CATATAN Eredivisie Belanda: Pergulatan Frank De Boer Melawan Realitas

Keputusan Frank de Boer bertahan sebagai pelatih merupakan persiapan yang baik bagi Ajax Amsterdam.

OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter

Ajax Amsterdam boleh jadi kehilangan gelar juara Eredivisie Belanda musim ini, tapi keputusan Frank de Boer bertahan sebagai pelatih memberi mereka langkah yang baik untuk awal musim depan.

Ajax menghadapi PSV Eindhoven, Minggu (1/3) malam ini, dengan kondisi tertinggal 14 poin dan sisa sepuluh pertandingan. PSV dalam tren yang positif. Mereka membukukan 11 kemenangan beruntun. Jika mampu menjaganya dalam lima pertandingan selanjutnya, gelar landskampioen dipastikan menjadi milik PSV.

Setelah merebut empat kali landskampioen secara beruntun, ini bukan musim terbaik De Boer bersama Ajax. De Boer menangani Ajax sejak akhir 2010 dan sejak itu pula Ajax dibawa sukses merajai Eredivisie dari musim ke musim. Prestasi De Boer bahkan tidak pernah dilakukan para pelatih legendaris seperti Rinus Michels atau Louis van Gaal.

Apa yang menjadi penyebab mandeknya langkah Ajax musim ini? Ada beberapa faktor. Pertama, masalah cedera yang menimpa beberapa pemain kunci. Kedua, masalah non-teknis seperti tanda tanya masa depan De Boer yang sempat mengutarakan niat hijrah ke luar Belanda pada akhir musim.

Ketiga, masalah terbesar De Boer dan Ajax adalah agenda restrukturisasi tim yang tak berkesudahan dari musim ke musim. De Boer selalu mengawali musim dari titik nol. Kemasyhuran Ajax sebagai pencetak pemain muda berbakat kerap menjadi bumerang bagi diri sendiri. Kekuatan terbaik mereka senantiasa dilucuti klub-klub top Eropa sehingga meninggalkan sejumlah lubang dalam skema taktik De Boer.

Lihatlah daftar pemain yang hijrah dari Ajax dari musim ke musim. Mulai dari Urby Emanuelson dan Luis Suarez, yang merupakan dua pemain pertama yang dilepas Ajax dalam era kepelatihan De Boer, hingga Daley Blind dan Siem de Jong di awal musim ini. Beberapa pemain baru didatangkan guna menjadi pengganti sepadan, tapi tak seluruhnya memberi jawaban memuaskan.

De Boer dan direktur olahraga Marc Overmars tentu tak tinggal diam. Untuk urusan perekrutan pemain internasional, mereka menerapkan kebijakan "harga serendah-rendahnya dan kualitas setinggi-tingginya". Tapi, pertanyaannya, apakah harga yang rendah bisa menjamin kualitas yang tinggi? Christian Poulsen dan Niki Zimling tidak dapat menjawabnya. Begitu pula dengan peminjaman Bojan Krkic dan Isaac Cuenca dari Barcelona.

Prinsip yang sama diterapkan juga di pasar domestik. Contohnya, dua musim lalu, Ajax melepas peluang mendatangkan Adam Maher. Pemain incaran itu akhirnya memilih PSV karena Ajax tak kunjung sepakat soal banderol transfer dengan AZ Alkmaar. Saat itu, Ajax mencari pengganti Christian Eriksen. Maher dipastikan gagal, Lerin Duarte yang diboyong dari Heracles Almelo. Kini, Duarte dipinjamkan ke SC Heerenveen hingga akhir musim.

Anda boleh mempertanyakan kemampuan De Boer dalam mengelola perekrutan tim dan kebijakan manajemen klub tak banyak membantu. Namun, siasat teknik De Boer adalah salah satu yang terbaik di Eredivisie. Jika tak menyebutnya sebagai yang terbaik.

Posisi gelandang bertahan Ajax adalah enigma terbesar De Boer. Dalam mazhab sepakbola Belanda, posisi ini kerap disebut sebagai posisi "No.6". Vurnon Anita dan Daley Blind berposisi sebagai full-back sampai akhirnya dialih fungsikan De Boer menjadi No.6. Ada kecenderungan pula De Boer bakal menjadikan Jairo Riedewald sebagai penerus mereka. Riedewald berposisi natural sebagai bek kiri.

Apa yang mendorong De Boer akhirnya memutuskan bertahan di Ajax?

"Saya rasa Ajax butuh kejelasan dan begitu pula dengan saya. Ajax punya fondasi yang bagus. Saya melihatnya dengan berbagai perspektif. Banyak pemain muda mengantungi kontrak jangka panjang dan saya merasa tugas saya belum selesai," tukasnya.

Pembaharuan nilai kontrak tidak hanya menyertakan pemain skuat utama seperti Anwar El Ghazi, misalnya, tetapi juga menjangkai para pemain muda di skuat junior. Abdelhak Nouri dan Donny van de Beek adalah dua nama yang perlu Anda ingat. Selain Vaclav Cerny, mereka adalah calon bintang Ajax di masa datang.

Satu-satunya ganjalan adalah pembicaraan kontrak baru Ricardo Kishna yang tak kunjung menunjukkan hasil. Apalagi ucapan provokatif agen Mino Raiola tak banyak membantu. Selain itu, Ajax mungkin perlu belajar mengambil langkah tegas seperti yang dilakukan pula oleh PSV dan Feyenoord Rotterdam ketika menahan (atau lebih tepatnya menunda) kepergian pemain andalan seperti Memphis Depay dan Jordy Clasie.

Setiap musim, nama-nama baru terus dicetak Ajax dan diperkenalkan menjadi calon bintang sepakbola masa depan. Keputusan De Boer bertahan memberi jaminan rantai itu takkan terputus. Namun, keputusan De Boer bertahan tak dapat dinilai semata-mata hanya dari sisi emosional.

Kompetisi antarklub Eropa menjadi enigma terbesar yang dihadapi De Boer. Sudah semestinya De Boer dan Ajax naik kelas. Sudah sangat pantas bagi mereka untuk tak lagi memikirkan cara bagaimana mengejar atau mempertahankan gelar domestik dari musim ke musim. Ingat, sudah 20 tahun berlalu sejak kejayaan terakhir Ajax di pentas Eropa.

Empat musim terakhir, empat kali pula secara beruntun Ajax gagal lolos dari fase grup Liga Champions. Terlempar ke Liga Europa, prestasi Ajax tak lebih baik. Mereka tidak pernah mampu melangkah hingga babak delapan besar. Kegemilangan domestik rupanya tidak cukup memberikan Ajax daya saing di tingkat regional.

Ambisi itu bukannya tidak dimiliki De Boer.

"Jika semuanya berjalan baik, kami mampu mencapai final," ujarnya usai hasil undian babak 16 besar Liga Europa, Jumat lalu, yang mempertemukan Ajax dengan wakil Ukraina, Dnipro Dnipropetrovsk.

Ambisi tertinggi tentu saja adalah berprestasi di Liga Champions. Dengan kondisi persaingan klub-klub Eropa saat ini, memang sulit bagi Ajax menyamai prestasi mereka 20 tahun lalu. Tapi, melihat bagaimana PSV dan Feyenoord terhenti di 32 besar Liga Europa, Ajax kini menjadi harapan terdepan Belanda apalagi dengan pengalaman yang telah dikantungi De Boer.

Dengan menyatakan bertahan menangani Ajax setidaknya hingga musim depan, De Boer telah mencegah kemungkinan restrukturisasi yang lebih besar bagi klub berjuluk Godenzonen itu.

Dalam uraian penulis dan filsuf Prancis, Albert Camus, mitos Sisifus mencerminkan realitas kehidupan manusia. Meski sadar dengan hukuman yang ditimpakan para dewa kepada dirinya, dia tetap mengulang-ulang upaya mendorong batu besar ke puncak gunung. Padahal, akhir cerita akan selalu sama. Batu itu selalu menggelinding sebelum tiba di puncak.

Musim depan, De Boer akan kembali berupaya mendorong batu yang sama ke puncak.

addCustomPlayer('u2wjt2vbhosf1cz4captouqjq', '', '', 620, 540, 'perfu2wjt2vbhosf1cz4captouqjq', 'eplayer4', {age:1407083473877});

Topics