CATATAN: Caner Erkin, Si Bengal Dari Turki Yang Dibutuhkan FC Internazionale

Agresif, kuat, teknik berkualitas dan piawai bola mati, pemain asal Turki ini akan menjadi salah satu andalan baru Nerazzurri untuk bertahan dan juga menyerang.

Sektor bek sayap selalu menjadi titik paling lemah FC Internazionale dalam beberapa tahun terakhir, semakin 'veteran'nya usia Javier Zanetti, Maicon, Ivan Cordoba dan Cristian Chivu tidak bisa dibarengi dengan kedatangan pemain pengganti berkualitas.

Yuto Nagatomo, Alvaro Pereira, Danilo D'Ambrosio, Dodo, Davide Santon, Alex Telles hingga Martin Montoya adalah nama-nama yang didatangkan untuk mengisi sektor tersebut, namun hingga saat ini belum ada yang sangat memuaskan sampai sebagian besar sudah tidak ada lagi bersama klub.

Bahkan, pemain yang biasa berposisi sebagai bek tengah, seperti Juan Jesus dan Hugo Campagnaro, tidak jarang dipaksa mengisi posisi tersebut, dengan nama pertama malah kerap menjadi andalan bek kanan di musim 2015/16 kemarin.

Namun, kekhawatiran tersebut bisa direduksi pada musim baru nanti setelah Inter memastikan tanda tangan Caner Erkin terbubuh dalam kontrak berdurasi tiga tahun di Giuseppe Meazza.

Erkin memiliki semua atribut yang dibutuhkan untuk menambal lubang di sisi lapangan Nerazzurri. Kemampuan pemain berusia 27 yang paling menonjol adalah kekuatannya dalam bertahan ataupun menyerang, kualitas yang tidak dimiliki oleh bek sayap Inter saat ini.

Dengan pengalaman sebagai gelandang sayap kanan di awal karirnya, tidak mengherankan ia memiliki kualitas untuk melakukan dribel - plus tendensi untuk melewati lawan - dan juga melepaskan umpan-umpan silang terukur, belum lagi ditambah dengan keakuratannya dalam mengirim assist ataupun mencetak gol melalui bola mati.

Pada musim 2014/15, Erkin melakoni 31 pertandingan di Super Lig Turki dan mencatatkan rata-rata 1.1 dribel dan 2.6 umpan kunci per pertandingan, plus mengemas tiga gol dan delapan assist. Sementara dalam 27 pertandingan bersama klub di semua ajang musim lalu, ia mengemas delapan assist dan satu gol. Catatan impresif yang juga membuat pelatih dengan attacking-minded, Jurgen Klopp, tertarik untuk mendatangkannya ke Anfield. 

Selain itu, ia juga menjadi salah satu andalan tim dalam mengeksekusi bola mati, baik tendangan penjuru ataupun tendangan bebas yang berpotensi membahayakan gawang lawan. Ia sudah memamerkan hal tersebut ketika menjebol gawang Olympiakos dalam laga uji coba dan ke gawang Antlyaspor dalam pertandingan liga.

Selain kualitas dalam menyerang, ia juga sangat diandalkan dalam bertahan, bagaimana Fenerbahce menggeser posisi Erkin dari gelandang kanan menjadi bek kanan pada 2010 menunjukkan pemain dengan tinggi 181 cm itu dipercaya ketangguhannya dalam mengawal lini belakang.

Rata-rata, Erkin melakukan 2.4 intersep, 2.1 tekel dan 1.5 sapuan dalam 31 pertandingan musim 2014/15 di kasta tertinggi sepakbola Turki.

Kepiawaian pemain yang lahir di Balikesir itu lahir dari segudang pengalaman bermain di setiap level kompetisi. Bersama Fenerbahce, ia tidak asing lagi dengan atmosfer Liga Europa - di mana Inter akan bersaing musim depan - ataupun Liga Champions. Bersama Turki, ia menjadi andalan di turnamen-turnamen major dan sudah melalui semua jenjang usia tim nasional sebelum menembus skuat senior.

Oleh karena itu, meski ia tidak banyak mendapatkan kesempatan bermain di Fenerbahce musim lalu karena alasan non-teknis, pelatih tim nasional Turki Fatih Terim mengaku masih mempertimbangkan Erkin sebagai andalan di Euro 2016.

Terim tentu memiliki alasan kuat, terlebih lagi, Erkin adalah salah satu pemain kunci Turki ketika meraih kemenangan krusial atas Belanda dalam babak kualifikasi Euro 2016. Saat itu, Erkin mencuri bola dari kaki lawan dan mengirim umpan silang yang dikonversi menjadi gol ketiga, sehingga mereka menang secara mengejutkan dengan skor telak 3-0.

Terim bahkan mengungkapkan penyesalan pada akhir masa jabatannya di Galatasaray pada 2013 silam. Sebelum, ia datang pada 2011, klub dilatih oleh Frank Rijkaard (yang kemudian diteruskan Gheorge Hagi), dan mereka memiliki Erkin dengan status pinjaman plus opsi pembelian namun klub memutuskan untuk tidak mempermanenkan sang pemain pada akhir musim 2010/11. Hal itu membuat Terim heran.

"Saya sangat terkesima bagaimana Caner bukan milik kita (Galatasaray). Periode (performa cemerlang Erkin) juga pada saat membela Galatasaray, tetapi manajemen dan tim teknis tidak menginginkannya. Apakah ada seseorang seperti Caner seharga tiga juta dollar?" ujar Terim.

Meski demikian, ada kelemahan yang ada dalam sosok Erkin, ia adalah pemain yang kurang memiliki disiplin sehingga tidak jarang merugikan tim dengan aksinya. Pada musim 2015/16, ia mengoleksi sembilan kartu kuning pada 27 laga di semua ajang, atau satu kartu kuning per satu pertandingan.

Lebih parah pada musim sebelumnya, ia mengoleksi 13 kartu kuning dan dua kartu merah pada 35 pertandingan di semua kompetisi. Yang paling masyhur adalah ketika Fenerbahce dipastikan kehilangan asa menjadi juara musim 2014/15 di markas Istanbul Basaksehir, saat itu klubnya mengakhiri laga dengan tujuh pemain, dengan Caner menjadi salah satu dari empat pemain yang diusir wasit, ia dikartu merah oleh sang pengadil karena melakukan protes berlebihan.  Total selama delapan setengah musim di Super Lig Turki - bersama Manisaspor, Galatasaray dan Fenerbahce- , ia mengoleksi 57 kartu kuning dan empat kartu merah.

Kemudian, dampak yang paling besar terjadi pada musim 2015/16 kemarin, Caner bersitegang dengan pelatih kepala Vitor Pereira saat mengetahui namanya tidak ada dalam daftar starting line-up menghadapi Galatasaray pada April silam, alhasil pelatih asal Portugal itu memutuskan untuk mengasingkannya dari skuat hingga akhir musim.

Tetapi, Roberto Mancini yang memiliki pengalaman melatih Mario Balotelli, tentu sudah memiliki cara untuk menghadapi tipe pemain seperti itu. Bahkan, Balo sendiri mengakui kapasitas Mancio dalam mengemong anak asuhnya, terutama kepada dirinya.

"[Saya paling banyak belajar dari] Mancini," ujar Balotelli kepada Goal. "Karena segala yang saya lakukan, baik atau buruk, dia memberitahu saya dan menjelaskannya. Dia lembut ketika harus lembut dan keras ketika harus keras."

Seperti yang diketahui, Balotelli adalah salah satu pemain paling bengal dan kontroversial baik di dalam dan di luar lapangan. Bahkan, Mancini dan Balotelli sempat nyaris bentrok fisik ketika berada di Manchester City, tetapi hubungan keduanya tetap baik.

Menarik untuk dinantikan, apakah tangan dingin Mancini mampu mengeluarkan performa terbaik Erkin di Internazionale. Bagaimanapun juga, setiap pemain akan membutuhkan adaptasi dan tidak akan mudah menampilkan performa puncak ketika baru tiba di sebuah kompetisi baru, seperti yang diutarakan legenda sepakbola Brasil, Roberto Carlos.

"Dia [Erkin] bagus, saya menyukai dia, tetapi kita harus melihat bagaimana dia beradaptasi di Italia," ujar pemain yang juga pernah berkostum Biru-Hitam itu. "Bermain di Serie A tidak sama dengan bermain di Turki."