ANALISIS: Tonggak Revolusi Bernama Manuel Neuer

Bosan dengan Ronaldo, Messi, Ronaldo, Messi? Kiper Jerman yang satu ini punya segudang faktor mengapa ia layak menggeser dominasi dua superstar itu.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Butuh lebih dari setengah abad lamanya untuk menengok kapan terakhir kali seorang penjaga gawang punya harga lebih tinggi ketimbang pemain di posisi lain. Adalah Lev Yashin dari Uni Soviet yang melakukannya di tahun 1963.
Sejak saat itu, Ballon d’Or hampir tidak pernah bersinggungan dengan para kiper. Memang ada beberapa nomine kiper yang bermunculan seperti Gianluigi Buffon (2006), Oliver Kahn (2001 dan 2002), atau Ivo Viktor (1982). Ujung-ujungnya, mereka takluk juga oleh pemain yang dianggap punya posisi lebih bergengsi ketimbang kiper.
Kiper memang sering dianaktirikan dalam sepakbola modern. Ibarat film, kiper hanya dianggap sebagai pemeran pendukung dari sang aktor protagonis: para pemain depan. Hal ini tercermin betul selama sewindu terakhir sebagaimana Ballon d’Or dikuasai mutlak oleh dua penyerang idola kita semua, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Hingga semua keniscayaan tersebut berubah sejak Manuel Neuer menyembul di antara nama Ronaldo dan Messi sebagai finalis Ballon d'Or edisi 2014. Awalnya, kemunculan Neuer sedikit mengagetkan karena kita sudah terlalu banyak disuguhkan aksi menawan para striker papan atas dengan gol-gol indahnya. Tak ayal, kita pun sering lupa kalau Ballon d’Or ternyata bisa dimenangi oleh seorang kiper!
Dan setelah dipikir-pikir dan diresapi sedalam mungkin, kiper Bayern Munich dan timnas Jerman itu memang pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia di sepanjang satu tahun kalender 2014. Ada dua faktor penentu, mengapa Neuer pantas menurunkan Ronaldo dan Messi ke urutan dua dan tiga pada Ballon d’Or kali ini.
Pertama adalah status Neuer sebagai juara dunia yang tak dimiliki oleh Messi dan Ronaldo. Harus diakui, keberhasilan Jerman menjadi kampiun Piala Dunia 2014 menjadi senjata andalan Neuer untuk membuat si manusia super dan si alien itu terlihat lemah.
Ajang sepakbola paling bergengsi di muka bumi itu juga menjadi saksi bahwa Neuer juga bukan sembarang kiper sehingga kita akan masuk ke faktor kedua, bahwasanya Neuer menjadi tonggak revolusi posisi penjaga gawang.
One Man Show | Aksi sweeper Manuel Neuer kontra Aljazair di Piala Dunia 2014 menahbiskan statusnya dalam merevolusi peran kiper.
Masih segar dalam benak para pecandu sepakbola ketika Neuer memeragakan aksi sweeper-keeper kontra Aljazair babak 16 besar Piala Dunia. Neuer menjadi seorang bek yang menggunakan sarung tangan. Ia keluar dari sarangnya, berlari bak sprinter, dan berulang kali melakukan intersep dan tekel krusial terhadap serangan balik Aljazair.
"Jika saya takut, saya bakal bertahan di zona saya. Saya tak boleh ragu. Ketika saya sudah mengambil keputusan, saya harus bisa mewujudkannya agar sukses," jelas kiper berusia 28 tahun ini.
Apa yang dilakukan Neuer ini bertentangan dengan anggapan umum bahwa kemampuan kiper dalam mengolah bola tidak sebaik pemain di posisi lain. Jamaknya, seorang kiper diwajibkan untuk sesegera mungkin menghalau bola yang mendekat ke arahnya. Tapi Neuer berbeda. Neuer berani mengambil risiko dengan bertugas sebagai sweeper.
Eks kiper Jerman Andreas Kopke bahkan mengatakan, jika ada yang lebih baik dari Neuer sebagai sweeper mungkin itu adalah Franz Beckenbauer. Pertanyaan berikutnya lantas muncul, apakah Neuer adalah kiper yang pertama melakukan hal ini?
Ternyata tidak. Beberapa nama seperti Rene “El Loco” Higuita atau bahkan Victor Valdes terbilang cukup sering melakukan aksi ‘gila’ ini. Sayang, publik akan lebih ingat dengan kegagalan Higuita maupun Valdes daripada keberhasilannya. Untungnya, kehadiran Neuer mampu mengubah pandangan tersebut. Sekali lagi, Neuer terbukti merevolusi peran kiper.
Alasan-alasan lain yang bisa menjadi kelebihan Neuer adalah kekompletannya sebagai seorang pesepakbola. Sebagai seorang kiper, Neuer diberkahi kemampuan teknik yang luar biasa. Kontrol bola yang piawai, akurasi umpannya yang oke, dan tentu saja antisipasi dan refleks fantastis pada tangannya.
Tatkala Bayern menaklukkan AS Roma 2-0 di Allianz Arena pada November lalu dalam fase grup Liga Champions, Neuer bahkan melepaskan operan lebih banyak ketimbang delapan pemain Roma lain! Ini merupakan proses pengintegrasian taktis seorang penjaga gawang dalam sebuah tim. Neuer sangat pas dilibatkan dalam hal ini.

Keberhasilannya dalam merajai belantika sepakbola domestik -- Bayern meraih gelar Bundesliga Jerman dan DFB Pokal pada 2013/14 -- juga semakin mempertegas fungsinya yang begitu krusial di level klub. Catatan statistik yang ditunjukkan Neuer juga memesona. Sepanjang 2014, ia sanggup melakukan 26 clean sheet dari 49 penampilannya bersama The Bavarians.
Baru-baru ini, IFFHS atau Federasi Internasional Sejarah Sepakbola dan Statistik merilis daftar sepuluh besar kiper terbaik dunia. Bisa ditebak, Neuer menjadi yang nomor satu. Yang istimewa, Neuer unggul jauh ketimbang pesaing terdekatnya, Thibaut Courtois, yakni 216 poin berbanding 96 poin. Neuer pun semakin dipandang sebagai kiper terbaik yang pernah ada sejak Yashin.
Satu-satunya cacat Neuer di tahun 2014 adalah kegagalannya mempertahankan trofi Liga Champions musim lalu. Langkah Bayern terhenti di semi-final oleh Real Madrid, yang akhirnya melenggang sebagai juara. Ya, gawang Neuer kebobolan lima gol tanpa balas di dua leg oleh Ronaldo dan kawan-kawan.
Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan peluang Neuer untuk mencium Bola Emas di Zurich, Swiss pada pada Senin (12/1) mendatang. Neuer memang bukan seorang global brand seperti Ronaldo dan Messi. Namun, baik bintang Real Madrid dan Barcelona itu tidak melakukan revolusi di tahun 2014 seperti yang sudah dilakukan Neuer.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics