Awal Mula Era Dominasi Chelsea Di Tanah Inggris

Topics

Belum lama dinasti Sir Alex Ferguson berlalu, kini Jose Mourinho siap mengambil tongkat estafet dari seniornya itu untuk menjadikan Inggris berwarna biru untuk waktu lama. Sanggup?

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter

“Liga ini membosankan karena kami berada di puncak sejak hari pertama. Itulah mengapa orang-orang di Inggris tak suka dengan kami. Mereka ingin Liga Primer seperti divisi Championship di mana empat tim teratas hanya dipisahkan oleh sedikit poin. Itulah skenario ideal di Liga Primer, namun kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

Begitulah kata-kata yang meluncur dengan lancarnya dari mulut manajer Chelsea Jose Mourinho pada medio April lalu. Terdengar angkuh dan terkesan meremehkan – seperti biasa. Nyatanya, Mourinho berhasil membuktikan omongan besarnya itu di dalam lapangan.

Minggu (3/5) kemarin, melawan Crystal Palace di Stamford Bridge, Eden Hazard menanduk bola sepakan penalti miliknya yang berhasil ditepis kiper Julian Speroni. Bola menembus gawang di menit 45 dan skor 1-0 tersebut bertahan hingga usai. Sudah cukup bagi Chelsea untuk mengamankan tiga angka yang membuat total poin mereka tak mungkin terkejar lagi oleh pesaing terdekatnya, Arsenal dan Manchester City.

Pesta pun dimulai. Seisi Stamford Bridge bergemuruh, lagu wajib “We Are the Champions”-nya Queen dikumandangkan lewat pengeras suara, confetti ditembakkan ke udara, dan semua pemain The Blues berhamburan dan berdansa di tengah lapangan dengan atribut juara. Itulah gelar Liga Primer Inggris pertama bagi Chelsea sejak terakhir kali mereka meraihnya pada lima tahun silam. Satu kata dari keberhasilan Chelsea di musim ini: dominan.

273 hari menjadi waktu yang ditorehkan Chelsea untuk terus bertahan di puncak klasemen Liga Primer Inggris 2014/15 sejak matchday pertama pada 18 Agustus lalu hingga 3 Mei lalu, ketika mereka memastikan mahkota juara liga di saat musim masih menyisakan tiga pertandingan.

"Saya menikmatinya. Berada di puncak liga sejak hari pertama, hanya kalah dua laga sepanjang musim, tak terkalahkan di kandang, memiliki rekor tandang fantastis, paling sedikit kebobolan, dan hanya terpaut satu gol dari tim terproduktif, saya pikir itu sangat fantastis untuk tim ini," tutur Mourinho selepas laga.

Catatan 273 hari di puncak tersebut mematahkan rekor milik Manchester United pada Liga Primer musim 1993/94 yang berada di pucuk klasifika selama 262 hari. Ketika itu, Sir Alex Ferguson sedang membangun dinasti emas bermaterikan Eric Cantona dan sekumpulan anak muda berjuluk class of 1992. Hasilnya, memang luar biasa sebagaimana United mampu me-merah-kan Inggris selama lebih dari dua dekade terakhir.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Mourinho dan Chelsea siap mengulangi sejarah tersebut? Rasa-rasanya, jika melihat kondisi saat ini, Chelsea punya segala syarat untuk melakukan hal tersebut. Mereka siap untuk membuat tanah Inggris berwarna biru selama beberapa tahun ke depan.

Mourinho terlihat sangat bahagia di Chelsea, taktik pragmatis yang ia terapkan menuai kesuksesan besar, para pemain menunjukkan kematangan yang nyaris sempurna, lawan-lawan mudah terpancing oleh jebakan mind games ala Mou, dan bahkan secara kebetulan para youngster Chelsea menunjukkan gejala kuat untuk memastikan keberadaan regenerasi skuat di masa mendatang.

Sejak Roman Abramovich mengambil alih klub 12 tahun lalu, Chelsea sudah mengemas 15 titel, termasuk empat gelar EPL di mana tiga di antaranya disumbangkan Jose Mourinho.

Satu lagi yang tak kalah penting, yakni senyum lebar dari Roman Abramovich. Sang pemilik klub tersebut merasa lega setelah keputusannya untuk memanggil kembali Mourinho pada musim panas 2013 lalu berjalan sesuai rencana. Seperti diketahui, Mourinho dan Abramovich dilaporkan sempat terlibat perseteruan pada 2007 silam sehingga membuat manajer Portugal itu minggat di tengah jalan.

Namun, setelah mendengarkan saran dari Marina Granovskaia selaku penasihat perempuannya, Abramovich akhirnya luluh untuk memulangkan Mourinho ke London Barat. Taipan minyak asal Rusia itu tahu betul, hanya Mourinho yang bisa memberikan jaminan gelar bagi The Blues sebab The Special One adalah satu-satunya orang yang mengetahui isi jeroan Chelsea.

Semua syarat-syarat tersebut kiranya sudah lebih dari cukup untuk membuat lawan-lawan di Inggris bergidik takut untuk melihat perkembangan Chelsea ke depannya. Tidak ada lagi istilah “kuda kecil”, julukan Mourinho terhadap timnya sendiri di musim lalu.

Sang kuda kecil kini telah berevolusi menjadi kuda dewasa yang matang lagi kuat. Penggemblengan di musim lalu terbayar lunas di musim ini. Status sebagai raja Inggris boleh mereka sandang. Seluruh bursa taruhan sudah pasti akan menempatkan Chelsea di urutan teratas sebagai favorit juara Liga Primer untuk musim 2015/16 dan musim-musim selanjutnya.

"Grup ini mengawali dengan menjuarai Piala Liga dan Liga Primer, tapi kami tahu di negara ini persaingannya sangat sulit. Semua tim lainnya adalah kandidat dan mereka akan menjadi lebih kuat ketimbang musim ini. Jadi ini bukan sebuah negara untuk menjadi kekuatan yang dominan. Tapi kami akan berusaha sampai ke sana dan berusaha menjadi juara lagi," ujar Mourinho.

Pria berusia 52 tahun itu mungkin boleh menganggap timnya sebagai Chelsea 2.0. Namun, dalam banyak pertandingan di musim ini mereka terlihat seperti balik ke wujud aslinya, kembali ke Chelsea 1.0 seperti ketika Mourinho tiba pertama kali ke Stamford Bridge pada 2004: bermain pragmatis dan tak punya belas kasih.

Ya, Mourinho masih seperti yang dulu. Ia puas hanya dengan bermain minimalis, tidak terobsesi pada permainan atraktif, penguasaan bola, atau umpan-umpan pendek yang memanjakan mata. Baginya, efektivitas bermain untuk meraih kemenangan di atas segalanya. Tidak bisa tidak. “Menurut saya, sepakbola masih merupakan permainan yang menuntut Anda memasukkan bola ke gawang lawan dan sekaligus menjaga gawang Anda agar tidak kebobolan,” ujarnya simpel.

Sederhana memang. Saking sederhanya, banyak pihak yang sinis menilai bahwa Chelsea adalah tim membosankan. Untungnya, Chelsea sudah memiliki fondasi kuat untuk membuktikan bahwa anggapan itu hanyalah salah kaprah.

Chelsea diperkuat sang pemain terbaik Liga Primer dan bakal calon peraih Ballon d’Or di era setelah Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo: Eden Hazard. Ada pula pemain muda lain seperti Oscar, Thibaut Courtois, hingga Kurt Zouma yang masih berjarak beberapa tahun dari puncak kariernya. Diego Costa, Willian, Cesc Fabregas, Gary Cahill, Cesar Azpilicueta, dan Nemanja Matic sedang berada dalam usia terbaiknya.

Jangan lupakan pula sosok pemain senior dengan darah “biru” mengalir deras di dalam nadi mereka, yakni John Terry, Branislav Ivanovic, Petr Cech, dan Didier Drogba. Dan mereka semua ditangani oleh manajer yang tepat.

Untuk pertama kali dalam kariernya, Mourinho mendapat titah tak tertulis dari Abramovich untuk membangun sebuah dinasti. Skuat yang masih muda, bertalenta, dan berbahaya tersebut menjadi modalnya yang paling berharga.

Satu hal yang akan membebani Mourinho di musim depan: target Eropa yang masih jauh dari memuaskan. Bagi sosok pelatih spesial seperti dirinya, menjadi juara Liga Champions harus menjadi target yang tak bisa ditampik. Untuk yang satu ini, Mourinho masih harus terus belajar bersama anak didiknya.

addCustomPlayer('t15atpus7ys1f9p2w3om019e', '', '', 620, 540, 'perft15atpus7ys1f9p2w3om019e', 'eplayer4', {age:1426475269510});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.