Bob Bradley, Penantang Baru Kemapanan Liga Primer Inggris

Topics

Bradley baru saja ditunjuk sebagai manajer anyar Swansea City, dan ia merupakan orang Amerika Serikat pertama yang menukangi klub EPL.

“Ketika saya punya kesempatan untuk mengamati manajer lain yang melakukan pekerjaannya dengan baik, saya sebut [Mauricio] Pochettino, [Jurgen] Klopp, Thomas [Tuchel], kita bahkan belum membicarakan [Pep] Guardiola dan [Carlo] Ancelotti, namun saya akan bilang, mungkin saya ini bodoh, namun saya rasa saya adalah manajer yang setara di level tersebut,” demikian Bob Bradley.

Bradley, 58, menjadi penanda revolusi Amerika Serikat di Swansea City semenjak klub tersebut beralih ke tangan duo Jason Levien dan Steve Kaplan, dengan ia diberi kontrak berdurasi tiga tahun.

Klub asal Wales selatan itu merasa perlu berbenah lantaran mengalami periode awal musim yang buruk, dan korbanya adalah Francesco Guidolin yang dipecat di saat ia berulang tahun ke-61. Adapun untuk saat ini, The Swans berada di bayang-bayang degradasi setelah hanya mengoleksi empat poin dari tujuh pertandingan perdana.

Sempat ada rumor mengenai kemungkinan mendekati legenda Manchester United yang pernah menjadi asisten David Moyes dan Louis van Gaal, Ryan Giggs, namun pada akhirnya pihak klub memilih Bradley yang dinilai lebih kaya akan pengalaman.

Pengalaman Bradley di dunia sepakbola tentu tidak bisa diremehkan. Ia tercatat mulai menimba ilmu kepelatihan sejak usia 22 tahun di Ohio University, selagi di saat bersamaan menuntaskan masternya di bidang Administrasi Olahraga.

Matang di liga antarkampus, Bradley lantas memulai karier profesionalnya sebagai asisten manajer di DC United pada 1996 silam, sebelum kemudian menjadi manajer di Chicago Fire, MetroStars (sekarang New York Red Bulls), dan Chivas USA yang kini sudah bubar.

Selama menjadi pelatih di MLS, kehebatan Bradley diakui banyak pihak dengan ia pernah menyabet dua gelar MLS Coach of the Year. Berkat kematangannya tersebut, sosok kelahiran New Jersey itu diangkat sebagai manajer Amerika Serikat pada 2006 silam dan sempat mengantar The Yanks meraih Piala Emas CONCACAF 2007 dan runner-up Piala Konfederasi tiga tahun berselang.

Bradley kemudian menjadi perbincangan setelah sukses meloloskan negaranya ke babak 16 besar Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, namun perjalanan timnya terhenti di tangan Ghana. Prestasi tersebut merupakan catatan terbaik Amerika semenjak kelolosan ke babak delapan besar di bawah arahan Bruce Arena saat Piala Dunia 2002.

Meski begitu, ia akhirnya dipecat setelah rentetan hasil buruk pada 2011, dan tak butuh waktu lama baginya untuk kembali ke dunia kepelatihan mengingat di tahun tersebut Mesir menawarinya pekerjaan.

Terlepas revolusi Mesir yang melanda negara tersebut di periode awal kepelatihannya, Bradley bersama sang istri, Lindsay, memutuskan untuk tetap tinggal. Keadaan pun menjadi semakin sulit setelah liga di negara tersebut terpaksa dihentikan menyusul pecahnya kerusuhan di Port Said Stadium, yang mana menewaskan 70 orang pada 2012.

Meski kondisi tidak memihak baginya, Bradley justru hampir meloloskan Mesir ke Piala Dunia 2014. Ia hanya berjarak satu partai untuk berpartisipasi di Brasil, sebelum perjalanan The Pharaohs terhenti di tangan Ghana di babak play-off.

Setelah Mesir, Bradley menuju utara Eropa. Pada Januari 2014, ia mengambil alih klub Norwegia Stabaek untuk menjadi manajer Amerika Serikat pertama di klup kasta tertinggi Eropa, dan ia sukses meloloskan klub tersebut ke ajang Liga Europa.

Perjalanannya kemudian dilanjutkan di Prancis, di mana ia menukangi Le Havre musim lalu. Selama waktu singkatnya di klub tersebut, Bradley hampir berhasil membawa klub yang pernah dibela Paul Pogba itu untuk promosi ke Ligue 1. Sayangnya, mereka harus mengubur impiannya itu karena kurang satu gol saja meski sukses mengalahkan Bourg-en-Bresse dengan skor 5-0 di pertandingan terakhir dan mengenai mistar sebanyak empat kali.

Sebagaimana ia kini merapat ke Swansea, para suporter tentu mengharapkan keberuntungannya berubah. Dengan ia menjadi manajer Amerika Serikat pertama di Liga Primer Inggris, Bradley kiranya siap menantang dominasi di liga kasta tertinggi negeri Ratu Elizabeth dan membuktikan ucapannya yang mengaku setara dengan para pelatih hebat.