CATATAN: Liga Primer Inggris Bakal Degradasikan Liga Champions

Kontrak anyar hak siar EPL yang disepakati oleh Sky dan BT Sport bukan hanya menjadi kabar buruk bagi liga-liga lainnya, tetapi juga bagi sebuah kompetisi termewah milik UEFA.

OLEH KRIS VOAKES PENYUSUN SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Diresmikannya kesepakatan senilai €6,9 miliar (£5,1 miliar atau hampir Rp100 triliun) untuk hak siar terbaru Liga Primer Inggris musim 2016/17 hingga 2018/19, telah mengakhiri segala perdebatan tentang sebuah daya tarik bernama sepakbola. Jumlah raksasa itu mengantarkan olahraga terpopuler di dunia itu naik ke level baru, persis di saat tren ekonomi global sedang mengalami resesi.
Meski demikian, kontrak anyar bernilai fantastis tersebut sama sekali bukan kabar baik bagi seluruh pihak yang terlibat dalam sepakbola. Bandingkan saja, di saat Liga Primer berharga €12 juta per laganya, liga-liga top Eropa lainnya masih sangat kesulitan mengejar angka selangit itu.
Dan yang paling pahit, kompetisi sebesar dan seprestisus Liga Champions ternyata juga harus kalah telak dari EPL. Meski namanya terus terangkat setelah perubahan format sejak 1992, kompetisi elite Eropa tersebut terasa dikerdilkan, terutama setelah melihat jumlah uang hadiah (prize money) yang disediakan, yang memang kebanyakan diambil dari hak siar.
Mari berhitung. Hak siar terbaru Bundesliga Jerman berharga €2,5 miliar untuk empat musim atau €628 juta per musim, sedangkan EPL mengumpulkan duit €2,3 miliar semusim. Artinya, pendapatan per musim Bundesliga dari hak siar hanya kurang 30 persen dari EPL. Untuk liga lainnya, La Liga Spanyol mengumpulkan €755 juta per musim (33 persen dari EPL), sedangkan Serie A mencapai €846 juta per musim (37 persen dari EPL).
Mulai musim 2016/17, sebuah laga Liga Primer Inggris bisa memiliki harga siar €12 juta.
Jika dihitung lebih teperinci, angka-angka tersebut lebih besar dari uang hadiah yang bisa disediakan UEFA di Liga Champions. Real Madrid, yang sukses merengkuh La Decima pada 2014 kemarin, hanya mendapat hadiah sebesar €57,4 juta. Padahal, di Spanyol mereka sukses mendapat €140 juta hanya dari hak siar saja. Ini karena Madrid dan Barcelona memang mendapat perlakuan istimewa di La Liga terkait hak siar.
Ambil contoh lain, Chelsea, yang mampu mendapatkan €112,9 juta setelah finis di urutan ketiga EPL. Ketika mereka melaju ke semi-final Liga Champions musim lalu, The Blues hanya memperoleh €43,4 juta. Namun, sekalipun Chelsea musim lalu menjadi juara Eropa, jumlah uang yang didapatkan di Liga Champions tak akan sampai 50 persen dari bonus yang mereka terima di EPL.
Namun statistik yang lebih memilukan adalah, prize money dari keberhasilan Madrid menjuarai Eropa tersebut ternyata masih lebih sedikit €20 juta dari uang yang diterima oleh Cardiff City, tim peringkat buncit EPL musim lalu. Bisa dipastikan, selisih tersebut semakin lama bakal semakin melebar jaraknya.
Jika kontrak baru EPL itu sudah berjalan, maka sebuah klub yang terdegradasi ke divisi Championship memiliki prize money tiga kali lebih banyak ketimbang klub pemenang Liga Champions! Ya, sebuah kompetisi klub paling bergengsi di dunia sepakbola bakal kalah mewah dibandingkan dengan tim-tim semenjana yang bertengger di papan bawah EPL. Inggris dan Eropa semakin mengalami kesenjangan.

Chief Executive EPL, Richard Scudamore, menggarisbawahi bahwa hak siar televisi ini memang memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pendapatan klub. “Uang tersebut kemudian bisa diinvestasikan oleh klub untuk bisa menampilkan sebuah pertandingan semenarik mungkin,” ujarnya.
Prinisp ada gula ada semut lantas berlaku. Iming-iming uang yang sedemikian banyaknya ini sudah pasti akan memancing para pemain terbaik di seluruh penjuru dunia untuk berkumpul semuanya di Inggris. Tak lama lagi, titel Liga Primer akan lebih bergengsi ketimbang trofi Liga Champions.
Hasil terbaru Deloitte Football Money League menunjukkan, 14 klub EPL mampu menembus daftar 30 besar klub dengan pendapatan tertinggi di dunia. Maka, kontrak baru hak siar tersebut nantinya hanya akan membuat klub-klub Inggris semakin dominan secara finansial.
Direktur korporat Sky TV Graham McWilliam menjelaskan mengapa perusahaannya lebih memilih lebih mengejar EPL ketimbang Liga Champions. “Keputusan yang tepat untuk tidak mengejar Liga Champions. Uang sebesar £300 juta hanya bisa menjamin 26 laga yang memainkan tim Inggris. Maka Liga Primer lebih berharga untuk fans,” tulis McWilliam dalam akun Twitter-nya.
Bukan tak mungkin Lionel Messi berkiprah di EPL pada beberapa tahun ke depan seiring perputaran uang terbesar sepakbola Eropa kini mengarah sepenuhnya ke Inggris.
Meski kebanyakan klub-klub besar non-Inggris tetap memprioritaskan untuk bisa tampil di Liga Champions, tak bisa dimungkiri klub-klub tersebut juga mengejar uang sebesar yang diterima klub-klub EPL. “Kami punya masalah serius. Kami akan kehilangan nilai di pasaran karena EPL akan mengambil jatah terbanyak dari hak siar televisi,” terang Javier Tebas, presiden La Liga, kepada BBC.
Di saat kompetisi mendapat jatah kue hak siar itu semakin ketat, maka gengsi Liga Champions bakal tergerus dan terlupakan. Klaim UEFA bahwa kompetisinya ini adalah satu-satunya tempat di mana tim dan pemain terbaik berkumpul perlahan mulai tak berlaku.
Waktunya akan tiba ketika EPL memiliki kemampuan finansial terkuat untuk bisa membuat para pemain terbaik di dunia tergiur setiap pekannya, bermimpi untuk berkarier dan mendapat gaji besar di Inggris. Dan ketika itu terjadi, Liga Champions berisiko terdegradasi menjadi kompetisi kasta kedua.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.