Ada Apa Dengan Memphis Depay?

Kedatangan Memphis ke United semula mengundang banyak optimisme, bahkan ia dibandingkan dengan CR7. Ironisnya, ia malah dicap payah dan arogan oleh media belakangan ini. Ada apa?

Walau judul artikel ini mirip dengan salah satu film nasional yang termahsyur itu, konten dari artikel ini sama sekali tidak bercerita tentang cerita cinta yang berakhir bahagia selamanya. Tidak ada romantisme, tidak ada klimaks menggugah, apalagi anti-klimaks elegan. Malahan, apa yang tertulis di sini justru berbau negatif, cenderung pesimistis terhadap kisah ironi Memphis Depay .

Ketika datang sebagai topskor Eredivisie dengan 22 gol, Memphis mengundang begitu banyak perhatian di Manchester United . Kehadiran sang winger bahkan mengalihkan perhatian media dari isu kepergian David de Gea. Nyaris semua pers justru tertarik pada potensi sang winger Belanda, yang belum lama tiba saja sudah dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo.

Memphis menanggapi ekspektasi itu secara dewasa. Ia tak mau besar kepala dan dengan rendah hati mengatakan, “Saya tak ingin mengatakan kalau saya bisa menjadi pemain seperti itu, tetapi saya rasa saya bisa membuat para fans gembira. Ini tidak mudah, tentu saja. Saya telah berlatih tiga kali pekan ini dan saya sudah merasakan bedanya dari bermain di liga Belanda. Saya harus membuktikan diri saya dan bekerja keras sehingga saya bisa menunjukkan bos kalau saya bisa mengatasinya.”

Fans mana yang tidak terbang ke bulan ketika melihat pemain anyarnya begitu rendah hati, padahal ia memiliki segudang prestasi bersama PSV Eindhoven. Performanya di awal musim bahkan terbilang istimewa. Eksplosivitas, teknik, dan naluri untuk menembaknya membuat publik Manchester berharap besar padanya. Tiga gol di Liga Champions dan satu gol di Liga Primer Inggris turut ia persembahkan sebagai kesan pertama.

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya? Terserah pada media...dan mereka mulai mempertanyakan kepantasan sang winger 21 tahun itu untuk mengenakan No.7 di Old Trafford.

Adaptasi menjadi masalah utama sang winger Belanda. Ia boleh saja moncer ketika bermain di Liga Champions, tetapi ketajaman dan kemampuannya itu gagal direplika di Liga Primer. Selain satu gol ke gawang Sunderland, Memphis tidak mampu memaksimalkan peluang di depan gawang. Total 25 tembakan ia lepaskan, itu berarti konversi gol Memphis hanya mencapai kisaran 4 persen - bandingkan dengan catatan 13,1 persen yang ia catatkan bersama PSV.

Kritik pun melebar. Tidak hanya pada efektivitas sang winger di depan gawang, melainkan pada gaya bermain Memphis yang cenderung egois. Kesan pertama sang winger memang menggambarkan sosok pemain yang rendah hati, namun statistik malah menunjukkan sebaliknya. Memphis malah menampakkan kesan tinggi hati di lapangan. Ia terlalu sering membawa bola dan jarang menggunakan opsi untuk melakukan umpan pendek kepada pemain United lain. Dalam laga kontra Arsenal, Memphis bahkan tidak jarang menolak untuk mundur dan membantu pertahanan.

Ironisnya, Memphis menjadi pemain paling sering kehilangan bola di United. Setidaknya di setiap laga, ia kehilangan bola empat kali. Angka ini bahkan unggul jauh (secara negatif) dari catatan Wayne Rooney yang ada di belakangnya, yang hanya kehilangan bola 2,6 kali per laga. Catatan dribel Memphis pun tidak mengesankan, sekitar 1,4 dribel sukses dilakukan per laga, kalah mengesankan dari Anthony Martial dengan rerata 3,5 dribel sukses per laga.

Selain itu, visi sang winger dalam berbagi bola juga mulai diragukan karena ia hanya mampu memberikan empat umpan kunci dalam delapan laga Liga Primer. Dengan rerata 0,5 per laga, catatan Memphis ini merupakan yang terburuk dibandingkan dengan gelandang serang (dan winger ) lainnya di United. Angka ini bahkan kalah dari Luke Shaw, yang notabene berposisi sebagai bek dan beroperasi di sektor yang sama dengan Memphis, karena sang bek Inggris mencatatkan rerata 0,8 umpan kunci per laga.

Jeda internasional tidak memperbaiki kesan lanjutan dari Memphis. Ketika Belanda tersingkir dari kualifikasi Euro 2016, Memphis kembali menuai kritik karena penampilan buruknya. Ia jarang memberikan umpan pendek kepada rekan setimnya baik ketika menghadapi Kazakhstan maupun Republik Ceko. Seolah-olah Memphis masih ingin membuat Louis van Gaal, yang mengagungkan aksi individual dalam membawa bola, terkesan, dan mengorbankan kolektivitas yang coba diusung oleh Danny Blind.

