CATATAN: European Super League Akan Membunuh Sepakbola

Wacana pembentukan kompetisi berformat tertutup European Super League jadi perdebatan hangat dalam beberapa hari terakhir. Jika terwujud, ini bisa menandakan kematian sepakbola.

OLEH    CARLO GARGANESE      PENYUSUN   DEDE SUGITA       

Siapa sih Charlie Stillitano? Ia adalah orang Amerika yang dapat menghancurkan sepakbola, the beautiful game yang kita cintai, dengan menciptakan European Super League yang hanya terbuka bagi kelompok “elite”. Rencananya tak boleh dibiarkan berjalan.

Awal pekan ini, chairman Chelsea Bruce Buck, Ivan Gazidis sang CEO Arsenal, Ed Woodward selaku wakil presiden eksekutif Manchester United, ketua eksekutif Manchester City Ferran Soriano, dan ketua eksekutif Liverpool Ian Ayre menggelar pertemuan dengan para representatif dari Relevent Sports di Hotel Dorchester, London.

Secara resmi tujuan pembicaraan tersebut adalah mendiskusikan turnamen pramusim tahunan International Champions Cup (ICC) kreasi Relevent Sports, yang melibatkan klub-klub top Liga Primer Inggris pada setiap musim panas. Namun, kemudian terkuak bahwa dalam pertemuan tersebut juga dibahas wacana pembentukan European Super League, yang secara efektif bakal menggantikan Liga Champions dan hanya menampung tim-tim elite Eropa.

Meski kabar ini disangkal oleh klub-klub tersebut di atas, dan terutama oleh Arsenal, Stillitano selaku chairman Relevent Sports kini mengonfirmasikan memang ada diskusi soal “merestrukturisasi Liga Champions” yang akan menggaransi partisipasi klub-klub terbesar dan terpopuler di Benua Biru.

Stillitano menjelaskan kompetisi yang dimaksud cuma akan melibatkan tim-tim yang menghasilkan uang paling banyak dan memiliki fan base terbesar, sementara klub-klub “lebih kecil” seperti halnya pemuncak klasemen sementara Liga Primer Leicester dan raksasa Eredivisie Belanda PSV Eindhoven tak akan diundang.

“Kira-kira apa argumen Manchester United: kami yang menciptakan soccer atau Leicester yang melakukannya?” ucap Stillitano kepada stasiun radio AS, SiriusXM .

“Anggaplah pot uang diciptakan oleh soccer dan para fans di seluruh dunia. Siapa yang memiliki peran lebih integral [dalam hal itu], Manchester United atau Leicester?”

“Saya pikir mereka memang tidak memiliki hak lahir untuk berada di kompetisi tersebut [Liga Champions] setiap tahun namun ini merupakan argumen lawas: franchise olahraga AS versus yang mereka punya di Eropa. Ada elemen yang sangat, sangat, sangat luar biasa dalam promosi dan degradasi tetapi ada juga argumen bagus untuk sistem tertutup.”

“Ini akan terdengar arogan meskipun sebenarnya jauh sekali dari itu… tapi tiba-tiba ketika Anda melihat tim-tim yang kami punya di ICC Anda akan menggelengkan kepala dan bilang, ‘Ini bukannya Liga Champions?’ Bukan, Liga Champions adalah PSV kontra Gent.”

Bagi kaum tradisionalis dalam olahraga ini, usulan Stillitano mewakili ketukan palu terakhir untuk peti mati sepakbola. Dalam dua dekade terakhir muncul rasa frustrasi yang terus tumbuh seturut perkembangan sepakbola yang juga merefleksikan situasi di masyarakat. Setiap tahun yang kaya jadi semakin kaya, yang kuat semakin kuat, dan sekelompok kecil “klub super” mendominasi 99 persen klub lainnya – di level finansial maupun keolahragaan.

Juventus dalam trek untuk merengkuh Scudetto kelima beruntun, Bayern Munich berpeluang menjuarai Bundesliga untuk kali keempat berturut-turut, titel Ligue 1 keempat secara konsekutif sudah di depan mata Paris Saint-Germain sementara, terkecuali kejutan besar Atletico Madrid pada 2014, trofi La Liga sejak 2004 hanya menjadi milik Barcelona dan Real Madrid.

Tak beda jauh, Liga Champions melahirkan semi-finalis yang itu-itu saja setiap musim. Juara bertahan Barcelona telah mencapai minimal empat besar dalam tujuh dari delapan edisi terakhir. Real Madrid selalu maju ke semi-final di lima kampanye ke belakang, dan Bayern Munich hanya sekali gagal menembus empat besar sejak 2009/10 – mencapai final tiga kali.

Bicara liga-liga domestik top Eropa, hanya di Liga Primer – sebagian berkat uang hak siar televisi yang merata – tim-tim semenjana bisa benar-benar menggenggam harapan untuk menggoyang kemapanan di papan atas. Musim ini Leicester City berpeluang menyajikan kisah dongeng sepakbola terhebat sepanjang sejarah permainan ini. Dalam waktu kurang dari setahun, The Foxes menjelma dari tim yang hampir pasti terdegradasi menjadi kandidat tulen jawara EPL dengan sepuluh pekan tersisa.

