CATATAN: Buruk Rupa Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia

Lima gol bunuh diri di laga PSS kontra PSIS menjadi bukti masih lemahnya mental sportivitas pesepakbola di Indonesia.

OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN Ikuti di twitter

Wajah sepakbola Indonesia kembali tercoreng dengan adanya kejadian memalukan di level kompetisi Divisi Utama 2014. Bagaimana tidak, dalam 15 hari tiga kejadian membuat buruk rupa kompetisi kasta kedua di Indonesia itu.

Pertama, kasus meninggalnya seorang suporter PSCS Cilacap akibat diserang oleh kelompok suporter klub PSS Sleman, 12 Oktober lalu. Insiden tersebut terjadi di simpang tiga bandara Adi Sutjipto, Sleman, Minggu (12/10) malam. Bus yang ditumpangi suporter PSCS, yang ingin pulang usai menyaksikan laga timnya melawan Persis Solo dihentikan gerombolan bersepeda motor.

Menurut salah satu saksi mata, bus tersebut dilempari batu dan ada beberapa orang yang diseret dari dalam dan akhirnya dikeroyok di luar bus. Hingga akhirnya memakan korban Muhammad Ikhwanudin (19). Ironisnya, Ikhwan yang merupakan suporter PSCS itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum dan Syariah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ikhwan meninggal saat dilarikan ke RSUP Dr. Sardjito.

Salah satu tersangka yang bernama Angga mengatakan, ada motif balas dendam terkait penyerangan itu. Menyusul, dia bersama rekan-rekannya pada tahun lalu pernah mengalami hal serupa di Cilacap. Melihat kenyataan itu, Komisi Disiplin (Komdis) PSSI langsung menjatuhkan sanksi kepada PSS dengan satu kali menggelar laga kandang tanpa penonton.

Laga itu pun harus digelar di luar home base PSS dengan jarak minimal 100 kilometer. Sanksi itu diberlakukan saat PSS menjamu Persiwa Wamena, 18 Oktober. Ironisnya, pada laga yang akhirnya digelar di Stadion Mashud Wisnusaputra, Kuningan, Jawa Barat, itu Persiwa memilih untuk kalah walk-over (WO).

Sepuluh hari berselang, masih di seputar wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, terulang kembali satu orang meninggal lantaran kerusuhan antarsuporter sepakbola. Kali ini, pria bernama Joko Rianto harus meregang nyawa lantaran kerusuhan yang terjadi usai laga Persis Solo kontra Martapura FC di Stadion Manahan, Solo, 22 Oktober lalu.

Kerusuhan itu sendiri dipicu lantaran ketidakpuasan suporter tuan rumah dengan kepemimpinan wasit di laga tersebut. Sehingga mereka melakukan aksi turun ke lapangan hingga melakukan perusakan di area luar stadion. Imbasnya, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi terhadap kota Solo untuk tidak menggelar pertandingan sepakbola selama enam bulan.

Tak berselang lama, Persis juga memilih untuk tidak bertanding saat dijamu Pusamania Borneo FC di laga terakhir grup P, 25 Oktober lalu. Disinyalir, aksi tersebut dilakukan kubu Persis lantaran trauma dengan serangan oknum suporter tuan rumah kepada mereka saat hendak melakukan uji coba lapangan, sehari sebelumnya.

Puncaknya, aksi paling memalukan dilakukan pemain PSS Sleman dan PSIS Semarang, saat kedua tim bertanding pada laga terakhir babak delapan besar Divisi Utama Grup N di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Sabtu (25/10) lalu. Memalukan karena, tercipta lima gol bunuh diri di laga itu yang membuat skor 3-2 untuk kemenangan PSS.

Ini benar-benar kejadian yang memalukan bagi sepakbola Indonesia. Istilah 'sepakbola gajah' kembali terulang. Kedua tim sepanjang pertandingan terlihat sama-sama tidak ingin menang. Hingga akhirnya, pemain PSS, Agus Setyawan memulai aksi bunuh diri pada menit ke-78.

Yang disusul gol bunuh diri kedua oleh Hermawan Putra Jati sepuluh menit kemudian. PSIS yang dihadiahi dua gol, tak mau kalah. Dalam tiga menit, para penggawa tim Mahesa Jenar langsung 'membalas budi' dengan torehan tiga gol bunuh diri mereka lewat kaki M. Fadli (89), dan Komedi (90 dan 91).

Insiden itu seakan mengingatkan kita pada tragedi 'sepakbola gajah' yang terjadi di Piala Tiger 1998 antara timnas Indonesia kontra Thailand, yang berujung pada gol bunuh diri Mursyid Effendi. Ini semakin membuktikan, masih lemahnya mental sportivitas pesepakbola di Indonesia.

Melihat kenyataan ini, ketua Komdis PSSI, Hinca Pandjaitan, menyatakan bakal memberikan sanksi tegas kepada para pelaku gol bunuh diri tersebut. Jika berkaca pada sanksi FIFA terhadap kasus Mursyid, penggawa Persebaya Surabaya itu disanksi hukuman larangan seumur hidup tidak boleh membela timnas di pentas sepakbola internasional. Di samping itu, FIFA juga mendenda Indonesia dan Thailand sebesar 40 ribu US dollar. Ketua Umum PSSI, Azwar Anas, juga langsung mengundurkan diri dari jabatannya akibat tragedi memalukan itu.

Menarik untuk ditunggu sanksi tegas seperti apa yang akan diberikan komdis kepada para pelaku ataupu aktor di balik 'sepakbola gajah' itu. Rencananya, Selasa (28/10) siang, bakal digelar sidang untuk kasus tersebut.

Namun, yang harus dikhawatirkan adalah proses setelah diterapkannya sanksi itu. Mengingat, masih ada proses banding untuk para terdakwa. Berkaca dari kasus Pieter Rumaropen yang memukul wasit saat kompetisi Indonesia Super League (ISL) musim lalu, misalnya. Di mana ketika itu, komdis menjatuhkan sanksi larangan seumur hidup berkecimpung di sepakbola nasional. Namun, sanksi itu diringankan oleh Komisi Banding PSSI dengan hanya menjatuhkan sanksi larangan aktif di sepakbola nasional selama satu tahun plus denda Rp100 juta.

Tentu saja, jika hal itu kembali terjadi, tidak akan menimbulkan efek jera yang membuat tragedi 'sepakbola gajah' bakal terulang lagi. Perlu adanya kesadaran bagi para pemegang kebijakan hukum di sepakbola Indonesia, untuk memberikan hukuman seberat-beratnya bagi para pelaku yang telah menodai sportivitas tersebut.

Di sisi lain, perlu adanya ketegasan pula dari operator kompetisi dalam hal ini PT Liga Indonesia, dalam menjalankan regulasi mereka. Mengingat, pada kompetisi Divisi Utama musim ini juga diwarnai banyaknya klub yang mundur di tengah jalan lantaran kehabisan biaya untuk berkompetisi. Imbasnya, ada beberapa klub yang masih menunggak gaji para pemain mereka. Sebenarnya, masalah ini selalu terulang dari musim ke musim yang perbaikannya belum terlihat secara utuh dan menyeluruh. Oke memang butuh waktu. Tapi dengan adanya toleransi terus menerus dari penerapan regulasi yang sudah ditetapkan, rasanya sulit untuk menyelesaikan masalah tersebut secara cepat.

addCustomPlayer('o0nj4a7l8zom1cxl39osncdku', '', '', 620, 540, 'perfo0nj4a7l8zom1cxl39osncdku', 'eplayer4', {age:1407083524494});

>

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.