ANALISIS: Minus Andrea Pirlo, Juventus Kurang "Liar"

Juventus memang membuktikan bahwa mereka tak lagi tergantung pada Andera Pirlo. Namun harus diakui fantasi mereka dalam menyerang jadi kurang "liar".

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Juventus bakal menghadapi ujian sesungguhnya musim ini dengan melawat ke San Siro, untuk menghadapi AC Milan, pada giornata 3 Serie A Italia 2014/15, Minggu (21/9) dini hari WIB. Tajuk Grande Parita dalam duel tersebut amat pas disematkan menilik sejarah dan performa terkini kedua klub. Meski kualitas tinggi permainan tetap jadi jaminan, harus diakui jika hal tersebut bakal sedikit terkikis dengan absennya sang maestro lapangan dari pihak Juve, Andrea Pirlo. Ya, musim ini sang metronom belum sekalipun tampil di laga kompetitif akibat masalah pada lututnya. Diprediksi bakal mentas di San Siro, kondisi Pirlo ternyata masih belum 100 persen. Kesuksesan Si Nyonya Tua dalam tiga musim terakhir tak lepas dari peran besarnya, tentunya di samping Antonio Conte sang mantan allenatore. Dicap sudah habis di AC Milan, Pirlo bangkit dengan memancarkan sinar super star-nya yang paling terik. Dan tak bisa dipungkiri, adalah kehilangan besar bagi Juve jika sang dirijen lapangan tak hadir. I Bianconeri memang tak bisa dibilang terlampau bergantung padanya, menilik komposisi skuat mumpuni yang mereka miliki. Hal itu cukup terbukti manakala tim asuhan Massimiliano Allegri menyapu bersih tiga laga kompetitif musim ini dengan kemenangan. Namun harus diakui, lawan-lawan yang dihadapi berada satu tingkat levelnya di bawah mereka.Lantas bagaimana jika Juve dihadapkan pada tim sekelas AC Milan, yang tengah berada dalam performa bagus?
Claudio Marchisio, gelandang hebat, namun tak memiliki fantasi seliar PirloUntuk mengantisipasi absennya Pirlo, Allegri menempatkan Claudio Marchisio di pos Il Metronom yang diapit oleh Paul Pogba dan Arturo Vidal dalam formasi lawas 3-5-2. Hasilnya tak mengecewakan memang, karena Il Futuro Capitano tampil tak kaku dan bahkan mampu mencetak sebuah gol saat hadapi Udinese pekan lalu.Namun permasalahan muncul di sini. Bolehlah Juve menang dengan Marchisio yang tampil brilian, tapi menilik satatstik dan paparan di atas lapangan, dengan tegas kesimpulan berkata bahwa sosok Pirlo yang sudah berusia 35 tahun masih belum bisa digantikan.Anda yang gemar memperhatikan permainan Si Hitam-Putih pasti merasakan efek tersebut. Tanpa Pirlo permainan Juve terasa kurang berfantasi, mengigit, dan liar, seperti biasanya. Satu hal yang diakui Allegri pasca pertandingan Liga Champions menghadapi Malmo, di mana Carlos Tevez cs menang 2-0."Kami bermain bagus memang. Namun seharusnya ada lebih banyak gol tercipta. Terlalu banyak peluang yang dibuang dan skema kami monoton. Kami bermain terlampau rapi," ungkap sang arsitek lapangan.Apa yang terpapar dalam partai melawan Malmo menunjukkan bahwa sejatinya Juve memang benar-benar membutuhkan Pirlo dalam level partai yang lebih tinggi. Dalam komentarnya, Marchisio pun menyadari bahwa dirinya tak mungkin mengkloning skill permainan sang senior. Satu hal yang rasa-rasanya juga ia ungkapkan pada Allegri menyoal taktik di atas lapangan. Orientasi Marchisio sebagai pusat distributor bola adalah umpan pendek ke sisi-sisi penyerangan. Amat jarang dirinya melepaskan umpan jauh mengejutkan ke sentral kotak penalti lawan yang lazim dilakukan Pirlo. Hal itu terpapar dari jumlah passing-nya yang "hanya" mencapai 185 operan dalam dua laga Serie A, jauh di bawah Pirlo yang memiliki rerata 140 passing per laga. Si No.8 bahkan hanya melepaskan 48 passing dalam partai melawan Malmo.Dengan orientasi seperti itu, pusat serangan Juve bakal berada pada pos winger yang ditempati Stephan Lichtsteiner dan Patrice Evra/Kwadwo Asamoah. Lama-kelamaan skema itu akan terlihat monoton dan otomatis lawan menjadi paham serta tahu bagaimana cara mengantisipasinya. Ketika efektivitas di lini depan tidak didapat, taktik "sederhana" itu bisa jadi bumerang. Carlos Tevez diandalkan Allegri untuk berikan sentuhan liar dalam serangan JuventusOtak Allegri tidak buntu. Secara psikologis, ia memang dikenal sebagai pelatih yang emosional jika berhadapan dengan pemain. Namun soal taktik? Max adalah salah satu yang terbaik di Italia. Ia lantas menarik posisi Carlos Tevez sedikit lebih ke dalam untuk memberikan sentuhan liar dalam serangan La Vecchia Signora.El Apache yang biasanya berontak jika ditempatkan pada pos yang tidak nyaman, mencoba bijak menanggapi posisi barunya. "Saya kesulitan mencetak gol? Mungkin karena Allegri ingin saya bermain lebih ke dalam. Tapi itu tak masalah karena toh saya masih bisa mencetak gol," ungkap sang Argentina, yang sudah mencetak tiga gol dalam tiga partai musim ini.Alternatif sempat dicoba Allegri dengan menempatkan Kingsley Coman sebagai penghubung lini tengah dan depan, sementara Tevez jadi stirker tunggal. Eksplosif dan agresif memang, tapi Coman masih terlampau muda dan ekfektivitas yang diharapkan pun tak didapat. Cover yang dilakukan Marchisio memang menjaga Juventus untuk tetap tampil sesuai standar. Namun keberadaan Pirlo sungguh vital, karena tim juara butuh sesuatu yang liar, yang luar biasa, yang membuat kita berdecak kagum. Bukan hanya bagus semata.Kini menghadapi lawan yang jauh lebih berkelas, akankah skema La Vecchia Omcidi bisa berjalan sebagaimana mestinya?

addCustomPlayer('k7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', '', '', 620, 540, 'perfk7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', 'eplayer4', {age:1407083307651});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics