CATATAN: Chelsea Dan Jose Mourinho Kena Batunya

Skema bertahan The Special One runtuh melawan tim yang secara sumber daya dan pengalaman berada di bawah The Blues.

CATATAN LIAM TWOMEY PENYUSUN DEWI AGRENIAWATI Saat menyaksikan timnya porak poranda di hadapan pendukung sendiri di Stamford Bridge, pikiran Jose Mourinho mungkin melayang, teringat kata-kata yang pernah diucapkannya sebelum pertandingan. “Tim yang tidak bertahan dengan baik tidak memiliki banyak peluang untuk menang. Tim yang tidak mencetak banyak gol berarti dalam masalah. Tim tanpa keseimbangan bukanlah tim,” tutur Mou dalam konferensi pers, menjawab kritik terhadap taktik ultra defensif yang diperagakan The Blues dalam beberapa pekan terakhir. Sistem parkir bus dan anti-sepakbola yang ramai diperbincangkan dalam beberapa pekan terakhir tampaknya membuat Mourinho jengah. Salah satu anak didiknya, Andre Schurrle bahkan menuding para pengkritik iri dengan sukses yang diraih tim London biru. Di tengah derasnya kritik terhadap sistem ultra defensif, Mourinho bergeming. Dia tetap menurunkan enam pemain bertahan saat meladeni Atletico Madrid di Stamford Bridge, dengan David Luiz dan Cesar Azpilicueta ditempatkan lebih ke depan. Tapi, kehidupan tak selalu berjalan sesuai rencana, pun dengan sepakbola. Taktik ini memang sukses membungkam Liverpool di Anfield pada laga Liga Primer akhir pekan kemarin. Namun nyatanya, The Blues harus menanggung malu di tanah sendiri setelah Los Rojiblancos sukses mempecundangi mereka.Chelsea sempat di atas angin saat Fernando Torres berhasil menjebol gawang Thibaut Courtois di menit 36. Tapi, dewi fortuna El Nino yang kerap menjadi jimat Chelsea di level Eropa tampaknya telah pudar. Tampil dengan menumpuk pemain di belakang memang pernah mengantar tim London Barat menyabet gelar Liga Champions 2012. Pola ini juga yang membuat mereka sukses membungkam tim Diego Simeone di Vicente Calderon pekan lalu. Tapi, bermain bertahan, yang belakangan menuai kontroversi, justru menjadi petaka buat Chelsea yang berpeluang nihil gelar musim ini. Di Stamford Bridge, tuan rumah gagal membuktikan bahwa bermain 'aman' adalah cara terbaik untuk menyerang. Saat papan skor menunjukkan 1-0 satu kaki Chelsea berada di final, tapi mereka butuh lebih dari satu gol untuk benar-benar mengunci tiket. Lini belakang The Blues akhirnya goyah di menit 44, ketika Tiago dibiarkan bebas men-chip bola ke tiang jauh sementara Eden Hazard tak berbuat banyak sehingga Juanfran mampu menjangkau si kulit bundar untuk diumpan kepada Adrian Lopez. Tak ada yang mengawal Adrian di depan gawang, sehingga dengan bebas dia melepaskan tembakan merobek gawang Mark Schwarzer.Dituntut mencetetak gol lebih banyak, Mourinho mulai melakukan perjudian dengan memasukkan Samuel Eto’o untuk menggantikan Ashley Cole. Ironi, striker veteran ini malah menjadi petaka buat timnya. Belum lama masuk ke lapangan, Eto’o melakukan pelanggaran terhadap Diego Costa di daerah terlarang. Meski sempat berlama-lama menempatkan bola sebelum mengeksekusi penalti, sepakan keras penyerang kelahiran Brasil sukses menaklukkan Schwarzer, sebelum akhirnya gol ketiga Arda Turan menjadi bukti sahih superioritas Atletico. Chelsea harus berkaca. Ini keempat kalinya secara beruntun Mourinho harus angkat kaki di semi-final Liga Champions. Skema bertahan The Special One runtuh melawan tim yang secara sumber daya dan pengalaman berada di bawah The Blues.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics