuda hitam seperti Kroasia, Belgia, dan Wales pun tidak ada yang mencatat rekor sempurna. Pelipur lara justru datang dari tim underdog macam Islandia. Bukan hanya dari permainan yang ulet di lapangan, melainkan dari aksi komentatro mereka semacam ini:

2. Sistem peringkat tiga yang membingungkan

Konsekuensi dari ekspansi peserta putaran final menjadi 24 tim berimbas pada 6 grup dan tiket babak 16 besar untuk 4 peringkat tiga terbaik. Alhasil, hitung-hitungan untuk menentukan siapa yang lolos dan siapa yang tidak, menjadi terlalu rumit. Penentuan lawan tim peringkat satu di babak berikutnya juga menjadi tidak merata; ada juara grup yang melawan peringkat 3 dan ada yang melawan peringkat 2. Ada juga tim-tim seperti Albania dan Turki yang harus menunggu tiga hari untuk memastikan diri angkat koper dari Perancis. Yah, setidaknya waktu yang kosong bisa mereka manfaatkan untuk menonton episode Game of Thrones yang terlewatkan.

Albania

Albania, korban PHP sistem peringkat tiga terbaik

Here's an idea, Monsieur Platini: bagaimana kalau lain kali 24 negara dibagi menjadi empat grup berisi enam tim dengan tiket 16 besar untuk 2/4 tim terbaik? Pertandingan tambah banyak, tetapi tetap genap!

3. Prediksi peraih sepatu emas yang menyesatkan

Sejauh ini, semua favorit penghargaan Sepatu Emas bermain dengan busuk. Top skorer babak kualifikasi Euro 2016, Robert Lewandowski belum pecah telur. Sang runner-up, Zlatan Ibrahimovic, resmi pensiun dari timnas Swedia tanpa mencetak gol di babak grup. Thomas Muller edisi Euro ternyata berbeda dengan edisi Piala Dunia. Harry Kane tampak kelelahan. Cristiano Ronaldo bakal memenangkan Sepatu Emas seandainya yang dihitung adalah jumlah shots. Pemain muda seperti Romelu Lukaku sekalipun terlihat gelagapan saat menghadapi pertahanan yang berkelas seperti Italia.

Top skorer sementara turnamen ini justru Gareth Bale dan Alvaro Morata dengan tiga gol. Yang satu mengandalkan situasi bola mati, dan yang satunya lagi membuktikan bahwa labelnya sebagai big game player tidak hanya berlaku di klub saja. Sebelum turnamen, peluang di bursa taruhan bagi Morata meraih sepatu emas adalah 25/1, sedangkan Bale 50/1. Saya berani bertaruh bahwa Anda pun tidak menjagokan keduanya sebagai unggulan utama top skorer Anda sebelum turnamen ini dimulai.

Gareth Bale

Gareth Bale memimpin daftar top skorer berkat eksekusi tendangan bebasnya

Lebih banyak feature setiap harinya di FFT.com