Branislav Ivanovic Dan Bencana Lini Belakang Chelsea

Lamban dan gampang ditembus. Dalam dua partai pembuka, Branislav Ivanovic menjadi titik terlemah Chelsea yang berpotensi merusak ambisi besar timnya. Saatnya beli bek baru?

Ketakutan itu ada benarnya. Setelah melewati pramusim dengan hasil tidak meyakinkan, minim aktivitas transfer, performa di bawah rata-rata dalam laga pembuka Liga Primer Inggris 2015/16 kontra Swansea City, Chelsea akhirnya benar-benar kolaps ketika berkunjung ke markas Manchester City, Minggu (16/8) malam WIB.

Bagi City, laga melawan sang juara bertahan ini ibarat bertanding kontra West Bromwich Albion, lawan mereka di partai pembuka pekan lalu yang mampu mereka lumat 3-0. Dengan skor identik itu pula, The Citizens sukses menggunduli rivalnya itu secara kompreshensif.

Chelsea sejatinya sudah porak-poranda di Etihad sejak detik ke-10, tatkala umpan terobosan David Silva berhasil dikuasai Sergio Aguero sehingga membuat striker Argentina itu berada dalam situasi one-on-one dengan Asmir Begovic. Beruntung, kiper pelapis Thibaut Courtois itu sigap menepisnya sebelum akhirnya runtuh juga oleh tembakan keempat Aguero di menit 32.

“Ketika laga dimulai dan sepuluh detik kemudian Aguero berhadapan langsung dengan Begovic, saya memiliki firasat jelek,” ujar manajer Jose Mourinho.

Performa Chelsea sedikit membaik di babak kedua dengan mampu mencatatkan beberapa kans. Namun gara-gara keteledoran Branislav Ivanovic di lini belakang, David Silva mampu memberikan sepasang assist kepada Vincent Kompany dan Fernandinho untuk mencetak dua gol tambahan di sepuluh menit terakhir.

Branislav Ivanovic, pemain Chelsea dengan performa terburuk dalam dua partai pembuka EPL.

Performa bek asal Serbia itu patut disorot. Mengenakan ban kapten setelah John Terry ditarik keluar saat turun minum, Ivanovic gagal mengomando lini belakang. Ia kalah berduel dengan Kompany ketika menyambut sepak pojok Silva di menit 80. Lima menit berselang, reaksi lamban Ivanovic dalam membuang bola membuat Silva berhasil menyerobotnya sehingga bola dikuasai Fernandinho yang langsung membuat gawang Begovic bergetar untuk kali ketiga.

Di sepanjang 90 menit, Ivanovic juga tampil mengecewakan. Menghadapi Raheem Sterling, pemain berusia 31 tahun itu begitu gampang dilewati. Secara fisik, Sterling memang bukan tandingan Ivanovic, namun berulang kali bek kanan veteran itu kalah gesit dari bocah baru City berharga £49 juta itu. Ivanovic juga tidak mampu mencegah crossing berbahaya dari sayap kiri yang berkali-kali dilepaskan Aleksandar Kolarov.

Dosa Iva terasa lebih besar karena di laga pembuka kontra Swansea, performanya juga setali tiga uang. Berulang kali ia dibuat kalang-kabut oleh Jefferson Montero. Boleh dibilang, Ivanovic menjadi pemain terburuk Chelsea dalam dua partai pembuka Liga Primer. Sudah saatnya bagi Ivanovic untuk diberikan pesaing setelah dalam beberapa tahun terakhir ia tampak terlalu nyaman menjadi pilihan nomor satu di pos bek kanan.

Ada peluang bagi Cesar Azpilicueta untuk kembali ke posisi aslinya sebagai bek kanan. Sayang, Chelsea tidak memiliki bek kiri murni yang matang. Filipe Luis, yang diharapkan bisa mengisi lubang di sisi kiri pertahanan, sudah telanjur pulang ke Atletico Madrid setelah tak tahan hanya menjadi cadangan Azpilicueta di musim lalu. Mou tentu tak bisa langsung mengambil risiko dengan memercayakan pos bek kiri kepada Baba Rahman, full-back kiri belia asal Ghana yang segera diresmikan kedatangannya dari Augsburg.

"Di sektor bek kiri dia [Baba Rahman] akan bersaing dengan Cesar Azpilicueta. Di saat yang sama, Azpilicueta juga bisa berkompetisi dengan Branislav Ivanovic di sektor kanan pertahanan. Pemain ini menggantikan Filipe Luis. Dia pemain yang kami butuhkan untuk menjaga keseimbangan tim," ucap Mou yang sekaligus membocorkan transfer Baba Rahman.

