Untold Stories Klub-Klub Asia Tenggara: Lanexang United

Asia Tenggara memiliki sejarah sepakbola yang kaya, dengan beberapa nama klub besar terkait dengan beberapa tim yang kurang dikenal. Di edisi keempat seri terbaru kami, FourFourTwo melihat lebih dekat Lanexang United, sebuah klub ambisius yang membuang banyak uang untuk membantu membangkitkan sepakbola di Laos...

Selama lebih dari tiga abad sebelum dikenal dengan namanya sekarang, Laos adalah Kerajaan Lan Xang; tanah bagi jutaan gajah.

LANEXANG UNITED

DIDIRIKAN

2014 (Sebagai Lanexang Intra FC)

FIGUR PEMIMPIN

Phanthachith Inthilath – Sang pemilik dan presiden, ia adalah sosok pendorong di balik berkembangnya klub ini dan memiliki ambisi untuk membuat klub ini menjadi salah satu klub terbaik Asia Tenggara dalam satu dekade ke depan

David Booth – Seorang manajer Inggris veteran yang memiliki pengalaman hampir dua dekade melatih di regional ini. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai pelatih hanya satu minggu sebelum dimulainya musim ini

WARNA SERAGAM

Merah dan Putih

PELATIH TERSUKSES

Eduardo Almeida – Di sebuah klub yang memiliki banyak pelatih, ahli taktik asal Portugal ini adalah sosok yang paling banyak memimpin di musim 2015, ketika klub ini finis di posisi kedua

KANDANG

Lanexang Stadium

KAPASITAS

10.000

Dalam hal sepakbola, sejak dulu ini adalah tanah bagi jutaan masalah. Korupsi dan mismanajemen - sebagaimana terjadi juga di banyak negara Asia Tenggara - memenuhi sepakbola Laos.

Tahun lalu, ada klaim yang menyebutkan mengenai kasus jual-beli pemain-pemain muda Afrika, dan terjadi di saat yang sama ketika ketua federasi sepakbola Laos dihukum FIFA selama dua tahun karena kasus suap.

Di atas lapangan, sejak olahraga ini datang ke negara ini, Laos kesulitan untuk menancapkan kukunya di level regional, jangan tanya bagaimana mereka di level benua atau dunia.

BACA JUGA: Untold Stories Klub-Klub Asia Tenggara: Buriram United

Tim nasional laki-laki mereka tak pernah lolos ke Piala Asia, dan mereka juga tak pernah lolos dari babak grup Kejuaraan ASEAN (Piala AFF). Meski beberapa hasil bagus akhir-akhir ini di bawah pimpinan pelatih berpengalaman, Steve Darby, Laos sejak dulu telah dianggap sebagai salah satu negara terlemah di Asia.

Namun sebuah klub ambisius ingin mengubah semua itu dan setelah menghabiskan lebih dari US$10 juta selama dua tahun terakhir, tim yang dinamai dengan nama kerajaan masa lalu mereka, Lanexang United, jelas sukses menarik perhatian.

Sebagian besar dari 14 klub liga utama Laos hanya memiliki fasilitas dasar, tetapi Lanexang kini dalam trek untuk menjadi salah satu tim dengan anggaran dan manajemen terbaik di Asia Tenggara.

Bulan lalu, FourFourTwo mengunjungi ibukota Laos, Vientiane, dan melihat sendiri bagaimana ambisiusnya klub ini dan seberapa cepat impian itu menjadi kenyataan.

Sejak fajar hingga senja, ada anak-anak kecil yang berlari dengan bola sepak di kaki mereka di fasilitas latihan klub yang baru. Banyak di antaranya yang mengenakan seragam replika Lanexang dan seringkali baru pulang setelah matahari tenggelam dan gerbang lapangan dikunci.

Di dalam fasilitas latihan dan rekreasi multi-fungsi ini, Anda bisa melakukan apapun - dari berenang, berolahraga, dan bahkan melaksanakan pernikahan - ini adalah sebuah klub yang ingin membawa sepakbola ke dalam kehidupan sehari-hari kota di pinggir Sungai Mekong yang berpenduduk seperempat juta jiwa ini.

Kantor pusat Lanexang United

BACA JUGA: Untold Stories Klub-Klub Asia Tenggara: Chin United

Sosok di balik visi klub ini adalah Phanthachith Inthilath, seorang pebisnis yang mengubah kecintaan masa kecilnya akan sepakbola menjadi sebuah organisasi yang ia targetkan akan menjadi salah satu yang terbaik di Asia Tenggara dalam waktu satu dekade.

“Adalah impian setiap anak di Laos untuk menjadi seorang pesepakbola, tetapi ketika saya tumbuh, segalanya sulit karena kami tidak punya banyak fasilitas," katanya kepada FourFourTwo di tribun Stadion Lanexang.

“Jadi sekarang setelah berbisnis selama lebih dari 15 tahun, saya memiliki kesempatan untuk menyadari impian masa kecil saya dan terlibat dalam sepakbola."

“Saya ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak Laos karena saya melihat semua anak di sini memiliki bakat dan ingin bermain sepakbola, tetapi tidak ada yang berinvestasi pada infrastruktur sepakbola yang layak, akademi, dan segala hal lainnya.”

Phanthachith Inthilath, pemilik dan presiden Lanexang

Apa yang telah Phanthachith lakukan adalah berinvestasi pada fasilitas dalam tataran yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara ini.

Stadion berkapasitas 10.000 penonton yang modern telah menjadi permata bagi ibukota Laos, tetapi adalah fasilitas latihan dalam dan luar ruangan, pusat kebugaran modern, kolam renang, dan kantor pusat adminstrasi mereka lah yang membuat klub ini berbeda dari yang lainnya di Asia Tenggara.

“Ketika saya kecil, saya ingat melihat betapa populernya sepakbola," katanya. "Setiap kali ada Piala Dunia, orang-orang akan berkumpul dan menyaksikan pertandingan dan inilah hidup saya, mimpi saya, untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat anak-anak ini memenuhi impian mereka."

“Sekarang kami telah memiliki banyak fasilitas dan, dengan sepakbola terus semakin populer di Laos, kami punya kesempatan untuk benar-benar melakukan sesuatu dengan klub ini.”

Continue reading on the next page