Air Mata Dimitri Payet

Gol indah Dimitri Payet ke gawang Rumania menandai kebangkitan Prancis.

Oleh: Agung Harsya

Prancis menangis. Dua kata berima ini masih membekas dalam ingatan saya. Itu gara-gara kegagalan beruntun Prancis melangkah ke Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Empat tahun sebelumnya, Prancis juga absen di Italia. Akibat dua kegagalan beruntun itu, sebagai seseorang yang mulai mengenal sepakbola pada awal 1990-an, bagi saya Prancis bak sebuah misteri.

Kegagalan Prancis ke Amerika Serikat sangat dramatis. Dengan sisa dua laga kualifikasi, Prancis di atas angin. Namun, tiket malah lepas dari genggaman. Sudah unggul 2-1 saat menjamu Israel hingga tujuh menit terakhir, Prancis malah tumbang, 3-2. Alhasil, laga pamungkas melawan Bulgaria sangat menentukan dan Prancis hanya membutuhkan hasil seri untuk lolos.

Laga kembali dimainkan di Paris. Gol Eric Cantona dengan cepat disamakan Emil Kostadinov di pengujung babak pertama. Petaka tercipta di 15 detik terakhir pertandingan. Lewat serangan balik cepat, Kostadinov menghujamkan bola ke dalam gawang Bernard Lama. Denyut jantung skuat Prancis seketika terhenti. Pelatih Gerard Houllier, asisten Aime Jacquet, serta Michel Platini yang menyaksikan dari tribun, terpana.

Ketika wasit menyudahi pertandingan, Didier Deschamps memegangi kepalanya sendiri seolah tak percaya. Air matanya menggenang dan dia terisak. Les Bleusgagal melintasi Atlantik. Sontak seluruh Prancis pun bersimbah air mata.

Les yeux pour pleurer. Kedua mata ada untuk menangis. Secara lebih luas, frase itu bermakna seseorang yang telah kehilangan segalanya sehingga hanya menyisakan kedua matanya untuk menangis.

Usai kegagalan itu, Prancis bangkit membangun kekuatan. Jacquet, yang menggantikan peran Houllier sebagai pelatih, menjadikan Euro 1996 sebagai ajang audisi untuk Piala Dunia 1998 -- turnamen yang akan dihelat di kandang sendiri. Prancis tampil dengan generasi baru, salah satunya adalah Zinedine Zidane.

Putra imigran asal Aljazair itu mempesona dunia dengan mencetak dua gol kemenangan atas Brasil di final Piala Dunia 1998. Prancis menjadi juara dunia. Prestasi yang tak pernah mampu disamai oleh Platini sekalipun. Zidane kembali memimpin Les Bleus meraih kejayaan di Euro 2000. Dalam periode singkat, Prancis berada di puncak dunia dan Eropa sekaligus.

Inilah generasi "Black, Blanc, Beur". Generasi yang pernah dicibir politisi sayap kanan Jean-Marie Le Pen karena tidak fasih menyanyikan lagu kebangsaan "La Marseillaise". Generasi yang berisi tak hanya diisi kaum pribumi, tetapi juga para imigran dan keturunannya yang lahir di Prancis.

Kemajemukan skuat Les Bleus itu sesuai dengan paham universal yang dicetuskan saat Revolusi Prancis -- bahwa "setiap orang dilahirkan merdeka dan kesamaan hak". Namun, seperti yang diingatkan penulis Victor Hugo dalam "Les Miserables", kemerdekaan dan persamaan hak diwarnai pula oleh pergolakan.

Kecuali final Piala Dunia 2006, skuat Prancis diramaikan dengan kemelut internal. Mulai dari pembangkangan Raymond Domenech, Samir Nasri, hingga skandal Karim Benzema. Prancis gagal di fase grup Euro 2008 serta Piala Dunia 2002 dan 2010. Mantan juara dunia dan Eropa itu kembali membumi.

Deschamps, yang pernah menangis karena mimpi Amerika-nya sirna itu, diminta membangun ulang kekuatan Prancis usai Euro 2012. Kapten juara dunia dan Eropa itu memulainya dalam kondisi empat pemain menjalani sanksi disiplin -- Yann M'Vila, Jeremy Menez, Hatem Ben Arfa, dan Nasri. Deschamps harus membangun istana dari debu. Memulainya dari para pemain muda. Generasi kedua "Black, Blanc, Beur".

Empat tahun kemudian, Jumat (10/6) tadi malam, Deschamps menginjakkan kaki lagi di atas lapangan Stade De France, Saint-Denis. Pertandingan pembukaan Euro 2016 antara Prancis dan Rumania masih berlangsung satu jam lagi. Matanya memandangi sekeliling stadion, pikirannya mengenang masa-masa kejayaan menjadi juara dunia bersama skuat "anak semua bangsa".

Tantangan Deschamps besar. Bukankah dua kali penyelenggaraan turnamen besar di rumah sendiri, Euro 1984 dan Piala Dunia 1998, mendatangkan mahkota juara? Belum lagi siklus 16 tahun menjadi juara Eropa. 

Faktor non-sepakbola turut membebani penyelenggaraan turnamen kali ini. November tahun lalu, masyarakat dunia dikejutkan dengan serangan bersenjata yang menewaskan 130 orang. Keamanan jadi tidak menentu sehingga Pemerintah Prancis memberlakukan kondisi darurat termasuk selama Euro berlangsung.

Ketika turnamen yang ditunggu-tunggu mendekati Hari H, Paris dilanda banjir besar. Kondisi politik pun tidak bisa dikatakan baik akibat demonstrasi pekerja menentang pemberlakuan undang-undang baru oleh Presiden Francois Hollande. Para pekerja jawatan kereta api Paris melancarkan mogok sehingga penonton laga pembukaan Euro dihimbau untuk datang lebih awal. Pesta sepakbola ini dimulai dengan nuansa kelam.

Sembilan puluh menit laga Prancis-Rumania berlalu, Dimitri Payet keluar digantikan Moussa Sissoko dengan diiringi sorak tepukan tangan penonton. Satu menit sebelumnya, Payet melesakkan gol tendangan kaki kiri yang dahsyat dari luar kotak penalti. Gol yang benar-benar menggelora dan dramatis. Putra kelahiran Kepulauan Reunion itu menitikkan air mata.

Sayup-sayup terdengar bisikan Victor Hugo, "Bahkan malam yang paling gelap pun akan berakhir dan mentari akan terbit."

Tak perlu lagi ada air mata di Prancis.