Sampai era 1990-an, ketika pebisnis seperti Stillitano mulai menginvasi olahraga ini, cerita-cerita seperti yang ditulis Leicester cukup sering ditemui. Nottingham Forest tenar dengan lesatan mereka dari kasta kedua sepakbola Inggris menuju tangga juara Piala Champions dalam tempo dua tahun, dan mempertahankan trofi Eropa tersebut semusim kemudian.

Ada sembilan juara berbeda di Piala Champions sebelum 1992, berasal dari delapan negara. Negara-negara yang sekarang dianggap sebagai liga feeder seperti Rumania, Yugoslavia (kini Serbia), serta Belanda, yang menelurkan klub-klub legendaris seperti Steaua Bucharest, Red Star Belgrade, hingga Ajax Amsterdam.

Pada 1980-an, Aston Villa, Everton, Real Sociedad, Athletic Bilbao, Hamburg, Stuttgart, dan Werder Bremen sukses menjuarai liga domestik (plus beberapa trofi Eropa). Serie A punya kampiun berbeda selama tujuh musim beruntun dari 1985 hingga 1991, termasuk “cerita Cinderella” tatkala klub kecil Hellas Verona memenangi Campionato.

Inilah makna penting sepakbola dan olahraga pada umumnya. Mesti ada perbedaan dan kesempatan setara bagi semua tim dan klub-klub kecil seperti Leicester seharusnya “boleh” bermimpi dapat menantang tim-tim adidaya tradisional.

Amerika Serikat, tempat Stillitano lahir dan tinggal, berusaha memproklamirkan diri sebagai lahan kesempatan. Definisi penulis Amerika James Truslow Adams tentang jargon American Dream pada 1931 adalah “kehidupan seharusnya bisa lebih baik dan lebih kaya dan lebih penuh untuk semua orang, dengan kesempatan bagi tiap-tiap orang tergantung kemampuan dan pencapaiannya.”



Stillitano jelas bukan penyokong etos ini karena yang dicetuskannya adalah monarki sepakbola di mana kalau Anda bukan bagian dari garis keturunan para elite, Anda tak akan diberikan kesempatan untuk menggapai sukses.



Pada kenyataannya, ini berarti klub-klub yang tidak menghasilkan finansial raksasa dianggap tidak berguna oleh mereka yang mengklaim mengelola olahraga untuk kebaikan fans. Ini artinya tak hanya tim-tim semenjana seperti Leicester yang bakal ditumbalkan, melainkan juga klub-klub besar dengan sejarah panjang dan harum seperti Ajax, Anderlecht, dan Benfica, yang tidak cukup beruntung untuk bisa menjadi tim superpower nan tajir saat ini.

Stillitano mengklaim Leicester tak menciptakan soccer , alias football , sambil secara konyol mengindikasikan Manchester United-lah yang melakukannya – meskipun mereka cuma memenangi dua titel liga dalam 63 tahun pertama sepakbola Inggris.

Mungkin si orang Amerika itu butuh pelajaran sejarah. Saat ia mengerdilkan PSV Eindhoven dengan mempertanyakan hak mereka untuk bahkan berpartisipasi di Liga Champions, ia sejatinya berbicara tentang sebuah klub yang menjuarai Piala Champions dan merengkuh treble 1988 di bawah Guus Hiddink dan mengangkat Piala UEFA sepuluh tahun sebelumnya. Jelas sekali ia menginginkan klub-klub dengan sejarah sepakbola “kaya” seperti Chelsea, Manchester City, dan Paris Saint-Germain untuk berkompetisi di European Super League gagasannya.

Janganlah kita berpura-pura bahwa European Super League ini mencari hal lain di luar uang dan kekuasaan. Rilis terkini Deloitte Football Money League, yang menyusun pemeringkatan serta analisis klub-klub berpenghasillan tertinggi di dunia, menunjukkan potensi keuntungan supermegah oleh klub-klub top. Tiga tim terkaya di planet ini – Real Madrid, Barcelona, dan Manchester United – secara total meraup lebih dari €1,5 miliar musim lalu!

European Super League akan mengangkat nominal tersebut ke level yang bahkan lebih gila lagi. Pemikiran bahwa uang mendatangkan kebahagiaan adalah tipu muslihat terbesar dari setan, padahal uang hanya akan mendatangkan keserakahan yang lebih dan lebih lagi.



“Orang-orang harus memikirkan tentang keinginan fans, bukan hanya tentang uang,” demikian komentar tajam manajer Leicester Claudio Ranieri dalam sesi konferensi pers pada Jumat (4/3) kemarin. “Karena kultur dan fans jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.”

Sepakbola sudah memiliki masalah masif dengan sekelompok kecil klub yang memonopoli semua pemain terbaik, titel, dan uang. Dengan membentuk turnamen berformat tertutup European Super League, alih-alih menanggulangi, kita justru akan mencapai point of no return dalam problema tersebut.