CATATAN: Chelsea Lupa Caranya Bertahan

Di balik produktivitas hebat Chelsea di gawang lawan, terselip kekhawatiran besar di lini belakang mereka. Bus Jose Mourinho sedang masuk bengkel?

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Masih teringat jelas dalam ingatan ketika Chelsea secara rutin mengaktifkan strategi bertahan total pada musim lalu. Sepakbola negatif, parkir bus, atau apalah sebutannya itu, manajer Jose Mourinho begitu gemar menempatkan 11 pemainnya di belakang bola.
Hasil akhirnya memang kerap berjalan mulus, namun juga tidak sukses-sukses amat. Yang paling memorable, tentu saja ketika Chelsea sukses mematahkan ambisi Liverpool menuju tangga juara Liga Primer Inggris pada April lalu. Kala itu, Chelsea mampu bertahan mati-matian. Dan dengan satu-dua serangan balik mematikan plus diwarnai terpelesetnya Steven Gerrard, dua gol berhasil dilesakkan The Blues untuk membungkam Anfield.
Di akhir cerita, Chelsea tetap gagal mencium trofi satu pun pada musim 2013/14 – musim pertama Mourinho melatih The Blues di masa jabatannya yang kedua. Namun, terdapat poin penting yang bisa dipetik dari strategi bertahan sepenuhnya tersebut, yakni koordinasi lini belakang yang digalang John Terry dan kawan-kawan saat itu berjalan jauh lebih baik ketimbang di musim 2014/15 ini.

Chelsea memang luar biasa di awal musim ini. Empat kemenangan dari empat laga awal EPL berhasil mereka raup seiring mereka juga sudah menemukan kepingan yang hilang dalam diri Diego Costa, penyerang anyar dari Atletico Madrid yang sudah merobek jala lawan sebanyak tujuh kali. Total, Chelsea sudah menggelontorkan 15 gol, paling produktif ketimbang tim EPL lain sekaligus menempatkan mereka sebagai penguasa klasemen.
Tim asal London Barat tersebut menjelma menjadi tim menakutkan lewat serangan-serangan dahsyat mereka dari segala lini. Sayap lincah, lini tengah kreatif, full-back full-attack, dan tentu saja seorang penyerang yang kalau kata Mourinho ‘tidak normal’. Statistik mencatat, Chelsea rata-rata membuat 20 tembakan per laga dengan delapan di antaranya tepat sasaran.
Sayang seribu sayang, di balik lini depan yang super mewah ini, Chelsea ternyata sudah kebobolan tujuh gol dari lima laga terkini dan hanya sekali clean sheet. Statistik juga merangkum, Chelsea rata-rata mendapat 11 tembakan per laga dari lawan. Padahal, musim lalu lini belakang Chelsea adalah yang terkuat di Inggris dengan hanya kemasukan 27 gol.
Terakhir, gawang Thibaut Courtois jebol di partai pembuka Liga Champions Grup G pada Selasa (16/8) kemarin sebagaimana Schalke sukses menahan imbang Chelsea 1-1 di Stamford Bridge. Gol Klaas-Jan Huntelaar yang lahir di menit 62 itu secara gamblang mendeskripsikan ringkihnya lini belakang Chelsea. Nemanja Matic dan Cesc Fabregas yang dipersiapkan Mourinho sebagai gelandang jangkar untuk menyaring serangan lawan ternyata tidak mampu menjalankan perannya dengan maksimal.
Justru Fabregas yang menjadi pemantik gol Schalke setelah gelandang Spanyol ini kehilangan bola dan tidak segera kembali ke posisinya – mirip dengan kejadian gol Burnley di partai pembuka EPL dan juga gol-gol yang dicetak Everton. Fabregas, yang disebut-sebut mampu berperan ganda sebagai gelandang bertahan dan gelandang serang, nyatanya lebih suka dengan perannya yang disebut terakhir.
Agresivitas Chelsea tak dibarengi dengan rapatnya pertahanan mereka.
Tak hanya Fabregas yang patut disalahkan. Oscar, Eden Hazard, atau Andre Schurrle yang biasanya membantu bertahan beberapa kali terlihat malas mundur ke belakang. Dua bek sayap, terutama Branislav Ivanovic, juga terlalu asyik menyerang. Gol penyama Huntelaar membuktikan jelas, Ivanovic terlambat melakukan kover di lini belakang ketika Schalke menyerang balik.
Semua hal tersebut membuat Terry dan Gary Cahill, sebagai duo bek sentral, sering menerima beban puncak. Ini tercermin dengan gol bunuh diri yang dilakukan Terry saat menjamu Swansea City. Pada akhirnya, kesalahan sang kapten termaafkan karena kebintangan Costa, sang pencetak hat-trick dalam laga yang berkesudahan 4-2 untuk Chelsea itu.
Peran Courtois juga bisa disorot. Mengingat ia baru pertama kali mendapat kesempatan bermain betulan di Chelsea di musim ini setelah dibeli pada 2011, kiper Belgia itu tentu belum cakap pengalaman dalam mengatur bek-bek di depannya seperti Petr Cech yang sudah satu dekade menjadi kiper nomor satu di Bridge.
Bakat dan kemampuan kiper berusia 22 tahun itu memang tak terbantahkan, tapi rotasi kiper bisa dijalankan Mou untuk membuat Courtois bisa melihat langsung seniornya melakukan koordinasi dengan back four-nya. Dengan demkian, pada pertengahan musim atau di musim-musim selanjutnya, Courtois sudah semakin siap dan matang.
Laga kontra Manchester City pada Minggu (21/9) besok jadi tes kepantasan lini belakang Chelsea.
Di atas segalanya, koordinasi buruk lini belakang ini harus dibenahi secepatnya mengingat ujian sulit Chelsea sudah menghadang di depan mata. Ya, Manchester City, sudah menanti mereka di Etihad pada Minggu (21/9) esok.
Meski dalam tiga laga terakhir City belum merasakan kemenangan (dua kali kalah dan sekali seri), sang juara bertahan EPL itu tetaplah sekumpulan grup yang begitu berbahaya ketika menyerang. Tembakan dan dribel kencang Sergio Aguero, umpan-umpan brilian David Silva, hingga tandukan maut Vincent Kompany, sudah lebih dari siap untuk mengeksploitasi lini belakang Si Biru.
Suporter Chelsea boleh berkilah: asalkan menang, lini belakang bukan urusan. Tetapi, gejala-gejala para pemain untuk menyepelekan urusan belakang itu sudah terlihat jelas. Setelah musim lalu menjadi "kuda kecil" -- meminjam istilah dari Mourinho, Chelsea sepertinya akan sulit bertransformasi menjadi kuda dewasa yang tangguh seandainya mereka masih lupa caranya bertahan, sesuatu yang menjadi kekuatan utama mereka di musim lalu.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics