Wembley Mungkin Terlalu Dini Bagi Wilshere, Tetapi Dia Sudah Siap Untuk Musim Depan

Greg Lea memperkirakan bagaimana karier gelandang Arsenal ini di musim 2015/16, setelah akhir yang menjanjikan di musim ini...

Rangkaian penampilan hebat Arsenal dengan delapan kemenangan beruntun dan 10 pertandingan tak terkalahkan dicapai dengan komposisi tim yang hampir sama. Pada sebagian pertama dalam rangkaian pertandingan tersebut, hanya terjadi perubahan kecil: Gabriel, Per Mertesacker, dan Laurent Koscielny diberikan kesempatan untuk menjadi bintang di posisi bek tengah, Calum Chambers dan Hector Belerin berbagi posisi bek kanan dan Tomas Rosicky, Danny Welbeck, Theo Walcott, dan Alex Oxlade-Chamberlain diberikan kesempatan sebagai starter dalam berbagai kesempatan.

Selanjutnya, starting line-up Arsene Wenger selalu konsisten: dimulai dengan kemenangan 4-1 di kandang atas Liverpool pada awal April, manajer asal Perancis ini menggunakan komposisi yang sama untuk enam pertandingan selanjutnya, sesuatu yang jarang dilakukan di sepakbola modern dan pertama kalinya dilakukan Arsenal sejak 1994.

Mertesacker dan Koscielny tak tergantikan di jantung pertahanan, Bellerin merebut tempat utama di bek kiri, Aaron Ramsey dipindah ke sisi kanan dengan Alexis Sanchez di kiri dan Mesut Ozil dimainkan di belakang Olivier Giroud. Santi Cazorla digeser ke tengah bersama Francis Coquelin.

Line-up tersebut begitu konstan sehingga membuat mereka yang terpinggirkan hampir terlupakan. Walcott, salah satu pemain yang harus menepi karena kombinasi cedera dan performa bagus para pemain pilihan Wenger, mengumumkan comebacknya dengan mencetak hat-trick ke gawang West Bromwich Albion di hari terakhir liga, sementara penampilan Kieran Gibbs di pertandingan tersebut dan melawan Sunderland empat hari sebelumnya memberikan kesan bahwa ia bisa membuat posisi Nacho Monreal di bek kiri goyah.

Namun pemain yang paling membuat fans Arsenal sumringah karena kembalinya adalah Jack Wilshere. Pemain berusia 23 tahun ini mengalami musim yang diwarnai lagi oleh masalah ankle, membuatnya harus absen selama enam bulan dan hanya sembilan kali menjadi starter di Premier League, plus enam lainnya di kompetisi lain.

Penampilannya lagi di tim utama, karena itu, sangat dinantikan menjelang final Piala FA melawan Aston Villa di Wembley pada hari Sabtu ini. Telah memastikan diri lolos ke babak grup Liga Champions musim depan, Arsenal kini berharap memenangkan kompetisi piala domestik utama di Inggris untuk kali kedua secara beruntun agar memastikan bahwa ini adalah musim yang positif. Setelah kembali dari absen panjang, Wilshere bisa langsung mendapatkan peran yang sangat besar bagi The Gunners, yang sangat ingin mencapai ambisi tersebut.

"Dia Bukan Seorang Perebut Bola"

Setelah bermain sebagai pengganti dalam penampilan pertamanya sejak November kala Arsenal menang 3-1 di Hull awal bulan ini, Wilshere mendemonstrasikan apa yang ia bisa berikan bagi tim meski hanya 22 menit di atas lapangan.

Gelandang timnas Inggris ini bermain dengan penuh semangat dan energi, dengan sering menggiring bola melewati tengah lapangan dan sering memberikan umpan langsung ke depan. Ia juga menjaga bola dengan baik, dan 19 dari 20 umpan suksesnya membantu Arsenal memastikan kemenangan di akhir pertandingan. Itu adalah penampilan cameo yang impresif, terutama jika mengingat lamanya pemain berusia 23 tahun ini absen tanpa pertandingan kompetitif.

