Andi Darussalam Tabusalla Nilai Keputusan Komdis PSSI Soal "Sepakbola Gajah" Tergesa-gesa

Meski begitu, mantan Presiden Direktur PT Liga Indonesia itu mengakui kejadian tersebut sangat memalukan.

OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN Ikuti di twitter
Mantan Presiden Direktur PT Liga Indonesia, Andi Darussalam Tabusalla, angkat bicara mengenai kasus "sepakbola gajah" yang terjadi pada laga PSS Sleman kontra PSIS Semarang, 25 Oktober lalu. Seperti diketahui, pada laga tersebut tercipta lima gol bunuh diri yang berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan PSS.
Andi mengakui kejadian tersebut sangat memalukan. Meski begitu, dia juga tidak sepakat dengan keputusan sanksi diskualifikasi yang langsung diberikan oleh Komisi Disiplin PSSI kepada dua klub tersebut.
"Saya menyesalkan kejadian itu. Namun, komdis terlalu tergesa-gesa. Tidak ada sejarahnya klub dihukum dengan alasan fairness. Jangan korbankan klub. Ingat saat Timnas Indonesia di Piala Tiger 1998 yang dihukum adalah pelaku (Mursyid Effendi, Rusdy Bahalwan, dan Andrie Amin)," kata Andi, kepada wartawan di Jakarta.
Dia pun menambahkan, seharusnya komdis juga tidak menghukum wasit yang memimpin laga tersebut. Memang, komdis sebelumnya masih belum menjatuhkan sanksi terhadap perangkat pertandingan di laga itu. Namun, ketua Komdis PSSI, Hinca Pandjaitan, mengatakan pihaknya juga akan menginvestigasi PP di laga tersebut. Jika terbukti lalai atau bersalah, maka PP tidak akan lepas dari sanksi.
"Wasit dihukum sangat tidak bijak juga, karena wasit tidak ada rule of the game yang dilanggar. Komdis harus bijak, tidak boleh terjadi, bukan klub yg dihukum," jelas mantan ketua Komdis PSSI itu.
Hal senada juga dituturkan sekretaris Asosiasi Provinsi PSSI Yogyakarta, Dwi Irianto. "Masak pelaku belum dihukum, komdis langsung hukum ke klubnya, terus tidak boleh dibanding. Mana ada hukuman berat tidak bisa dibanding," cetusnya.
Sementara itu, ketua Asprov PSSI DKI Jakarta, Gusti Randa, menuturkan komdis seharusnya juga memeriksa PT Liga selaku operator kompetisi. "Inspektur pertandingan itu kan bukan orang klub, tetapi dari PT Liga. Karenanya, lucu bila tidak dilibatkan dalam pencarian fakta kebenaran. Tidak hanya klub dan wasit yang ditanyai, tetapi juga PT Liga sebagai operator kompetisi. Komdis juga harus menjelaskan kepada publik dasar hukum yang dipakai," jelasnya.

//

>
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.