Where Are They Now: Bagaimana Nasib Para Pemain PSSI Primavera dan Baretti Saat Ini?

Demi mengembangkan sepakbola Indonesia, PSSI pernah mengirim pemain-pemain muda berbakat ke Italia untuk menimba ilmu. Mereka kemudian dikenal dengan nama PSSI Primavera dan PSSI Baretti. Yudha Prastianto mencari tahu bagaimana kehidupan para pemain mantan lulusan program Primavera dan Baretti tersebut saat ini...

Dalam upaya menelurkan bibit muda berbakat tanah air serta menorehkan prestasi di level internasional, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sejatinya terus mengadakan program-program pembinaan usia muda yang diproyeksikan berlaga pada sejumlah kejuaraan di kawasan Asia. Dengan gelontoran dana yang sangat besar, PSSI kemudian mengumpulkan para pemain muda yang selanjutnya dikirim ke luar negeri untuk mengikuti kompetisi dan mendapat asupan ilmu sepakbola yang lebih baik.

Sejarah mencatat bahwa otoritas tertinggi sepakbola Indonesia itu sudah beberapa kali mengadakan program menjanjikan yang sukses menelurkan pemain-pemain hebat nan legendaris sejak medio 1970-an. Sebut saja PSSI Garuda I dan II, Pratama, Bina Utama, Primavera, Baretti sampai yang terakhir Sociedad Anonima Deportiva (SAD).

Dari banyaknya program yang telah disebutkan di atas, tentu saja terobosan yang paling tersohor dan menyita perhatian publik saat itu adalah PSSI Primavera dan Baretti di tahun 1993 sampai 1996. Kita tentu masih ingat dengan nama-nama Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandy, Imran Nuhamury atau Charis Yulianto. Mereka semua adalah lulusan dari dua proyek ambisius tersebut.

Saat itu, tim Primavera yang lebih dulu dikirim ke Italia untuk mengikuti kompetisi Serie C2 mayoritas diisi pemain-pemain usia di bawah 19 tahun, sedangkan Baretti adalah para pemain yang usianya di bawah 16 tahun. Mereka semua diambil dari hasil seleksi Piala Haornas yang dilakukan oleh trio Danurwindo, Harry Tjong dan Sartono Anwar.

Mengapa Italia? Tentu saja karena pada saat itu kompetisi Serie-A diakui sebagai kompetisi terbaik di dunia. Oleh karena itu PSSI di bawah Ketua Umum Azwar Anas mengirimkan para pemuda tersebut ke negara yang telah menjuarai Piala Dunia sebanyak empat kali itu.

Lalu, di manakah para pemain PSSI Primavera dan Baretti saat ini? Saya kemudian coba bertanya langsung kepada sang pelaku, Imran Nahumarury, terkait hal itu dan mendapatkan sepuluh nama yang akhirnya saya paparkan dalam artikel ini…

1. Kurnia Sandy

Kiper kelahiran Semarang ini merupakan salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Keberhasilannya masuk menjadi bagian dari Primavera adalah berkat penampilan apik bersama tim PSSI Jawa Tengah (Jateng). Eks penjaga gawang Arema Malang ini pernah satu musim berseragam klub Serie A, Sampdoria, di masa kepelatihan Sven-Goran Eriksson pada musim 1996-97. Di klub berjuluk Blucerchiati tersebut, Kurnia menjadi kiper lapis keempat.

Kini setelah tak lagi aktif sebagai pemain, Kurnia sibuk bergelut di dunia kepelatihan. Selepas pensiun pada tahun 2012 lalu, dirinya tercatat sebagai staf kepelatihan Frenz United Indonesia. Dirinya sempat dirawat di rumah sakit pada tahun 2015 kemarin, tetapi kini. Kurnia telah kembali sehat dan membantu Rahmad Darmawan di klub Malaysia, T-Team sebagai pelatih kiper.

2.Aples Tecuary

Pemain asli Papua ini menjadi palang pintu andalan tim nasional Indonesia pada masanya. Bakat sang pemain tercium sejak membela tim sepakbola Papua di ajang PON XIII Jakarta. Di ajang tersebut, Aples sukses menyumbangkan medali emas.

Setelah gantung sepatu dari timnas Garuda pada 2004 silam, Aples masih aktif bermain untuk sejumlah klub profesional di Indonesia. Beberapa klub seperti Persija Jakarta dan Perseman Manokwari pernah menggunakan jasa sang pemain sebelum benar-benar pensiun dari lapangan hijau setahun setelahnya.

Foto: Juara.net

Meski tidak ada kabar pasti terkait Aples di media, namun Imran Nuhamury mengatakan bahwa pria yang pernah mengalami rabun ayam ketika masih bermain tersebut kini menjadi pelatih untuk tim PON Papua Barat. “Iya, Aples kalau tidak salah sekarang jadi pelatih di tim PON Papua Barat.” kata Imran.

Pages