2050, Tiongkok Targetkan Jadi Raksasa Sepakbola Dunia

Senin kemarin federasi sepakbola Tiongkok mempublikasikan rencana detail untuk mewujudkan target ambisius menjadikan timnas mereka adidaya sepakbola dunia per 2050.

Tiongkok tidak main-main dalam upaya mewujudkan ambisi jangka panjang menjadi salah satu raksasa sepakbola dunia.

Rencana besar buat menjadi superpower di cabang sepakbola pada 2050 mendatang telah diformalisasi menyusul penyampaian strategi detail untuk membantu mendongkrak popularitas olahraga ini di Negeri Tirai Bambu.

Presiden Xi Jingping selaku pemimpin negara merupakan penggemar sepakbola dan ia sebelumnya telah menyatakan keinginan untuk melihat Tiongkok menjuarai Piala Dunia dalam rentang 15 tahun ke depan.

Meski sebelumnya Team Dragon, julukan tim nasional Tiongkok, sebelumnya hanya pernah sekali menembus putaran final PD pada 2002, hal itu tak menghalangi federasi sepakbola Tiongkok (CFA) mengusung ambisi tinggi. Perencanaan pun disusun agar timnas bisa berprestasi lebih dari sekadar lolos PD dalam beberapa dekade mendatang.

Pada Senin (11/4) kemarin CFA telah mempublikasikan rencana mereka yang di dalamnya meliputi jangka pendek, menengah, dan panjang untuk negara.

Salah satu targetnya adalah menggerakkan 50 juta dari total populasi 1,357 miliar warga Tiongkok untuk bermain sepakbola pada 2020. Sementara, ditargetkan pula akan ada 20 ribu pusat latihan sepakbola plus 70 ribu lapangan pada deadline yang sama.

Dalam susunan rencana tersebut juga terdapat target bagi tim nasional pria Tiongkok untuk menjadi salah satu negara Asia berperingkat tertinggi per 2030, sementara timnas wanita juga harus ikut dipertimbangkan sebagai tim kelas dunia.

Sementara, pada 2050 Tiongkok mesti dikategorikan sebagai "adidaya sepakbola kelas satu" yang "berkontribusi pada dunia sepakbola internasional".

Publikasi rencana ini sendiri muncul seturut aktivitas bursa transfer yang menghebohkan di Liga Super Tiongkok, kasta teratas Negeri Tirai Bambu. Rekor transfer termahal dipecahkan hingga empat kali oleh klub-klub yang mengakuisisi bintang-bintang kelas wahid seperti Alex Teixeira, Ramires, Jackson Martinez, dan Ezequiel Lavezzi dari tim Eropa.

Terlepas dari rencana mendetail ini, tetap muncul suara pesimistis, khususnya menyangkut perkembangan di tingkat grassroots. Lawrie McKinna, mantan pelatih di Liga Super Tiongkok, menyatakan kondisi 

"Saya ke sana beberapa bulan lalu sebelum Natal dan sepakbola grassroots mereka lambat sekali," ungkap Lawrie McKinna, mantan pelatih di Liga Super, kepada Omnisport, Februari silam.

"Saya sempat mengadakan pertemuan dengan sepakbola Beijing dan mereka punya 60 klub yang terdaftar. Saya pikir populasinya 20 juta, padahal di Central Coast [di Australia, dengan populasi sekitar 330 ribu] kami punya 23 [klub] hanya di wilayah itu saja."