Masih ada debat di mana sebetulnya posisi terbaik Wilshere. Ia pernah dimainkan sebagai pemain No. 10 di musim-musim sebelumnya, dan mendapat tanggung jawab menjadi kreator di lini depan.

Namun akhir-akhir ini Wenger memainkannya di sisi kanan, membuatnya bisa menusuk ke tengah dan memanfaatkan kaki kirinya. Ini artinya ia bisa terlibat dalam build-up play dan memanfaatkan celah di antara lini lawan, tetapi juga membuatnya memiliki tanggung jawab defensif di sisi lapangan.

Tetapi perannya di masa depan sepertinya akan tetap di tengah lapangan. Kemampuan utama Wilshere adalah kemampuannya untuk menerima bola sambil membelakangi gawang dan berlari cepat ke depan. Ketika posisinya terlalu tinggi, ia kehilangan kesempatan untuk melakukan kemampuannya tersebut dan harus turun lebih dalam untuk mencari bola, membuat Arsenal kekurangan pemain di depan dan kelebihan pemain di tengah. Wilshere masih kerap bermain dengan seenaknya, dan kurangnya kedisiplinannya untuk bermain sebagai gelandang bertahan membuat Wenger sendiri yang mengungkapkannya ke pers pada Oktober lalu, “Ia bukan seorang perebut bola... Saya percaya ia lebih sebagai pemain yang Anda inginkan di sepertiga lapangan terakhir. Membuatnya tampil di posisi yang dalam berarti merebut efisiensinya. Ia adalah pemain yang senang melakukan penetrasi ketika ada banyak pemain di depannya, ia bisa memprovokasi agar mendapatkan tendangan bebas, ia bisa menciptakan ruang. Akan merugikannya jika ia tidak ditempatkan di tempat yang membuatnya bisa menampilkan kekuatannya.

Pelari Box-to-Box

Maka posisi di mana Wilshere bisa bersinar adalah sebagai gelandang box-to-box, di samping gelandang penghancur yang lebih defensif seperti Coquelin. Meski tak seglamor pemain Tottenham Hotspur, Harry Kane, kemampuan Wilshere untuk melakukan penetrasi kurang lebih memiliki signifikansi yang sama dengannya. Posisi tersebut akan membuat Wilshere bisa berlari ke depan dan bergabung dengan lini depan untuk menyerang, di mana ia juga bisa memanfaatkan kakinya yang brilian di area yang padat pemain. Ditambah lagi, kemampuannya untuk menerima bola sambil membalik badan dan ia pun bisa berlari dengan cepat dari tengah lapangan. Dalam kemenangan 4-1 atas West Brom pada hari Minggu lalu, misalnya, ia melakukan empat upaya melewati pemain lawan dalam posisi satu lawan satu – tidak ada pemain lainnya di laga tersebut yang melebihinya.

Wilshere telah melakukan segala yang ia bisa untuk bisa menjadi starter di final Piala FA Sabtu ini, tetapi pertandingan di Wembley nanti mungkin masih terlalu dini bagi gelandang berusia 23 tahun ini. Cazorla dan Coquelin sepertinya akan melanjutkan kerja sama mereka di lini tengah, membuat peluang bermain Wilshere di laga nanti mungkin adalah sebagai gelandang kanan.

Namun untuk waktu yang panjang, masa depan Wilshere jelas terletak di tengah lini tengah. Permainan khas terbaiknya dalam kariernya tetaplah saat Arsenal menang 2-1 atas Barcelona di Emirates Stadium pada 2011, yang mana menunjukkan inkonsistensi dan masalah cedera yang ia alami sejak itu (meski debut di Premier League pada 2008/09, Wilshere hanya satu kali menjadi starter dalam lebih dari 20 pertandigan di liga dalam enam musim beruntun).

Wilshere jelas merupakan pemain berbakat hebat, dan ia diharapkan bisa membuktikannya dengan terus fit pada 2015/16. Penampilan kelas atasnya di final Piala FA akan membuat Arsenal teringat apa yang hilang dari tim mereka selama ini.