RAPOR MERAH LINI BELAKANG CHELSEA 2015/16

LAWAN
Arsenal (Community Shield)
Swansea City(Liga Primer)
Manchester City(Liga Primer)

KEBOBOLAN
1
2
3

TEMBAKAN DITERIMA (TOTAL)
11
17
18

TEMBAKAN DITERIMA (ON TARGET)
2
10
5

PELANGGARAN
11
15
13

KARTU KUNING
1
1
2

KARTU MERAH
0
1
0

Sementara itu, Terry, sang kapten sekaligus ikon klub, ternyata harus merelakan posisinya ditukar Kurt Zouma saat turun minum. Ini adalah pertama kalinya JT ditarik keluar sebelum pertandingan habis di masa kepemimpinan Mourinho yang tentu saja menimbulkan berbagai spekulasi. Sebagian fans Chelsea ada yang khawatir bahwa Terry bisa jadi bernasib sama seperti Iker Casillas yang dicampakkan Mou di Real Madrid. Apalagi, Mourinho baru saja bertindak layaknya diktator bengis ketika ia mempermalukan dokter tim Eva Carneiro selepas laga kontra Swansea yang menjadi viral dalam sepekan terakhir.

Lebih lanjut, Mou bahkan secara terang-terangan menyebut Terry terlalu lamban untuk menghadapi Aguero sehingga ia layak digeser oleh Zouma yang lebih muda dan lebih segar. "John Terry tidak cedera. Kurt Zouma adalah bek tercepat yang dimiliki Chelsea. Saya menariknya keluar karena alasan taktik," tuturnya. Nyatanya, Chelsea justru kebobolan dua gol ketika jantung pertahanan diisi duet Zouma dan Gary Cahill.

Namun, mantan manajer Liverpool Graeme Souness punya pendapat lain. Menurutnya, keputusan tersebut bukan sekadar pergantian taktis, melainkan sebagai pesan terselubung Mourinho buat Roman Abramovich, pemilik The Blues, bahwa ia menginginkan kedatangan bek baru lagi sebelum jendela transfer musim panas ditutup. "John Terry tampil sebaik Cahill di sampingnya dan saya tidak melihat dirinya terekspos. Saya pikir sang manajer berusaha membuat pernyataan kepada sang pemilik bahwa ia membutuhkan lebih banyak pemain," kata Souness.

Lantas siapa yang diinginkan Mou? Bek Everton, John Stones, berulang kali dikaitkan dengan kepindahannya ke Stamford Bridge pada musim panas ini. Stones memang dinilai banyak pihak sebagai calon bek masa depan Inggris, suksesor Terry dan Ivanovic di Stamford Bridge. Chelsea bahkan dilaporkan sudah mengajukan tawaran ketiga senilai £30 juta setelah dua proposal mereka terhadap bek berusia 21 tahun itu ditolak mentah-mentah oleh The Toffees.

Keputusan Jose Mourinho meminggirkan John Terry menimbulkan tanda tanya.

Chelsea memang tidak perlu panik, namun fakta bahwa ini adalah start terburuk mereka di bawah asuhan Mourinho tidak bisa dibantah. Menurut catatan, selain di musim 2006/07 ketika mereka takluk di pekan kedua dari Middlesbrough, The Blues besutan Mou selalu menang di dua partai pembuka Liga Primer. Catatan itu telah rusak di musim ini. Kini, mereka sudah lima poin di belakang City.

Dalam pidato di akhir musim lalu selepas Chelsea mengamankan gelar ganda, Mourinho berujar, "Bagi saya, sepakbola masih merupakan permainan yang menuntut Anda memasukkan bola ke gawang lawan dan sekaligus menjaga gawang Anda agar tidak kebobolan.” Di sini sebuah ironi tercipta.

Lini belakang Chelsea, hal fundamental yang selama ini menjadi basis kekuatan tim, kini justru berbalik menjadi sumber bencana. Sebelumnya, tidak kenapa-kenapa ketika ejekan “parkir bus” dan “membosankan” sesekali dilontarkan sebagai intermeso, toh Chelsea tetap bisa menang. Namun melihat kondisi sekarang, sesuatu yang sudah identik dengan Chelsea tersebut terancam menjadi bahan lelucon permanen. “Busnya lagi masuk bengkel,” celetuk seorang fans di media sosial. Ya, taktik pragmatisme ala Mou terancam bubar jalan jika tidak ada perbaikan.

Pada akhirnya, penggemar Chelsea patut bersyukur sebab ini baru awal musim, masih tersisa 36 laga. Tapi yang jelas, keretakan yang tampak di tembok pertahanan Chelsea ini harus segera ditambal, bahkan kalau perlu dibongkar pasang. Supaya kembali perkasa, solid, dan kokoh tak tertandingi seperti sedia kala.

Sepanjang hayat, mempertahankan gelar menjadi sesuatu yang tidak pernah mudah dilakukan.