Sebagai tambahan, Memphis juga terlibat konflik dengan Robin van Persie ketika latihan. Penyerang veteran Belanda itu diduga kecewa pada Memphis yang tidak memberikan bola pada sang penyerang ketika latih tanding. Isu ini tentu tidak lepas dari sorotan media yang semakin menyudutkan dan memperburuk sosok Memphis di mata publik.

Media ternyata tidak puas mengulik permasalahan Memphis di dalam lapangan, terutama media Inggris. Mereka mulai menyorot kehidupan pribadi sang winger , menempatkannya sebagai headline , dan ternyata penemuan mereka cukup (tidak) mengejutkan.

Ketika tiba di Manchester, Memphis menuntut apartemen dengan enam ruang tidur yang dilengkapi kolam renang dan ruang bioskop pribadi. Tetapi niatnya tersebut ditampik oleh United. Pihak klub menegaskan kalau mereka lebih terkesan dengan gaya hidup yang tidak mewah dan menyarankan pemukiman sederhana dekat tempat latihan United di Carrington.

Toh , hal tersebut tidak terlalu berpengaruh pada Memphis. Sang winger akhirnya memilih untuk tinggal di Beetham Tower, salah satu bangunan tertinggi di pusat kota Manchester yang menawarkan kemewahan tiada tara. Ia bahkan melengkapi tempat tinggalnya dengan ring tinju pribadi – yang juga menjadi bagian dari apartemennya di Eindhoven.

Gaya hidup sosialita winger Belanda itu juga menuai kritik belakangan ini, menyusul keputusannya untuk jalan-jalan ke pusat kota sesaat setelah United kalah 3-0 dari Arsenal. Jelas tingkah laku itu mendapat kritik dari beberapa pihak, terutama Ryan Giggs yang menjadi asisten manajer United. Giggs mulai khawatir dengan prinsip hidup work hard , play hard yang diusung Memphis dan ia menuntut anak didiknya itu untuk tetap bersikap low-profile .

Satu pernyataan menarik juga dilancarkan oleh mantan penyerang timnas Belanda, Youri Mulder. "Ia bermain bagus dalam satu pertandingan bersama United, melawan Club Brugge," ungkap mantan gelandang Twente dan Schalke itu pada NOS . "Di Liga Primer, ia kesulitan, namun sikapnya malah menunjukkan seolah ia bintang besar. Sepertinya orang-orang di Manchester United mulai muak dengan hal ini," tandas Mulder.

Terlepas dari latar belakang anak seorang wartawan dan pilihan kata yang cenderung cerdas, perkataan Mulder ada benarnya. United mulai muak dan hal itu sudah terlihat dalam komentar Giggs. Belakangan, sang manajer Louis van Gaal juga menunjukkan kalau ia “muak”, dimulai dengan tidak memainkan Memphis kontra Everton, lalu memberikan sindiran tajam terhadap anak asuhnya itu.

“Beberapa pemain tidak bisa beradaptasi dengan filosofi tim. Seorang pemain tidak boleh merasa lebih baik dibandingkan yang lain. Ini yang terjadi dengan Di Maria dan Falcao, keduanya pemain hebat tetapi mereka tidak mampu menyatu dengan filosofi tim,” ujar Van Gaal.

“Depay punya banyak kualitas, seperti halnya pemain lain. Apakah saya masih percaya kepadanya? Tentu saja. Masalahnya, para pemain muda seperti dirinya masih belum bisa bermain secara konsisten. Ia harus terus belajar dan kami akan memberikannya waktu.”Sudah pasti Van Gaal akan memberikan Memphis waktu, apalagi ia masih berusia 21 tahun. Seandainya Memphis mampu mempertahankan kerja keras dan konsistensi, lalu tampil gemilang di lapangan, mungkin semua “kenakalan remaja” yang ia lakukan bakal dilupakan oleh publik.

Namun waktu dan kesempatan saja tidak cukup untuk menjadikan Memphis sukses. Winger berbakat itu harus menekan arogansi dan – kalau perlu – mengubah gaya hidupnya. Media bisa menjadi kekuatan, tetapi kehidupan mewah versi Memphis hanya akan menambah beban ekspektasi yang telah disandangnya sebagai manusia berharga £25 juta. Belum lagi, media punya hak unik untuk memberikan label "arogan" padanya selama ia masih kesulitan beradaptasi.

Jika hingga akhir musim ia masih gagal menghadirkan perkembangan, mungkin media-media Inggris bakal menguarkan sekuel atas ironi ini. Mungkin juga dengan nada yang lebih pesimis dari sekadar mempertanyakan "Ada apa dengan Memphis?".