CATATAN: Divisi Utama 2015 Rawan Pengaturan Skor

Perubahan kebijakan di kompetisi Divisi Utama bukan sekadar perubahan matematis, tapi juga perubahan pola pikir insan sepakbola Indonesia.

OLEH SIHAR SITORUSKongres tahunan PSSI pada Minggu, 4 Januari 2015, memutuskan pelaksanaan kompetisi Divisi Utama (DU) 2015 diikuti 58 klub yang dibagi ke dalam enam grup. Dengan kebijakan baru, klub yang akan terdegradasi akan lebih banyak karena peringkat enam hingga sembilan atau sepuluh masing-masing grup, akan otomatis tereliminasi.
Peringkat pertama dan kedua masing-masing grup akan lolos ke babak 12 besar. Peringkat ketiga hingga kelima akan bertahan di DU musim depan (2016). Tim yang akan tereliminasi sebanyak 30-an klub. Sementara, peserta DU 2016 dikerucutkan menjadi hanya 36 klub. Kebijakan baru ini berbeda jauh dengan aturan kompetisi DU 2014. Pada DU 2014 yang diikuti 64 klub dan dibagi dalam delapan grup. Peringkat pertama dan kedua dinyatakan lolos ke babak 12 besar. Dua peringkat terbawah dinyatakan terdegradasi ke liga amatir.
Perubahan kebijakan ini bukan sekadar perubahan matematis, tapi juga perubahan pola pikir insan sepakbola Indonesia. Fans suatu klub selalu menginginkan klub kesayangannya memenangkan setiap pertandingan, tapi suatu kompetisi bakal makin menarik apabila hasil pertandingan tidak dapat ditebak hasilnya.
Kebijakan baru ini mengubah aksioma yang telah menjadi pegangan pecinta sepakbola di dunia. Lima dari sepuluh tim otomatis terdegradasi, itu berarti probabilitasnya 50:50. Suatu probabilitas yang mendekati suatu kepastian. Kepastian ini dapat diraih dengan Faktor X agar suatu klub tidak terdegradasi. Maka tak heran, Faktor X yang akan terjadi dapat berupa praktek jual beli pertandingan, pengaturan skor, sepakbola gajah, dan lain-lainnya.
Sebagai ilustrasi, setelah sembilan kali pertandingan atau putaran pertama selesai, kita akan mengetahui siapa lima terbawah dan dapat meramalkan dengan akurasi yang tinggi siapa yang akan terdegradasi di akhir putaran kedua. Dengan demikian, tujuan berkompetisi kehilangan maknanya. Lebih parahnya, probabilitas untuk masuk ke putaran 12 besar jauh di bawah probabilitas degradasi. Dengan demikian, pola pikir yang berkembang adalah bagaimana suatu tim tidak terdegradasi. Berbagai cara persiapan tim dilakukan sebaik mungkin agar mereka tidak terdegradasi, bukan untuk menjadi juara. Alhasil, terjadilah degradasi pola pikir. Kompetisi Divisi Utama rawan pengaturan skor.
Dengan tidak jelasnya tujuan berkompetisi, berdampak seperti yang dikatakan sekjen PSSI merangkap CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono, dalam kongres PSSI, 4 Januari. Bahwa kompetisi DU 2014 nilai komersialnya nol, sama sekali tak ada revenue. Akibatnya, PT Liga merugi. Padahal, PT Liga telah mengalokasikan anggaran Rp19 miliar untuk memutar DU. Tapi, bagaimana mungkin sebuah liga profesional, yang diikuti oleh klub-klub professional, nilai komersialnya nol? Jika pun benar nilai komersial nol, tentu karena kompetisi itu tidak menjanjikan bagi sponsor. Mengapa? Karena kompetisi didesain bukan dengan prinsip kompetisi yang fair play, di mana klub bersaing menjadi yang terbaik dan hasil kompetisi adalah random (hasil akhir tidak diketahui hingga akhir kompetisi).
Tentunya tidak mengherankan apabila sponsor tidak mau mengeluarkan dana, dan lebih parahnya klub harus menanggung beban biaya besar berkompetisi padahal hasilnya sudah diketahui pada putaran pertama. Akibatnya, suatu kewajaran apabila DU tidak menghasilkan uang bagi klub maupun liga. Muncul pertanyaan, apakah kebijakan baru ini akan membuat kompetisi DU menjanjikan bagi sponsor? Menurut Joko, dengan peserta kompetisi DU yang ramping akan membuat kompetisi itu lebih kompetitif dan lebih baik. Alasan inilah yang membuat PSSI melahirkan kebijakan baru terkait promosi dan degradasi itu. Kita tentunya sepakat bahwa kompetisi Indonesia Super League (ISL) boleh dikatakan ramping dengan diikuti 18 klub peserta. Oleh karenanya nilai komersialnya tinggi. Sungguh disayangkan fakta berbicara lain. Nilai komersial ISL belum sanggup memberikan bantuan dana yang memadai bagi banyak klub pesertanya guna menanggung gaji pemainnya. Apakah kita yakin Divisi Utama yang ramping dengan kualitas yang lebih rendah dari ISL akan memberikan nilai komersial yang tinggi? Apabila PSSI maupun PT Liga hendak merampingkan peserta kompetisi DU sangatlah mudah tanpa merusak semangat berkompetisi itu sendiri. Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) sudah memberikan solusi berupa lima aspek lisensi klub profesional, yang wajib diterapkan oleh klub profesional di bawah naungan anggota konfederasi.
Perlu diingat, AFC sejak 2008 telah menetapkan agar klub-klub profesional di Asia (termasuk Indonesia) wajib memenuhi lima aspek klub profesional. Dengan demikian, lisensi klub profesional bukanlah hal yang baru bagi klub-klub DU. Hal yang baru adalah apabila klub peserta tidak dapat menebak siapa yang terdegradasi atau yang juara kompetisi DU 2015.
*Penulis adalah pengamat sepakbola

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.