Aroma Antiklimaks Duel Juventus Kontra AS Roma

Topics

Dipercaya jadi duel yang paling dinanti pada awal musim ini, aroma antiklimaks justru berhembus jelang digelarnya bentrok Juventus kontra AS Roma di J Stadium.

Jika berbicara Serie A Italia 2015/16 pada periode awal musim, bursa taruhan manapun pasti menempatkan Juventus dan AS Roma di urutan pertama sebagai calon terkuat Scudetto. Persentase Roma bahkan semakin besar, seiring Juve yang secara mengejutkan menelan empat kekalahan dalam 10 giornata perdana.

Terlebih satu dari empat kekalahan Si Nyonya Tua diderita dari Tim Serigala. Kala itu dalam Grande Partita giornata dua, gol Miralem Pjanic dan Edin Dzeko yang hanya mampu dibalas satu melalui Paulo Dybala, membuat Olimpico Roma meledak.

Para Romanisiti pun mulai berani menyebut kata "Scudetto" dengan lantang. Satu keyakinan yang juga diamini pelatih Roma saat itu, Rudi Garcia. "Akhirnya Roma bermain sesuai apa yang saya inginkan. Inilah Roma yang sebenarnya, yang menyasar Scudetto!" serunya.

Tujuh kemenangan dari 10 giornata perdana didapuk Francesco Totti cs. Meski Fiorentina, Napoli, dan FC Internazionale juga menorehkan hasil gemilang, tapi publik dan media lebih meyakini Roma yang pada akhirnya meraih Scudetto, menilik sejarah mereka sebagai antagonis utama Juve dalam dua musim terakhir.

Sayang, roda nasib berputar terlampau cepat bagi Roma. Dalam sepuluh giornata berikutnya, tak ada yang menyangka mereka akan tampil begitu buruk hingga pelan-pelan melepas impian Scudetto.

Hanya dua kemenangan yang sanggup diraih Roma pada periode tersebut. Il Giallorossi juga memang hanya menelan dua kekalahan, tapi mereka terlampau sering memetik hasil seri dengan catatan enam laga. Lebih buruk, karena hasil negatif itu didapat dari klub-klub yang notabene berada pada level yang lebih rendah, macam Bologna, Torino, hingga Chievo Verona.

Tak pelak pahlawan utama Roma dalam dua musim terakhir, Garcia, lantas dilengserkan dari jabatannya sebagai pelatih. Manajemen kemudian menunjuk pelatih tersukses mereka dalam sedekade terakhir, Luciano Spalletti, untuk membangkitkan Serigala yang tengah tercabik ini. Dampaknya tak bisa instan, karena dalam partai comeback-nya, sang allenatore hanya sanggup mempersembahkan sebiji poin melawan juru kunci klasemen, Hellas Verona.

Mimpi buruk bagi Roma, tapi dalam periode yang sama Juve kembali merajut mimpi indah layaknya empat musim terakhir. Menderita di 10 giornata perdana, secara fantastis Gianluigi Buffon cs menyapu bersih 10 giornata berikutnya dengan kemenangan!

Skuat baru nan muda Juve ternyata hanya butuh waktu singat beradaptasi. I Bianconeri yang tadinya bahkan sempat tertinggal 11 poin dari Roma, kini terbang ke peringkat dua klasemen dengan keunggulan tujuh poin dari sang rival. Scudetto pun kembali hadir di depan mata, karena mereka hanya terpaut dua poin dari Capolista, Napoli.

"Sepuluh kemenangan beruntun, tentu tak ada yang menyangkanya jika menengok performa kami di awal musim. Kami tak boleh berpuas diri karena masih banyak kekurangan. Napoli tetap favorit Scudetto, setelah itu juga masih ada Inter, Fiorentina, dan Anda tak boleh melupakan Roma," ujar pelatih Juve, Massimiliano Allegri, bijak.

Karenanya dengan kondisi yang belum stabil, Roma amat diragukan bisa memberi Juve perlawanan kompetitif dalam pertemuan kedua mereka di Serie A musim ini, Senin (25/1) dini hari WIB. Arah pertandingan juga semakin jelas, karena fakta memaparkan bila J Stadium yang akan jadi venue pertempuran, merupakan neraka baru bagi Tim Kota Abadi.

Sejak Juve menggunakannya di musim 2011/12, dalam lima lawatannya di semua kompetisi entah bagaimana Roma selalu saja menderita kekalahan. Rekor gol-nya pun mengenaskan karena La Magica kebobolan 17 gol dan hanya sanggup menceploskan tiga gol. Ya, setidaknya si empunya J Stadium mencetak minimal tiga gol di setiap perjamuan.

Terakhir kali Roma berpesta di markas Juve terjadi lima musim silam, tepatnya pada babak perempat-final Coppa Italia 2010/11. Ketika itu gol Mirko Vucinic dan Rodrigo Taddei, melenyapkan asa La Vecchia Signora menjuarai Coppa Italia. Namun harus diingat, kekalahan itu terjadi saat sang raja Scudetto masih mengungsi di Olimpico Turin.

Jika sudah begitu tak berlebihan duel Juve kontra Roma akhir pekan ini, amat kuat menghembuskan aroma antiklimaks. Bentrok yang mulanya diharapakan krusial dalam menentukan jalan peraih Scudetto, kini hanya menyisakan gengsi dan sejarah.

Meski begitu, sepercik harapan akan klimaks pertandingan tetap ada, seperti yang diutarakan Allegri jelang laga. "Bagi saya Roma masih jadi pesaing kuat Scudetto, karena mereka punya skuat berkualitas dan akan ada reaksi setelah pergantian pelatih. Ini masih akan jadi duel klasik Juva dan Roma!" tegasnya.

Topics